Bab III (bagian kedua)
Lelaki tua itu terhenti, gumaman di mulutnya melemah, lalu tenggelam dalam diam yang murung dan ketakutan. Ia melirik gugup ke belakang bahunya sebelum menatap lagi karang hitam di kejauhan, seolah-olah karang itu sedang membisikkan sesuatu yang hanya ia seorang yang tahu.
Ketika aku mencoba menyapanya, ia tak menjawab. Aku sadar: ia hanya akan melanjutkan kalau isi botolnya dihabiskan.
Anehnya, cerita gila yang mengalir darinya justru membuatku semakin tertarik. Ada sesuatu dalam kisah ituโsemacam alegori kasar tentang keanehan Innsmouth, dibangun dari imajinasi yang kreatif namun tercerai-berai oleh potongan legenda asing.
Sedetik pun aku tidak mengira kisah itu memiliki dasar yang nyata. Namun tetap saja, ceritanya memancarkan kilasan teror yang tulus, terutama ketika ia menyebut perhiasan aneh yangโaku tak bisa mengingkariโmirip dengan tiara jahat yang kulihat di Newburyport.
Mungkin memang ada perhiasan yang datang dari pulau entah di mana itu. Atau mungkin dongeng gila itu adalah ciptaan Obed Marsh sendiri, bukan rekaan lelaki tua pemabuk ini.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 3 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
๐ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.