Bab IV (bagian ketiga)

Β±1.600 kata, sekitar 8 menit baca
πŸ‘οΈ 0 tayangan

AKU mendarat aman di hamparan genting yang longgar dan curam itu, lalu merayap menuju skylight yang menganga tanpa tergelincir. Ketika menengok ke jendela yang kutinggalkan, ruangan itu masih gelap.

Namun jauh di sisi utara, di balik cerobong-cerobong yang rapuh, aku melihat cahaya yang menyala terang di Gedung Order of Dagon, di gereja Baptis, dan di gereja Kongregasionalβ€”tempat-tempat yang sudah membuat tubuhku merinding sejak pertama kali kulihat.

Halaman di bawah tampak kosong, dan aku berharap bisa meloloskan diri sebelum ada alarm besar. Kutarik senter kecil dan mengarahkan cahayanya ke dalam skylightβ€”di bawah tidak ada tangga. Namun jaraknya tidak terlalu jauh, jadi kupanjat sisi bukaan itu dan melompat turun. Aku mendarat di lantai berdebu yang dipenuhi kotak dan barel lapuk.

Tempat itu tampak menyeramkan, tetapi pikiranku telah melewati batas rasa takut semacam itu. Aku langsung mencari tangga dengan bantuan senterβ€”tak lupa menengok jam sebentar. Pukul dua dini hari.

Anjlokan tangga berderit, tetapi masih cukup kuat, dan aku meluncur melewati lantai dua yang luas dan kosong menuju lantai dasar. Kesunyian total, hanya gema langkahku sendiri yang menjawab.

πŸ“–

Mau Lanjut Baca?

Kamu sudah mencapai batas bebas baca 3 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.

PREV πŸ”’ πŸ”’ NEXT

πŸ“ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×