Bab II (bagian kedua)
Di lobi hotel yang kumal itu hanya ada satu orang tua—yang, syukurlah, tidak memiliki “tatapan Innsmouth” yang kini mulai bisa kukenali. Aku memilih untuk tidak mengganggunya dengan pertanyaan. Keanehan telah lama dikaitkan dengan hotel ini, dan aku tak ingin memancing hal yang tidak perlu.
Aku keluar menuju alun-alun yang sepi itu dan memperhatikan sekeliling dengan hati-hati.
Satu sisi lapangan batu itu menghadap sungai; sisi lainnya dikelilingi rentetan bangunan bata beratap melandai dari awal 1800-an. Dari salah satu ruas jalan, aku melihat papan sebuah toko First National, restoran muram, toko obat, hingga kantor penjual ikan grosir. Di ujung timur dekat sungai, berdiri kantor satu-satunya industri kota ini: Marsh Refining Company.
Sekelilingku hanya ada segelintir orang, serta beberapa mobil tua. Ini pasti pusat kota Innsmouth—jantung yang berdetak lemah.
Ke arah timur tampak sekilas pelabuhan, di latar belakangnya tiga menara gereja bergaya Georgia yang indah namun membusuk. Di tepian seberang sungai, aku melihat belfry putih yang sepertinya milik kilang Marsh.
Entah mengapa, langkahku kemudian menuju toko bahan makanan rantai nasional—tempat yang kukira pegawainya bukan orang asli Innsmouth. Benar saja, hanya ada seorang anak laki-laki sekitar tujuh belas tahun. Sikapnya cerah dan ramah—sesuatu yang terasa bagai cahaya lilin di ruang gelap.
Ia sangat ingin berbicara, mungkin karena bosan hidup di kota berbau amis dan penuh tatapan mencurigakan ini. Ia berasal dari Arkham, menumpang tinggal di rumah keluarga dari Ipswich, dan pulang setiap ada waktu. Orang tuanya benci ia bekerja di Innsmouth, tapi ia tak mau kehilangan pekerjaan.
Ia mengatakan tidak ada perpustakaan atau kantor dagang di Innsmouth—akan tetapi aku bisa menjelajah kota jika mau.
Jalan yang tadi kulewati bernama Federal. Di baratnya terdapat jalan-jalan pemukiman tua yang indah; Broad, Washington, Lafayette, Adams. Di timurnya terdapat kawasan kumuh pesisir.
Di sanalah, katanya, aku akan menemukan gereja-gereja Georgia yang telah lama mati.
Namun ia memperingatkan agar aku tidak terlalu mencolok—terutama di utara sungai. Ada penduduk yang sumbu emosinya lebih pendek daripada peradabannya. Beberapa orang asing bahkan pernah hilang.
Ada area-area yang nyaris terlarang. Jangan berkeliaran dekat kilang Marsh—juga jangan dekat gereja-gereja yang masih digunakan, dan terutama jangan dekat Balai Order of Dagon di New Church Green.
Gereja-gereja itu aneh—ritualnya tidak diakui gereja resmi mana pun, dan memakai jubah upacara yang membuat bulu kuduk berdiri. Ajarannya kabur dan asing—melibatkan perubahan tubuh menuju semacam keabadian, tetapi… bukan jenis keabadian yang diinginkan manusia normal.
Pastor pribadinya di Arkham, Dr. Wallace, telah melarangnya bergabung dengan gereja mana pun di Innsmouth.
Tentang penduduk Innsmouth sendiri—ia bahkan tidak tahu harus menyebut mereka apa. Mereka jarang terlihat, bergerak sembunyi-sembunyi seperti hewan yang hidup di liang, dan sulit dibayangkan bagaimana mereka menghabiskan waktu selain memancing dan mabuk.
Lebih sering mereka tampak seperti kelompok yang terikat suatu rahasia; sombong kepada dunia luar, seolah punya akses ke ranah lain yang tidak dikenal manusia biasa.
Penampilan mereka—mata besar melotot yang tidak pernah berkedip, suara serak yang menggurai, serta ekspresi yang seperti bukan milik manusia—sudah cukup untuk membuat siapa pun merinding.
Dan yang lebih mengerikan: nyanyian mereka pada malam hari. Terutama saat festival utama mereka pada 30 April dan 31 Oktober.
Mereka mencintai air, katanya. Berenang di sungai dan pelabuhan seperti ikan. Lomba renang menuju Devil Reef adalah hal biasa.
Semua terlihat sangat terbiasa dengan olahraga yang berat itu. Dan bila dipikir-pikir, yang terlihat di luar rumah hanyalah mereka yang masih muda—dan semakin tua, semakin terlihat “tercemar”.
Beberapa pengecualian—seperti pegawai tua hotel tempatku menginap—tampak normal. Lalu, ke mana perginya orang-orang tua lainnya?
Apakah “tatapan Innsmouth” itu semacam penyakit ganjil yang memperburuk ciri-cirinya seiring usia?
Pemuda itu sendiri ragu. Katanya, perubahan bentuk yang terjadi setelah seseorang dewasa—terutama perubahan tulang tengkorak seperti milik para warga Innsmouth—nyaris mustahil dipahami dunia medis mana pun. Ini bukan sekadar penyakit kulit.
Namun kesimpulan apa pun sulit diperoleh, katanya, karena tidak ada yang benar-benar bisa mengenal penduduk Innsmouth—tidak peduli berapa lama tinggal di sana.
Ia yakin spesimen yang lebih buruk daripada yang terlihat di jalan justru disembunyikan di dalam rumah. Ia sering mendengar suara-suara aneh dari balik bangunan reyot dekat pelabuhan.
Lorong-lorong di tepi air, katanya, tersambung oleh terowongan bawah tanah—sebuah sarang makhluk yang tak ingin dilihat cahaya.
Dan masalah darah asing? Tak ada yang tahu. Mungkin mereka menyembunyikan individu paling menjijikkan bila ada agen pemerintah datang ke kota.
Bahwa bertanya langsung pada warga setempat akan sia-sia—begitu menurut pemuda itu. Satu-satunya orang Innsmouth yang mau membuka mulut hanyalah seorang laki-laki amat tua namun berwajah relatif normal, tinggal di rumah singgah yang berdiri di tepi utara kota. Sisa hidupnya dihabiskan dengan berjalan tanpa tujuan atau menghangatkan diri di sekitar balai pemadam kebakaran.
Lelaki sepuh ini bernama Zadok Allen, berusia sembilan puluh enam tahun, sedikit tidak waras, dan dikenal sebagai pemabuk kota. Tubuhnya ringkih dan gerak-geriknya selalu cemas, seolah terus melihat ke belakang karena takut pada sesuatu.
Saat sadar, Zadok tidak bisa dibujuk bicara dengan orang asing. Namun ketika racun kesukaannya disentuhkan ke bibirnya, ia akan melontarkan serpihan kisah dalam bisikan serak—potongan memori yang begitu menakjubkan sekaligus mengerikan.
Namun, lanjut pemuda itu, nyaris tak ada informasi berguna yang bisa diambil dari Zadok. Ceritanya tak lebih dari petunjuk-petunjuk kacau mengenai keajaiban mustahil dan horor tak masuk akal, yang jelas hanya bisa lahir dari benak yang kacau.
Tak ada satu pun warga yang mempercayainya. Meski begitu, orang Innsmouth benci melihat Zadok minum dan bicara dengan pendatang—dan tak selalu aman bagi siapa pun yang terlihat mencoba bertanya padanya. Besar kemungkinan, dari mulut merekalah lahir bisik-bisik liar dan delusi yang kemudian menyebar di luar kota.
Beberapa penduduk non-pribumi memang mengaku pernah melihat sesosok makhluk aneh; namun di antara dongeng Zadok yang gila dan rupa warga yang cacat, tak heran jika ilusi seperti itu beredar.
Tak satu pun orang dari luar ingin berkeliaran di malam hari. Ada keyakinan umum bahwa itu bukan gagasan bijak. Lagi pula, jalan-jalan Innsmouth amat gelap; kelam yang mematikan.
Soal urusan ekonomi—kelimpahan ikan benar-benar tak masuk akal. Namun warga semakin sedikit yang memanfaatkannya. Harga terus jatuh dan persaingan makin ketat.
Tentu saja bisnis sejati Innsmouth adalah kilang penyulingan, kantornya berada hanya beberapa pintu dari tempat kami berdiri. Pak Tua Marsh tak pernah terlihat; ia kadang pergi ke pabrik dalam mobil tertutup dengan tirai terulur.
Ada pula desas-desus tentang bagaimana rupa Mr. Marsh sekarang. Dulu ia laki-laki yang parlente, dan kabarnya ia masih mengenakan pakaian model Edwardian, meski sudah dimodifikasi untuk mengakomodasi cacat tertentu.
Anak-anak laki-lakinya dulu mengurus kantor di alun-alun, tetapi belakangan mereka jarang terlihat, membiarkan generasi yang lebih muda memikul beban pekerjaan. Putra-putranya dan para saudara perempuan mereka—terutama yang lebih tua—sekarang tampak sangat aneh; dikatakan pula bahwa kesehatan mereka menurun.
Salah satu putri Mr. Marsh adalah perempuan berwajah menjijikkan—seperti reptil—yang mengenakan terlalu banyak perhiasan aneh, jelas memiliki tradisi yang sama dengan tiara asing yang aku lihat semalam.
Pemuda itu sering melihatnya, dan mendengar bahwa perhiasan itu berasal dari semacam simpanan rahasia—entah milik bajak laut atau makhluk yang lebih buruk dari itu. Para pendeta—atau apapun sebutannya sekarang—juga mengenakan ornamen serupa sebagai penutup kepala, meski sangat jarang terlihat. Contoh lain tidak pernah dilihat si pemuda, walau banyak yang dikabarkan berkeliaran di sekitar Innsmouth.
Keluarga Marsh, bersama tiga keluarga bangsawan lainnya—Waite, Gilman, dan Eliot—sangat tertutup. Mereka tinggal di rumah-rumah besar di Washington Street.
Beberapa dikatakan menyembunyikan kerabat yang masih hidup namun terlalu mengerikan untuk ditampilkan ke publik; kematiannya bahkan telah dilaporkan dan dicatat secara resmi.
Sebelum aku pergi, pemuda itu—dengan ramah dan penuh kesungguhan—membuatkan peta kasar berisi ciri-ciri penting kota, sambil memperingatkan bahwa banyak papan nama jalan telah hilang.
Setelah menelitinya sejenak, aku yakin peta itu akan sangat membantu, dan kuselipkan ke dalam saku sambil mengucapkan banyak terima kasih. Tidak menyukai tampilan restoran tunggal yang kulihat, aku membeli biskuit keju dan ginger wafers sebagai bekal makan siang.
Rencanaku sederhana: menyusuri jalan-jalan utama, bicara dengan siapa pun yang bukan warga asli, dan menunggu bus Arkham pukul delapan malam.
Kota ini jelas merupakan contoh ekstrem dari keruntuhan sebuah komunitas. Namun karena aku bukan sosiolog, aku akan membatasi perhatian pada bidang arsitektur.
Dengan begitu aku memulai penjelajahan sistematis—meskipun setengah limbung—menembus lorong-lorong sempit Innsmouth yang tercekik bayangan. Menyeberangi jembatan dan mengikuti gemuruh air terjun di hilir, aku berjalan dekat kilang Marsh, yang mencurigakan karena hampir tak mengeluarkan suara kegiatan.
Bangunan itu berdiri di tebing sungai, dekat sebuah jembatan, dan di titik pertemuan beberapa jalan yang kupikir adalah pusat kota paling awal—sebelum akhirnya dipindahkan ke Town Square setelah Revolusi.
Aku kembali menyeberangi jurang lewat jembatan Main Street, memasuki kawasan yang benar-benar mati, membuat bulu kudukku berdiri. Tumpukan rumah beratap gambrel yang hampir runtuh membentuk garis langit bergigi dan liar, dinaungi menara gereja tua yang puncaknya terpangkas.
Beberapa rumah di Main Street masih berpenghuni, tetapi mayoritas tertutup rapat papan pengaman. Di gang-gang tak beraspal, aku melihat lubang jendela hitam dari gubuk-gubuk kosong yang sebagian miring pada sudut mustahil akibat tanah yang ambles.
Pandangan jendela-jendela itu begitu menyeramkan hingga aku harus mengumpulkan keberanian untuk berbelok ke arah pantai.
Horor dari sebuah rumah kosong memang bertambah bukan secara aritmetis melainkan geometris ketika jumlah rumah membentuk sebuah kota mati. Melihat deretan tak berujung dari kehampaan yang berbau amis, memikirkan ruangan-ruangan gelap yang kini menjadi sarang laba-laba dan ingatan yang membusuk, membangkitkan ketakutan purba yang tak bisa ditolak oleh nalar mana pun.
Fish Street sama sunyinya dengan Main Street, meski dipenuhi gudang-gudang bata dan batu yang masih tampak kokoh. Water Street hampir sama, hanya saja terdapat celah menganga ke arah laut tempat dermaga pernah berdiri.
Tak ada makhluk hidup terlihat, kecuali beberapa nelayan jauh di breakwater. Suara satu-satunya hanyalah tepukan air pasang dan gemuruh air terjun Manuxet. Kota itu makin menindih sarafku, membuatku terus menoleh, takut ada sesuatu yang mengikuti dari belakang.
Menurut peta, jembatan Fish Street memang sudah runtuh, jadi kembali lewat Water Street adalah satu-satunya pilihan.
Di utara sungai, tanda-tanda kehidupan mencuat—beberapa rumah pengemasan ikan yang aktif, cerobong berasap, atap tambalan, dan sesekali sosok yang berjalan tertatih. Namun daerah ini terasa lebih menekan daripada bagian selatan yang mati.
Wajah-wajah mereka lebih buruk, lebih tidak wajar; mengingatkanku pada sesuatu yang amat fantastis namun tak bisa kuingat jelas. Barangkali memang di bagian ini pengaruh “darah asing” Innsmouth lebih kuat—kecuali jika “wajah Innsmouth” hanyalah penyakit, yang berarti kawasan ini dihuni kasus-kasus yang lebih parah.
Satu hal lagi yang mengganggu adalah sumber suara-suara samar. Secara alami, seharusnya suara-suara itu berasal dari rumah-rumah yang tampak berpenghuni. Namun justru sebaliknya: beberapa suara paling kuat keluar dari bangunan-bangunan yang dipaku rapat.
Ada derit, langkah berlari kecil, dan suara kasar yang sulit dikenali—membuatku teringat pada jaringan terowongan bawah tanah yang diceritakan pemuda tadi.
Tanpa sengaja aku bertanya-tanya: seperti apa suara orang-orang itu kalau berbicara? Sejauh ini aku belum mendengar satu percakapan pun di wilayah ini, dan entah mengapa aku bersyukur karenanya.
Setelah hanya berhenti sebentar untuk menatap dua gereja tua rusak di pertemuan Main dan Church Street, aku mempercepat langkah meninggalkan kawasan itu. Tujuanku berikutnya adalah New Church Green; tetapi entah kenapa aku tidak sanggup melewati kembali gereja yang ruang bawah tanahnya menghadirkan bayangan imam bertiaranya itu. Pemuda tadi pun sudah memperingatkan bahwa gereja-gereja dan gedung Order of Dagon bukanlah tempat aman bagi orang luar.
Karena itu aku menelusuri Main Street ke arah Martin Street, lalu berbelok ke dalam kota, melewati Federal Street dari sisi utara Green, dan masuk ke kawasan bangsawan yang telah menua—Broad, Washington, Lafayette, dan Adams Street.
Meskipun jalan-jalannya buruk dan tak terawat, jejak keagungan lamanya masih terasa. Rumah-rumah megah berdiri berjajar; sebagian besar rapuh dan dipaku rapat, tetapi beberapa masih dihuni.
Di Washington Street terdapat empat atau lima mansion yang dirawat dengan baik, tamannya dipangkas rapi. Yang paling megah—dengan teras bertingkat membentang sampai Lafayette Street—kurasa milik Pak Tua Marsh, pemilik kilang yang kini sakit-sakitan.
Tak tampak satu pun makhluk hidup di seluruh kawasan ini, dan aku bertanya-tanya mengapa tak ada kucing atau anjing di Innsmouth. Hal lain yang mengusikku adalah rapatnya jendela lantai tiga dan loteng di banyak rumah, bahkan yang tampak terpelihara.
Kerahasiaan tampak menjadi aturan tak tertulis kota ini—sebuah kota asing yang dihantui kematian. Aku tak bisa menyingkirkan perasaan bahwa ada mata yang mengawasiku dari balik celah-celah itu; mata yang tak pernah berkedip.
Aku bergidik ketika dentang jam tiga—retak dan sumbang—menggema dari sebuah menara di kiriku. Terlalu baik aku mengenali gereja pendek yang mengeluarkannya.
Mengikuti Washington Street ke arah sungai, aku tiba di kawasan industri dan perdagangan lama; reruntuhan pabrik, jejak stasiun kereta, dan jembatan kereta beratap di kejauhan menyambutku.
Sebuah jembatan yang tampak rapuh—dengan papan tanda peringatan—membentang di depan. Aku mengambil risiko menyeberang ke sisi selatan sungai, di mana kehidupan tampak kembali.
Sosok-sosok yang berjalan tertatih menatapku dengan pandangan samar tak terbaca, sementara wajah-wajah yang lebih normal melihatku dingin.
Innsmouth semakin tak dapat kutahan, dan aku berbelok ke Paine Street menuju Town Square, berharap menemukan kendaraan apa pun yang bisa membawaku ke Arkham lebih cepat daripada bus kutukan itu yang masih lama berangkat.
Saat itulah aku melihat balai pemadam kebakaran yang reot di kiriku—dan di bangkunya, duduk seorang lelaki tua berwajah merah, berjanggut tebal, mata berair, mengenakan pakaian lusuh yang tak jelas bentuknya. Ia sedang berbincang dengan dua petugas pemadam yang berpenampilan acak-acakan, meski tidak memiliki rupa aneh khas Innsmouth.
Dan tentu saja—itulah Zadok Allen, si tua mabuk, gila setengah, yang dongengnya mengenai masa lalu Innsmouth dan bayangan-bayangannya begitu mengerikan dan tak masuk akal.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.