Bab IV (bagian pertama)
SULIT betul menggambarkan suasana batin yang tersisa padaku setelah kejadian mengerikan ituβsebuah kejadian yang sekaligus tampak gila dan menyedihkan, jenaka namun menakutkan. Anak lelaki dari toko kelontong sebenarnya sudah memperingatkanku, tetapi kenyataan yang kusaksikan sendiri tetap saja membuatku limbung dan resah.
Meskipun kisah yang diceritakan si tua Zadok Allen terdengar kekanak-kanakan, kesungguhan sekaligus ketakutan yang membuncah dari dirinya perlahan merayapi pikiranku; berpadu dengan rasa muakku sejak awal terhadap kota yang seperti diselimuti bayang-bayang busuk yang tak terlihat bentuknya.
Mungkin nanti aku bisa menimbang ceritanya dan menyaringnya menjadi semacam alegori sejarah. Namun untuk saat itu, aku hanya ingin menyingkirkan semuanya dari kepala.
Waktu sudah beranjak terlalu jauhβjam tanganku menunjukkan 19.15, sementara bus Arkham berangkat dari Town Square pukul delapan. Jadi aku berusaha menata pikiranku agar netral dan praktis selagi melangkah cepat menembus jalan-jalan lengang yang dipenuhi atap bocor dan rumah-rumah miring, menuju hotel tempat aku menitipkan koper, dan di mana bus itu menungguku.
Cahaya keemasan jelang senja sebenarnya membuat atap-atap tua serta cerobong-cerobong reyot itu tampak indah, seolah kota ini masih punya sisa kemurnian yang permai. Namun tetap saja aku beberapa kali menoleh ke belakang.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 3 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!


Silakan login untuk meninggalkan komentar.