The Grey Man (Manusia Kelabu)
Ini adalah teks yang muncul pada awal Bab XIII (hlm. 577 baris 1 hingga hlm. 580 baris 13) dari The Time Machine karya H. G. Wells sebagaimana dimuat bersambung dalam majalah New Review. Bagian ini dihilangkan dalam versi buku, tetapi kemudian diterbitkan tersendiri sebagai cerita pendek berjudul The Grey Man. Perubahan apa pun yang dibuat dalam versi tersebut tidak diketahui.
TELAH kuceritakan kepadamu tentang rasa mual dan kekacauan yang menyertai perjalanan melintasi waktu. Kali ini aku tidak duduk dengan benar di pelana mesin itu, melainkan menyamping dan dalam posisi yang tidak mantap.
Selama entah berapa lama aku bergelantungan pada mesin yang bergoyang dan bergetar itu, nyaris tanpa memedulikan bagaimana aku melaju; dan ketika akhirnya aku memberanikan diri memandang kembali tombol-tombol penunjuk itu, aku tertegun melihat betapa jauhnya aku telah tiba.
Satu penunjuk mencatat hari, yang lain ribuan hari, yang lain lagi jutaan hari, dan satu lagi ribuan juta hari. Kini, alih-alih membalikkan tuas-tuas, tanpa sadar aku justru menarik lebih jauh sehingga mesin itu melaju terus ke depan; dan ketika kulihat indikator-indikator itu, jarum penunjuk ribuan hari berputar secepat jarum detik pada sebuah arloji—meluncur menuju masa depan.
Dengan amat hati-hati, sebab aku teringat akan terjunan liarku yang terdahulu, mulailah kubalik arah gerakku. Putaran jarum-jarum itu makin lambat dan makin lambat, hingga jarum ribuan hari tampak nyaris tak bergerak, dan jarum harian tak lagi menjadi kabut samar di atas skalanya. Lebih lambat lagi, sampai kabut kelabu di sekelilingku mulai tampak lebih jelas, dan garis-garis remang dari suatu bentangan tanah bergelombang mulai terlihat.
Aku berhenti. Aku berada di sebuah tanah rawa dataran tinggi yang muram, ditumbuhi vegetasi jarang dan memutih oleh embun beku tipis. Hari sedang tengah hari; matahari jingga yang telah kehilangan kemilaunya menggantung suram dekat titik puncak langit kelabu kusam itu.
Hanya beberapa semak hitam memecah kebosanan pemandangan tersebut. Bangunan-bangunan besar milik manusia-manusia dekaden yang rasanya baru saja kutinggalkan telah lenyap tanpa jejak; bahkan tak ada gundukan tanah yang menandai tempat mereka dahulu berdiri.
Bukit dan lembah, laut dan sungai—semuanya, di bawah kikisan hujan dan embun beku yang tak habis-habis, telah luluh menjadi bentuk-bentuk baru. Tak diragukan lagi, hujan dan salju sejak lama telah menenggelamkan lorong-lorong Morlock.
Angin tajam menyengat tangan dan wajahku. Sejauh mata memandang, tak tampak bukit, pepohonan, maupun sungai: hanya hamparan dataran tinggi yang tak rata dan muram tanpa penghiburan.
Lalu tiba-tiba suatu massa gelap muncul dari hamparan rawa itu, sesuatu yang berkilau seperti deretan lempeng besi bergerigi, lalu segera lenyap kembali ke dalam sebuah cekungan tanah. Dan kemudian aku menyadari adanya sejumlah makhluk kelabu pucat, warnanya hampir persis sama dengan tanah yang digigit embun beku itu, sedang merumput di sana-sini di atas rerumputan jarang, berlari mondar-mandir. Kulihat seekor melonjak mendadak, lalu mataku mulai menangkap mungkin belasan lainnya.
Mula-mula kukira mereka kelinci, atau sejenis kanguru kecil. Namun ketika salah satunya melompat mendekat, kusadari makhluk itu bukan termasuk salah satu dari kedua golongan tersebut. Ia berjalan dengan seluruh telapak kakinya menapak tanah, kaki belakangnya sedikit lebih panjang; tak berekor, dan tertutup rambut lurus keabu-abuan yang menebal di sekitar kepala seperti surai seekor anjing Skye terrier.
Karena kupahami bahwa pada Masa Keemasan manusia telah memusnahkan hampir seluruh hewan lain, hanya menyisakan beberapa yang paling ornamental, maka secara alamiah aku jadi merasa ingin tahu tentang makhluk-makhluk ini. Mereka tampaknya tidak takut kepadaku, tetapi terus merumput seperti kelinci di tempat yang jarang didatangi manusia; dan terlintas dalam pikiranku bahwa mungkin aku bisa menangkap satu spesimen.
Aku turun dari mesin dan memungut sebuah batu besar. Baru saja kulakukan itu ketika salah satu makhluk kecil tersebut masuk dalam jarak lempar yang mudah. Nasib baik membuat lemparanku tepat mengenai kepalanya, dan ia langsung terguling lalu terbaring tak bergerak. Aku segera berlari menghampirinya.
Makhluk itu tetap diam, seolah-olah mati. Aku terkejut melihat bahwa makhluk tersebut memiliki lima jari lemah baik pada kaki depan maupun belakangnya—bahkan kaki depannya hampir semanusia kaki depan seekor katak. Selain itu, ia memiliki kepala membulat dengan dahi menonjol dan mata menghadap ke depan, yang tertutupi rambut panjang lepek.
Sebuah firasat yang menjijikkan melintas dalam benakku. Ketika aku berlutut dan meraih hasil tangkapanku itu, bermaksud memeriksa gigi serta bagian anatominya yang lain yang mungkin memperlihatkan ciri-ciri manusia, benda berkilau metalik yang telah kusebutkan tadi muncul kembali di atas punggung tanah rawa, bergerak mendekat sambil mengeluarkan bunyi berderak aneh.
Seketika makhluk-makhluk kelabu di sekelilingku mulai menjawab dengan lolongan pendek dan lemah—seperti jeritan ketakutan—lalu kabur ke arah berlawanan dari datangnya makhluk baru itu. Mereka pasti bersembunyi di liang-liang atau di balik semak dan rumpun rumput, sebab dalam sesaat tak satu pun lagi tampak.
Aku berdiri dan menatap monster grotesk itu. Aku hanya bisa menggambarkannya dengan membandingkannya pada seekor kelabang. Tingginya kira-kira satu meter, dengan tubuh panjang beruas-ruas yang mungkin mencapai sepuluh meter panjangnya, dilapisi lempeng-lempeng hijau kehitaman yang saling bertumpang tindih secara aneh.
Makhluk itu tampaknya merayap di atas sejumlah besar kaki, melengkungkan tubuhnya sewaktu bergerak maju. Kepalanya yang bundar tumpul, dengan susunan titik-titik mata hitam berbentuk poligonal, membawa dua antena lentur mirip tanduk yang menggeliat-geliat. Kurasa ia melaju dengan kecepatan sekitar dua belas atau enam belas kilometer sejam, dan itu memberiku sangat sedikit waktu untuk berpikir.
Kutinggalkan makhluk kelabuku itu—hewan ataupun manusia, entahlah—di atas tanah, lalu berlari menuju mesin. Di tengah jalan aku sempat berhenti, menyesali keputusanku meninggalkannya, tetapi sekali menoleh ke belakang segala penyesalan itu pun lenyap.
Ketika aku mencapai mesin, monster tersebut tinggal sekitar lima puluh meter jauhnya. Jelas ia bukan hewan bertulang belakang. Ia tak memiliki moncong, dan mulutnya dikelilingi lempeng-lempeng gelap beruas. Namun aku sama sekali tidak ingin melihatnya dari jarak lebih dekat.
Aku melintasi satu hari lagi dan berhenti kembali, berharap monster raksasa itu telah pergi dan masih tersisa jejak korbanku; namun kurasa kelabang raksasa itu tidak menyisakan tulang-belulang. Bagaimanapun, keduanya telah lenyap.
Sentuhan samar kemanusiaan pada makhluk-makhluk kecil itu sangat membingungkan bagiku. Bila dipikir-pikir, tak ada alasan mengapa kemanusiaan yang merosot tidak pada akhirnya terpecah menjadi sebanyak mungkin spesies seperti keturunan ikan lumpur yang dahulu melahirkan seluruh vertebrata darat.
Aku tak lagi melihat kolosus serangga semacam itu—sebab menurut pikiranku makhluk beruas tadi pastilah seekor serangga. Jelaslah bahwa kesulitan fisiologis yang pada masa kini menahan semua serangga tetap kecil akhirnya telah teratasi, dan cabang dunia hewan ini akhirnya mencapai supremasi yang telah lama menantinya, suatu supremasi yang memang layak bagi energi dan vitalitas mereka yang luar biasa.
Beberapa kali aku mencoba membunuh atau menangkap makhluk kelabu lainnya, tetapi tak satu pun lemparanku sesukses yang pertama; dan setelah mungkin selusin lemparan yang mengecewakan hingga membuat lenganku nyeri, timbul rasa jengkel atas kebodohanku sendiri karena datang sejauh ini ke masa depan tanpa senjata ataupun perlengkapan.
Aku memutuskan untuk melaju terus demi satu pandangan lagi ke masa depan yang lebih jauh—sekilas mengintip ke jurang waktu yang lebih dalam—lalu kembali kepadamu dan kepada zamanku sendiri. Sekali lagi aku menaiki mesin itu, dan sekali lagi dunia menjadi kabur dan kelabu.
Ketika aku melaju terus, suatu perubahan aneh merambat pada rupa segala sesuatu. Kelabu asing itu makin memudar; lalu—meskipun aku sedang bergerak dengan kecepatan luar biasa—pergantian siang dan malam yang berkedip-kedip, yang biasanya menandakan laju lebih lambat, muncul kembali dan makin lama makin jelas.
Mula-mula hal ini sangat membingungkanku. Pergantian malam dan siang itu berlangsung makin lambat, demikian pula perjalanan matahari melintasi langit, sampai semuanya terasa membentang sepanjang berabad-abad. Akhirnya sebuah senja tetap menaungi bumi, hanya sesekali pecah ketika sebuah komet menyala melintasi langit yang gelap.
Pita cahaya yang dahulu menandai matahari telah lama menghilang; sebab matahari tak lagi terbenam—ia hanya naik dan turun di ufuk barat, makin lama makin besar dan makin merah. Semua jejak bulan telah lenyap. Perputaran bintang-bintang, yang makin lama makin lambat, akhirnya berubah menjadi titik-titik cahaya yang bergerak merayap.
Akhirnya, beberapa waktu sebelum aku berhenti, matahari—merah dan sangat besar—terdiam tak bergerak di atas cakrawala, sebuah kubah raksasa yang berpijar dengan panas kusam, dan sesekali mengalami pemadaman sekejap. Pada suatu waktu ia sempat bersinar lebih terang untuk sementara, tetapi segera kembali pada bara merahnya yang murung.
Dari perlambatan terbit dan tenggelamnya matahari itu aku memahami bahwa kerja tarikan pasang surut telah selesai. Bumi telah berhenti dengan satu sisinya senantiasa menghadap matahari, sebagaimana pada zaman kita bulan selalu menghadap bumi.
Aku berhenti dengan sangat perlahan dan tetap duduk di atas Mesin Waktu, memandang sekeliling.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.