The Disintegration Machine

Terbit perdana di The Strand Magazine pada Januari 1929

Arthur Conan Doyle Arthur Conan Doyle

👁️ 0 tayangan

PROFESOR CHALLENGER sedang berada dalam suasana hati yang seburuk-buruknya. Ketika aku berdiri di depan pintu ruang kerjanya, tangan masih memegang gagang pintu dan kaki masih di atas keset, kudengar sebuah monolog yang bergema keras ke seluruh rumah:

“Ya, saya katakan ini sambungan salah yang kedua. Yang kedua dalam satu pagi. Apakah kalian kira seorang ilmuwan harus diganggu dari pekerjaannya yang penting oleh campur tangan terus-menerus dari seorang tolol di ujung kabel sana? Saya tidak akan mentolerirnya. Panggil manajer kalian saat ini juga. Oh! Jadi Anda manajernya? Kalau begitu, mengapa Anda tidak mengelola dengan baik? Ya, Anda memang berhasil mengganggu pekerjaan saya—pekerjaan yang kepentingannya berada di luar kemampuan otak Anda untuk memahaminya. Saya ingin berbicara dengan kepala pengawas. Sedang pergi? Saya memang sudah menduganya. Saya akan membawa perkara ini ke pengadilan bila hal seperti ini terulang lagi. Ayam berkokok saja pernah diputuskan di pengadilan. Saya sendiri pernah memenangkan perkara semacam itu. Kalau ayam berkokok bisa, mengapa lonceng berdering-dering tidak? Kasusnya jelas. Permintaan maaf tertulis. Baik sekali. Akan saya pertimbangkan. Selamat pagi.”

Pada titik itulah aku memberanikan diri masuk. Jelas itu saat yang paling sial. Aku berhadapan dengannya tepat ketika ia berbalik dari telepon—seekor singa dalam amarahnya. Janggut hitamnya yang besar berdiri kaku, dadanya yang bidang naik-turun karena murka, dan mata abu-abunya yang congkak menyapu diriku dari atas ke bawah sementara sisa gelombang kemarahannya menghantamku.

“Bajingan-bajingan malas yang dibayar terlalu mahal!” gelegarnya. “Aku bisa mendengar mereka tertawa ketika aku menyampaikan keluhanku yang sepenuhnya sah. Ada konspirasi untuk menggangguku. Dan sekarang, Malone muda, kau datang melengkapi pagi yang kacau ini. Boleh aku bertanya, apakah kau datang atas urusanmu sendiri, atau koranmu mengirimmu untuk mewawancaraiku? Sebagai sahabat kau punya hak istimewa—sebagai wartawan kau berada di luar batas.”

Aku sedang merogoh saku mencari surat dari McArdle ketika tiba-tiba suatu keluhan baru terlintas dalam ingatannya. Tangan-tangannya yang besar dan berbulu mengobrak-abrik kertas di atas meja sampai akhirnya menemukan sebuah guntingan koran.

“Kau telah berbaik hati menyebut namaku dalam salah satu tulisanmu baru-baru ini,” katanya sambil mengguncang-guncangkan kertas itu ke arahku. “Itu dalam rangkaian komentarmu yang agak tolol mengenai fosil saurian yang baru ditemukan di lapisan Solenhofen. Kau memulai sebuah paragraf dengan kata-kata: ‘Profesor G. E. Challenger, yang termasuk salah satu ilmuwan terbesar yang masih hidup—’”

“Lalu, Profesor?” tanyaku.

“Mengapa ada pembatasan dan kualifikasi yang menjijikkan itu? Barangkali kau dapat menyebutkan siapa gerangan ilmuwan-ilmuwan besar lain yang kau anggap setara, atau mungkin lebih unggul daripada aku?”

“Itu memang susunan kalimat yang buruk. Seharusnya saya menulis: ‘ilmuwan terbesar yang masih hidup,’” aku mengakui. Lagi pula, memang itulah keyakinanku yang sesungguhnya. Kata-kataku mengubah musim dingin menjadi musim panas.

“Sahabat muda yang baik, jangan kira aku orang yang suka menuntut pujian berlebihan. Namun dikelilingi kolega-kolega yang suka bertengkar dan tidak masuk akal seperti sekarang ini, seseorang terpaksa membela dirinya sendiri. Sikap menonjolkan diri sesungguhnya asing bagi sifatku, tetapi aku harus mempertahankan posisiku melawan berbagai serangan. Nah! Duduklah di sini! Apa maksud kunjunganmu?”

Aku harus melangkah hati-hati, sebab aku tahu betapa mudahnya membuat sang singa mengaum lagi. Kubuka surat McArdle.

“Bolehkah saya membacakannya untuk Profesor? Ini dari McArdle, editor saya.”

“Aku ingat orang itu—tidak terlalu buruk untuk ukuran golongannya.”

“Setidaknya dia sangat mengagumi Profesor. Dia berkali-kali meminta bantuan Profesor ketika membutuhkan kemampuan tertinggi dalam suatu penyelidikan. Dan sekarang pun demikian.”

“Apa yang dia inginkan?”

Challenger mengembangkan diri seperti seekor burung besar yang mabuk pujian. Ia duduk dengan siku di atas meja, tangan-tangan gorilanya saling menggenggam, janggutnya menonjol ke depan, dan mata abu-abunya yang besar—setengah tertutup kelopak yang turun—menatapku dengan ramah. Dalam segala hal ia selalu tampak besar, dan bahkan kemurahan hatinya terasa sama dahsyatnya dengan sifat garangnya.

“Akan saya bacakan pesannya. Dia menulis:

‘Tolong temui sahabat kita yang terhormat, Profesor Challenger, dan mintalah kerja samanya dalam keadaan berikut. Ada seorang pria Latvia bernama Theodore Nemor yang tinggal di White Friars Mansions, Hampstead, yang mengaku telah menemukan sebuah mesin dengan sifat luar biasa—mesin yang mampu menghancurkan struktur benda apa pun yang berada dalam jangkauan pengaruhnya.

“Materi akan terurai dan kembali ke kondisi molekuler atau atomiknya. Dengan membalik prosesnya, benda itu dapat disusun kembali. Klaim ini tampaknya sangat berlebihan, tetapi ada bukti kuat bahwa penemuan itu memiliki dasar nyata dan bahwa orang ini memang telah menemukan sesuatu yang luar biasa.

“Tak perlu saya jelaskan panjang lebar betapa revolusionernya penemuan semacam itu, maupun betapa pentingnya sebagai senjata perang yang potensial. Kekuatan yang dapat menghancurkan kapal perang, atau mengubah satu batalion—meskipun hanya sementara—menjadi sekumpulan atom, akan menguasai dunia. Demi alasan sosial dan politik, tidak boleh ada waktu yang terbuang untuk menyelidiki perkara ini sampai tuntas. Orang itu memang mencari publisitas karena ingin menjual penemuannya, jadi tidak ada kesulitan untuk mendekatinya. Kartu yang saya lampirkan akan membuka pintunya bagi kalian. Yang saya inginkan adalah Anda dan Profesor Challenger menemuinya, memeriksa penemuannya, lalu menulis laporan yang matang untuk Gazette mengenai nilai penemuan tersebut. Saya menunggu kabar malam ini.—
R. McARDLE.’”

“Itulah instruksi untuk saya, Profesor,” kataku sambil melipat kembali surat itu. “Saya sungguh berharap Profesor mau ikut bersama saya, sebab bagaimana mungkin saya, dengan kemampuan saya yang terbatas, menghadapi persoalan seperti ini sendirian?”

“Benar, Malone! Benar!” dengkur sang raksasa. “Meskipun kau sama sekali tidak kekurangan kecerdasan alami, aku setuju bahwa perkara seperti ini agak terlalu berat untukmu seorang diri. Orang-orang tak berguna di telepon tadi sudah menghancurkan pekerjaanku pagi ini, jadi sedikit gangguan tambahan rasanya tak akan banyak berarti. Aku sedang menyiapkan jawaban untuk badut Italia bernama Mazotti itu, yang pandangannya mengenai perkembangan larva rayap tropis telah membangkitkan ejekan dan penghinaan dariku. Namun pembongkaran total atas si penipu itu bisa kutunda sampai malam. Sementara ini, aku siap membantumu.”

Begitulah akhirnya, pada suatu pagi di bulan Oktober, aku mendapati diriku berada di kereta bawah tanah bersama Profesor, meluncur menuju utara London dalam salah satu pengalaman paling ganjil sepanjang hidupku yang penuh peristiwa.

Sebelum meninggalkan Enmore Gardens, aku sudah memastikan lewat telepon—alat yang baru saja dimaki habis-habisan itu—bahwa orang yang hendak kami temui sedang berada di rumah, dan aku telah memberitahukan kedatangan kami. Ia tinggal di sebuah flat nyaman di Hampstead, dan membuat kami menunggu hampir setengah jam di ruang depan sementara ia bercakap-cakap dengan penuh semangat bersama sekelompok tamu yang, dari suara mereka ketika akhirnya berpamitan di lorong, tampaknya adalah orang-orang Rusia.

Aku sempat melihat mereka sekilas melalui pintu yang setengah terbuka, dan memperoleh kesan singkat tentang pria-pria makmur dan cerdas, dengan kerah astrakhan pada mantel mereka, topi tinggi mengilap, dan seluruh penampilan kaum borjuis mapan yang begitu mudah diadopsi oleh kaum komunis sukses. Pintu depan tertutup di belakang mereka, dan sesaat kemudian Theodore Nemor memasuki ruangan kami.

Aku masih bisa melihatnya sekarang, berdiri diterpa cahaya matahari penuh, menggosok-gosok kedua tangannya yang panjang dan kurus sambil menatap kami dengan senyum lebar dan mata kuningnya yang licik.

Ia seorang pria pendek dan gemuk, dengan semacam kesan cacat pada tubuhnya, meski sulit menjelaskan letak pastinya. Bisa dikatakan ia bungkuk tanpa punuk. Wajahnya yang besar dan lembek menyerupai pangsit yang belum matang sempurna, dengan warna dan kelembapan yang sama, sementara jerawat dan bercak-bercak pada kulitnya tampak makin menjijikkan di atas latar pucat itu. Matanya seperti mata kucing, dan sama seperti kucing pula kumisnya yang panjang, tipis, dan mencuat di atas mulutnya yang longgar, basah, dan penuh liur.

Segalanya tampak rendah dan menjijikkan sampai pandangan mencapai alisnya yang berwarna pasir. Dari situ ke atas tampak lengkung tengkorak yang luar biasa indah, salah satu yang paling mengesankan yang pernah kulihat. Bahkan topi Challenger mungkin akan pas di kepala megah itu. Pada bagian bawah, Theodore Nemor tampak seperti seorang konspirator licik yang merayap dalam lumpur; tetapi pada bagian atas, ia layak disejajarkan dengan para pemikir dan filsuf besar dunia.

“Jadi, Tuan-tuan,” katanya dengan suara lembut seperti beludru, hanya dengan sedikit sekali aksen asing, “kalian datang, sebagaimana saya pahami dari percakapan singkat kita lewat telepon, untuk mengetahui lebih banyak tentang Disintegrator Nemor. Benarkah demikian?”

“Tepat sekali.”

“Boleh saya bertanya apakah Anda mewakili Pemerintah Inggris?”

“Sama sekali tidak. Saya koresponden Gazette, dan ini Profesor Challenger.”

“Nama yang terhormat—nama yang dikenal di seluruh Eropa.” Taring kuningnya berkilat dalam keramahan yang menjilat. “Saya baru saja hendak mengatakan bahwa Pemerintah Inggris telah kehilangan kesempatannya. Apa lagi yang akan hilang mungkin baru akan mereka sadari nanti. Mungkin juga kerajaannya. Saya siap menjual penemuan ini kepada pemerintah pertama yang bersedia membayar harga yang saya tentukan, dan bila kini jatuh ke tangan yang mungkin tidak Anda sukai, maka itu kesalahan kalian sendiri.”

“Jadi Anda sudah menjual rahasianya?”

“Dengan harga yang saya tentukan sendiri.”

“Anda yakin pembelinya akan memegang monopoli?”

“Tanpa diragukan.”

“Tetapi orang lain juga mengetahui rahasia itu selain Anda.”

“Tidak, Sir.” Ia menyentuh dahinya yang besar. “Inilah brankas tempat rahasia itu tersimpan aman—brankas yang lebih baik daripada baja mana pun, dan terkunci dengan sesuatu yang lebih aman daripada kunci Yale. Sebagian orang mungkin mengetahui satu sisi persoalan; sebagian lagi mengetahui sisi lainnya. Tetapi tak seorang pun di dunia ini mengetahui keseluruhannya selain saya.”

“Dan para pria yang membeli penemuan Anda itu?”

“Tidak, Sir; saya tidak sebodoh itu hingga menyerahkan pengetahuan ini sebelum pembayaran dilakukan. Setelah itu, merekalah yang membeli saya, dan mereka akan memindahkan brankas ini”—sekali lagi ia mengetuk dahinya—“bersama seluruh isinya ke mana pun mereka kehendaki. Bagian saya dalam perjanjian itu akan selesai—dilaksanakan dengan setia dan tanpa belas kasihan. Setelah itu, sejarah akan tercipta.”

Ia menggosok-gosok kedua tangannya, dan senyum tetap di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang menyerupai geraman.

“Anda harus memaafkan saya, Sir,” gelegar Challenger, yang sampai saat itu duduk diam namun wajah ekspresifnya memperlihatkan ketidak-sukaan mutlak terhadap Theodore Nemor, “kami ingin memastikan terlebih dahulu bahwa memang ada sesuatu yang layak dibicarakan sebelum mendiskusikan persoalan ini. Kami belum melupakan kasus baru-baru ini ketika seorang Italia yang mengaku mampu meledakkan ranjau dari jarak jauh ternyata, setelah diselidiki, hanyalah seorang penipu besar. Sejarah bisa saja terulang. Anda tentu memahami bahwa saya memiliki reputasi ilmiah yang harus saya pertahankan—reputasi yang dengan murah hati Anda sebut berskala Eropa, meskipun saya punya alasan kuat untuk percaya bahwa ketenaran itu tidak kalah besar di Amerika. Sikap hati-hati adalah sifat seorang ilmuwan, dan Anda harus menunjukkan bukti sebelum kami dapat mempertimbangkan klaim Anda dengan serius.”

Nemor melontarkan tatapan sangat jahat dari mata kuningnya ke arah rekanku, tetapi senyum ramah buatannya justru makin melebar.

“Anda memang sesuai dengan reputasi Anda, Profesor. Saya selalu mendengar bahwa Anda adalah orang terakhir di dunia yang mungkin dapat ditipu. Saya siap memberikan demonstrasi nyata yang tak mungkin gagal meyakinkan Anda, tetapi sebelum itu saya harus mengatakan beberapa hal mengenai prinsip umum penemuan ini.

“Anda tentu menyadari bahwa instalasi percobaan yang saya bangun di laboratorium ini hanyalah sebuah model, meskipun dalam batas kemampuannya ia bekerja dengan sangat baik. Misalnya, tidak ada kesulitan sedikit pun untuk menguraikan Anda lalu menyusun Anda kembali, tetapi jelas bukan untuk tujuan semacam itulah sebuah pemerintahan besar bersedia membayar jutaan. Model saya hanyalah mainan ilmiah belaka. Baru ketika kekuatan yang sama diterapkan dalam skala besar, dampak praktis yang luar biasa dapat dicapai.”

“Bolehkah kami melihat model itu?”

“Profesor Challenger bukan hanya akan melihatnya, tetapi akan memperoleh demonstrasi paling meyakinkan langsung pada tubuh Profesor sendiri—jika Profesor cukup berani untuk mencobanya.”

“Jika!” sang singa mulai mengaum. “Kata ‘jika’ Anda itu, Sir, sangat menghina.”

“Baiklah, baiklah. Saya sama sekali tidak bermaksud meragukan keberanian Anda. Saya hanya mengatakan bahwa saya akan memberi kesempatan kepada Anda untuk membuktikannya. Namun sebelumnya saya ingin menjelaskan sedikit mengenai hukum-hukum dasar yang mengatur perkara ini.

“Bila kristal tertentu, misalnya garam atau gula, dimasukkan ke dalam air, mereka larut dan lenyap. Anda tidak akan tahu bahwa sebelumnya mereka pernah ada di sana. Lalu melalui penguapan atau cara lain, jumlah air dikurangi, dan lihatlah! Kristal-kristal itu muncul kembali, tampak lagi dan tetap sama seperti sebelumnya.

“Dapatkah Anda membayangkan suatu proses di mana Anda, sebagai makhluk hidup, dilarutkan ke dalam kosmos dengan cara serupa, lalu melalui pembalikan kondisi yang sangat halus disusun kembali seperti sediakala?”

“Itu analogi yang keliru!” seru Challenger. “Sekalipun saya membuat pengakuan sebesar itu—bahwa molekul-molekul kita dapat tercerai-berai oleh suatu kekuatan penghancur—mengapa mereka harus tersusun kembali tepat dalam urutan yang sama seperti sebelumnya?”

“Keberatan itu sangat wajar, dan saya hanya bisa menjawab bahwa memang demikianlah yang terjadi—hingga atom terakhir dari strukturnya. Ada kerangka tak terlihat, dan setiap bata terbang ke tempatnya masing-masing. Anda boleh tersenyum, Profesor, tetapi ketidak-percayaan dan senyum Anda itu mungkin segera akan digantikan oleh perasaan yang sama sekali berbeda.”

Challenger mengangkat bahu. “Saya sepenuhnya siap mengujinya.”

“Ada satu perkara lain yang ingin saya tekankan kepada kalian, Tuan-tuan, dan yang mungkin membantu kalian memahami gagasan ini. Kalian tentu pernah mendengar, baik dalam sihir Timur maupun okultisme Barat, tentang fenomena apport—ketika suatu benda tiba-tiba dipindahkan dari tempat jauh dan muncul di lokasi lain. Bagaimana hal semacam itu dapat terjadi kalau bukan karena molekul-molekulnya dilonggarkan, dibawa melalui gelombang eterik, lalu disusun kembali, masing-masing tepat di tempatnya sendiri, ditarik bersama oleh hukum yang tak dapat ditolak? Itu tampaknya analogi yang cukup tepat bagi apa yang dilakukan mesin saya.”

“Anda tidak bisa menjelaskan satu hal yang mustahil dengan mengutip hal mustahil lainnya,” kata Challenger. “Saya tidak percaya pada apport Anda, Mr. Nemor, dan saya juga tidak percaya pada mesin Anda. Waktu saya berharga, dan bila kita hendak mengadakan demonstrasi apa pun, saya minta Anda segera memulainya tanpa upacara tambahan.”

“Kalau begitu silakan mengikuti saya,” kata sang penemu.

Ia menuntun kami menuruni tangga flat itu dan melintasi sebuah taman kecil di belakang bangunan. Di sana terdapat bangunan tambahan yang cukup besar. Ia membukanya dan kami masuk.

Di dalam terdapat sebuah ruangan besar bercat putih dengan tak terhitung kabel tembaga menggantung seperti untaian dari langit-langit, serta sebuah magnet raksasa yang bertumpu di atas pedestal. Di depannya ada sesuatu yang tampak seperti prisma kaca sepanjang satu meter dan berdiameter kira-kira tiga puluh sentimeter. Di sebelah kanannya terdapat sebuah kursi yang berdiri di atas landasan seng, dengan sebuah tudung tembaga mengilap tergantung di atasnya. Baik tudung maupun kursi itu dihubungkan dengan kabel-kabel tebal, dan di sampingnya terdapat semacam roda pengunci dengan celah-celah bernomor serta sebuah pegangan berlapis karet yang saat itu berada pada angka nol.

“Disintegrator Nemor,” kata pria aneh itu sambil melambaikan tangan ke arah mesin tersebut. “Inilah model yang kelak akan terkenal karena mengubah keseimbangan kekuatan antarbangsa. Siapa pun yang memilikinya akan menguasai dunia. Nah, Profesor Challenger, kalau boleh saya katakan, Anda telah memperlakukan saya dengan kurang sopan dan kurang hormat dalam perkara ini. Apakah Anda berani duduk di kursi itu dan membiarkan saya mendemonstrasikan kemampuan kekuatan baru ini langsung pada tubuh Anda sendiri?”

Challenger memiliki keberanian seekor singa, dan segala sesuatu yang menyerupai tantangan selalu seketika membangkitkan kegilaannya. Ia menerjang ke arah mesin itu, tetapi aku menangkap lengannya dan menahannya.

“Anda tidak boleh melakukannya,” kataku. “Hidup Anda terlalu berharga. Ini keterlaluan. Jaminan keselamatan apa yang Anda punya? Satu-satunya alat yang pernah saya lihat mendekati benda itu adalah kursi listrik di Sing Sing.”

“Jaminan keselamatanku,” kata Challenger, “adalah bahwa kau menjadi saksi, dan orang ini pasti akan ditahan setidaknya atas tuduhan pembunuhan tak sengaja bila sesuatu terjadi padaku.”

“Itu penghiburan yang sangat kecil bagi dunia ilmu pengetahuan ketika pekerjaan Anda akan terbengkalai—pekerjaan yang tak dapat dilakukan siapa pun selain diri Anda. Biarkan saya setidaknya mencoba lebih dulu, dan setelah pengalaman itu terbukti tidak berbahaya, barulah Anda menyusul.”

Bahaya pribadi tak akan pernah menggoyahkan Challenger, tetapi pemikiran bahwa pekerjaannya mungkin akan tetap tak terselesaikan benar-benar menyentaknya. Ia ragu-ragu, dan sebelum sempat mengambil keputusan aku sudah menerobos maju dan menjatuhkan diri ke kursi itu. Kulihat sang penemu mengulurkan tangan ke tuas. Aku mendengar bunyi klik. Lalu sesaat ada rasa kacau dan kabut di depan mataku.

Ketika pandanganku kembali jernih, sang penemu berdiri di depanku dengan senyum menjijikkan itu, sementara Challenger, dengan pipi merah apelnya yang kini pucat kehilangan darah dan warna, menatap dari balik bahunya.

“Baiklah, lanjutkan!” kataku.

“Semuanya sudah selesai. Anda bereaksi dengan sangat baik,” jawab Nemor. “Silakan turun, dan sekarang Profesor Challenger tentu siap mengambil gilirannya.”

Belum pernah kulihat sahabat tuaku begitu terguncang. Saraf bajanya seakan runtuh seketika. Ia menggenggam lenganku dengan tangan gemetar.

“Ya Tuhan, Malone, itu benar,” katanya. “Kau lenyap. Sama sekali tak diragukan. Ada kabut sesaat lalu kekosongan.”

“Berapa lama saya menghilang?”

“Dua atau tiga menit. Aku mengaku sangat ngeri. Aku tak bisa membayangkan kau akan kembali lagi. Lalu dia menggeser tuas ini—kalau memang itu tuas—ke celah lain, dan di sanalah kau kembali di atas kursi itu, tampak sedikit bingung tetapi selebihnya tetap sama seperti biasa. Aku bersyukur kepada Tuhan ketika melihatmu!” Ia menyeka dahinya yang basah dengan sapu tangan merahnya yang besar.

“Nah, Sir,” kata sang penemu. “Atau mungkin keberanian Anda telah hilang?”

Challenger tampak mengeraskan dirinya. Kemudian, sambil menepis tanganku yang berusaha menahannya, ia duduk di kursi itu. Tuas bergeser ke angka tiga. Ia pun lenyap.

Seharusnya aku merasa ngeri, kalau bukan karena ketenangan sempurna si operator.

“Proses yang menarik, bukan?” katanya santai. “Kalau mengingat kepribadian Profesor yang begitu kuat, sungguh aneh membayangkan bahwa saat ini dia hanyalah awan molekul yang melayang di suatu bagian bangunan ini. Tentu saja sekarang dia sepenuhnya berada dalam belas kasihanku. Jika aku memilih membiarkannya tetap melayang seperti itu, tak ada sesuatu pun di bumi yang dapat mencegahku.”

“Aku akan segera menemukan cara untuk menghentikanmu.”

Senyumnya sekali lagi berubah menjadi geraman.

“Kau tak mungkin mengira pikiran semacam itu pernah benar-benar terlintas di benakku. Astaga! Bayangkan hilangnya secara permanen Profesor Challenger yang agung—lenyap ke ruang kosmik tanpa meninggalkan jejak! Mengerikan! Sungguh mengerikan! Meski begitu, dia sebenarnya tidak terlalu sopan kepadaku. Tidakkah kau pikir itu sedikit pelajaran kecil—?”

“Tidak. Aku tidak berpikir begitu.”

“Baiklah, kita sebut saja ini demonstrasi yang menarik. Sesuatu yang akan menjadi paragraf bagus di koranmu. Misalnya, aku menemukan bahwa rambut tubuh, karena berada pada getaran yang sama sekali berbeda dari jaringan organik hidup, dapat disertakan atau dikeluarkan sesuka hati. Akan menarik melihat sang beruang tanpa bulunya. Lihatlah!”

Tuas itu berbunyi klik. Sesaat kemudian Challenger kembali duduk di kursinya.

Namun Challenger macam apa itu!

Singa yang tercukur habis!

Meski aku marah atas lelucon yang dimainkan terhadapnya, aku nyaris tak mampu menahan tawa menggelegak.

Kepalanya yang besar licin botak seperti kepala bayi, dan dagunya halus mulus seperti gadis muda. Tanpa surainya yang megah, bagian bawah wajahnya tampak berat dan menggantung seperti daging ham, sementara keseluruhan penampilannya menyerupai gladiator tua yang telah babak-belur—menggembung dan kasar—dengan rahang bulldog di atas dagu yang masif.

Mungkin ada sesuatu pada wajah kami—aku yakin senyum jahat rekanku makin melebar ketika melihatnya—tetapi apa pun penyebabnya, tangan Challenger melesat ke kepalanya dan ia pun menyadari keadaannya. Pada detik berikutnya ia sudah melompat dari kursi, mencengkeram tenggorokan si penemu, dan membantingnya ke lantai. Mengetahui kekuatan Challenger yang luar biasa, aku yakin pria itu akan terbunuh.

“Demi Tuhan, hati-hati! Kalau Anda membunuhnya kita tak akan pernah bisa mengembalikan semuanya seperti semula!” teriakku.

Argumen itu berhasil. Bahkan pada saat paling mengamuk sekalipun, Challenger selalu dapat menerima alasan. Ia melompat berdiri sambil menyeret si penemu yang gemetar.

“Kuberi kau lima menit,” desisnya dalam kemarahan. “Kalau dalam lima menit aku belum kembali seperti semula, akan kucabut nyawamu dari tubuh kecilmu yang menyedihkan itu.”

Challenger yang sedang murka bukan sosok yang aman untuk diajak berdebat. Orang paling berani sekalipun bisa ciut menghadapinya, dan tak ada tanda-tanda bahwa Mr. Nemor termasuk pria pemberani. Sebaliknya, bercak dan kutil di wajahnya kini tampak jauh lebih mencolok ketika warna kulit di baliknya berubah dari pucat dempul—warna normalnya—menjadi putih pucat seperti perut ikan.

Tubuhnya gemetar dan ia nyaris tak mampu berbicara.

“Sungguh, Profesor!” ocehnya sambil memegang tenggorokannya. “Kekerasan ini benar-benar tidak perlu. Tentunya gurauan kecil yang tidak berbahaya boleh terjadi di antara teman. Saya hanya ingin mendemonstrasikan kekuatan mesin ini. Saya membayangkan Profesor menghendaki demonstrasi lengkap. Sama sekali tak ada niat menghina, saya jamin. Profesor, demi apa pun, tidak ada!”

Sebagai jawaban, Challenger kembali naik ke kursi itu.

“Kau awasi dia, Malone. Jangan biarkan dia bermain-main lagi.”

“Akan saya pastikan, Profesor.”

“Sekarang, perbaiki semuanya atau tanggung akibatnya.”

Sang penemu yang ketakutan mendekati mesinnya. Kekuatan penyatu kembali diputar hingga maksimum, dan dalam sekejap singa tua itu telah kembali seperti sediakala, lengkap dengan surainya yang kusut. Ia membelai janggutnya penuh kasih dengan kedua tangan dan meraba-raba kepalanya untuk memastikan pemulihan telah sempurna. Lalu ia turun dari kursinya dengan khidmat.

“Anda telah melakukan tindakan yang bisa membawa akibat sangat serius bagi diri Anda sendiri, Sir. Namun saya bersedia menerima penjelasan Anda bahwa hal itu dilakukan semata-mata untuk demonstrasi. Sekarang, bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan langsung mengenai kekuatan luar biasa yang Anda klaim telah ditemukan ini?”

“Saya siap menjawab apa saja kecuali sumber kekuatan itu. Itu rahasia saya.”

“Dan Anda sungguh memberitahu kami bahwa tak seorang pun di dunia mengetahui hal ini selain diri Anda?”

“Tak seorang pun memiliki bayangan sedikit pun.”

“Tak ada asisten?”

“Tidak, Sir. Saya bekerja sendirian.”

“Wah! Sangat menarik. Anda telah meyakinkan saya mengenai kenyataan kekuatan ini, tetapi saya masih belum melihat penerapan praktisnya.”

“Sudah saya jelaskan, Sir, bahwa ini hanyalah model. Tetapi sangat mudah membangun instalasi dalam skala besar. Anda memahami bahwa alat ini bekerja secara vertikal. Arus tertentu di atas Anda dan arus tertentu di bawah Anda menciptakan getaran yang menguraikan atau menyatukan kembali. Namun proses itu dapat pula dilakukan secara horizontal. Jika demikian, efeknya tetap sama dan jangkauannya bergantung pada kekuatan arus.”

“Berikan contoh.”

“Kita misalkan satu kutub ditempatkan pada sebuah kapal kecil dan kutub lain pada kapal kecil lainnya; kapal perang di antara keduanya akan lenyap menjadi molekul. Demikian pula dengan satu kolom pasukan.”

“Dan Anda telah menjual rahasia ini sebagai monopoli kepada satu kekuatan Eropa tertentu?”

“Ya, Sir, benar. Begitu uangnya dibayarkan, mereka akan memiliki kekuatan yang belum pernah dimiliki bangsa mana pun sebelumnya. Bahkan sekarang pun Anda belum melihat seluruh kemungkinannya bila alat ini berada di tangan yang cakap—tangan yang tidak takut menggunakan senjata yang mereka pegang. Kemungkinannya tak terbatas.”

Senyum penuh kemenangan melintas di wajah jahat pria itu.

“Bayangkan seperempat wilayah London tempat mesin-mesin seperti ini didirikan. Bayangkan akibat arus semacam itu dalam skala yang dengan mudah dapat diterapkan. Ah!” Ia meledak tertawa. “Saya bahkan bisa membayangkan seluruh lembah Thames disapu bersih, tanpa tersisa satu pria, wanita, atau anak pun dari jutaan manusia yang berdesakan itu!”

Kata-kata itu memenuhi diriku dengan ngeri—lebih ngeri lagi karena diucapkan dengan nada kegembiraan seperti itu. Namun anehnya, ucapan tersebut justru menimbulkan kesan yang sama sekali berbeda pada rekanku. Dengan terkejut kulihat ia malah tersenyum ramah dan mengulurkan tangan kepada sang penemu.

“Baiklah, Mr. Nemor, kami harus mengucapkan selamat kepada Anda,” katanya. “Tak diragukan lagi Anda telah menemukan suatu sifat alam yang luar biasa dan berhasil menjinakkannya untuk digunakan manusia. Bahwa penggunaan itu bersifat menghancurkan memang sangat disayangkan, tetapi Ilmu Pengetahuan tidak mengenal pembedaan semacam itu; Ilmu Pengetahuan mengikuti pengetahuan ke mana pun pengetahuan itu membawanya. Terlepas dari prinsip yang terlibat, saya rasa Anda tidak keberatan bila saya memeriksa konstruksi mesin ini?”

“Sedikit pun tidak. Mesin ini hanyalah tubuhnya. Jiwa dari mesin inilah—prinsip yang menghidupkannya—yang tak akan pernah bisa Anda tangkap.”

“Tepat sekali. Namun mekanismenya sendiri tampak sebagai contoh kecerdikan yang luar biasa.”

Selama beberapa waktu ia berjalan mengelilingi mesin itu sambil meraba-raba berbagai bagiannya. Kemudian ia mengangkat tubuh besarnya ke kursi berisolasi tersebut.

“Apakah Anda ingin melakukan perjalanan lain ke kosmos?” tanya sang penemu.

“Mungkin nanti—nanti! Namun sementara ini, seperti yang mungkin Anda ketahui, ada sedikit kebocoran listrik. Saya dapat merasakan arus lemah mengalir melalui tubuh saya.”

“Mustahil. Alat ini sepenuhnya terisolasi.”

“Namun saya pastikan saya merasakannya.”

Ia menurunkan dirinya kembali dari kursi.

Sang penemu buru-buru mengambil tempatnya.

“Saya tidak merasakan apa-apa.”

“Tidakkah ada rasa geli di sepanjang tulang belakang Anda?”

“Tidak, Sir, saya tidak merasakannya.”

Terdengar bunyi klik yang tajam, dan pria itu pun lenyap.

Aku memandang Challenger dengan takjub.

“Ya Tuhan! Apakah Profesor menyentuh mesin itu?”

Ia tersenyum kepadaku dengan ramah, tampak sedikit heran.

“Ah, dear me! Mungkin tanpa sengaja aku menyentuh tuasnya,” katanya. “Kecelakaan kecil memang mudah terjadi pada model kasar semacam ini. Tuas itu seharusnya memang diberi pelindung.”

“Tuasnya berada pada angka tiga. Itu celah yang menyebabkan disintegrasi.”

“Begitulah yang kuamati ketika kau dioperasikan.”

“Tetapi waktu dia mengembalikan Profesor tadi saya terlalu tegang hingga tidak melihat celah mana yang dipakai untuk menlakukannya. Apakah Profesor memperhatikan?”

“Mungkin aku memperhatikannya, Malone muda, tetapi aku tidak membebani pikiranku dengan rincian-rincian kecil. Ada banyak celah dan kita tidak mengetahui kegunaannya. Bisa jadi kita justru memperburuk keadaan bila bereksperimen dengan sesuatu yang tidak kita pahami. Mungkin lebih baik membiarkan semuanya seperti sekarang.”

“Dan Profesor akan—”

“Tepat sekali. Lebih baik demikian. Kepribadian menarik milik Mr. Theodore Nemor kini telah tersebar ke seluruh kosmos, mesinnya menjadi tak berguna, dan sebuah pemerintahan asing kehilangan pengetahuan yang dapat digunakan untuk menimbulkan kerusakan besar. Bukan hasil kerja pagi yang buruk, Malone muda. Koranmu pasti akan mendapatkan satu kolom menarik tentang hilangnya secara misterius seorang penemu Latvia sesaat setelah kunjungan koresponden khususnya sendiri. Aku menikmati pengalaman ini. Inilah saat-saat ringan yang sesekali datang mencerahkan rutinitas studi yang membosankan. Tetapi hidup memiliki kewajiban selain kesenangan, dan sekarang aku harus kembali kepada orang Italia bernama Mazotti itu serta pandangannya yang konyol tentang perkembangan larva rayap tropis.”

Ketika kupikir kembali, rasanya kabut berminyak tipis masih melayang-layang di sekitar kursi itu.

“Tetapi tentu saja—” desakku.

“Kewajiban pertama warga negara yang taat hukum adalah mencegah pembunuhan,” kata Profesor Challenger. “Dan aku telah melakukannya. Sudah cukup, Malone, cukup! Topik ini tidak layak diperdebatkan lagi. Ini sudah terlalu lama mengalihkan pikiranku dari perkara-perkara yang lebih penting.”

SELESAI

Beri Rating Cerpen Ini

Silakan login untuk memberi rating pada cerpen ini.

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak cerpen klasik seperti The Disintegration Machine.

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×
×