The Man with Nine Lives

Bab 1 – Si Jenius Madelyn Mack

👁️ 0 tayangan

SEKARANG, saat aku mencoba mencari titik awal dari persahabatan unik antara Madelyn Mack dan diriku, berbagai masalah pelik akibat kelicikan manusia yang pernah kami hadapi bersama kembali terbayang—hampir seperti kejutan tersendiri.

Barangkali peristiwa-peristiwa yang berdesakan dalam ingatanku itu dulu terjadi terlalu cepat untuk benar-benar bisa dicerna saat itu juga. Barangkali hanya lewat renungan yang tenanglah aku bisa melihatnya dari sudut pandang yang selayaknya.

Madelyn Mack! Siapa pembaca surat kabar yang tidak kenal nama itu?

Siapa pun—bahkan mereka yang mengikuti berita sambil lalu saja—pasti ingat perempuan muda yang berhasil menemukan pewaris yang hilang, Virginia Denton, setelah menghilang selama tiga bulan; yang membawa “Archie” Irwin, bos sindikat pembakar gedung, ke pengadilan; yang melacak buronan Wolcott sampai dari Chicago ke Khartoum; yang memecahkan teka-teki pembunuhan ganda Peterson; yang—

Tapi untuk apa meneruskan daftar prestasi Miss Mack? Semua itu sudah nyaris jadi pengetahuan umum—setidaknya bagian yang, entah karena alasan apa, sempat muncul di kolom-kolom surat kabar.

Para pengagum Miss Mack yang mengenalnya lewat catatan pers itu tentu akan kaget kalau tahu bahwa belum sampai satu dari sepuluh kasusnya yang pernah tercatat di luar arsip pribadinya sendiri. Dan banyak di antaranya—justru yang paling sensasional dari sudut pandang surat kabar—tidak akan pernah terungkap!

Namun, sosok perempuan itu sendiri selalu menjadi misteri yang lebih besar bagiku dibanding kasus mana pun yang pernah ia pecahkan dengan bakat luar biasanya. Di tengah derasnya tinta cetak yang ia inspirasi, aku ragu apakah lebih dari selusin orang yang benar-benar mengenal sosok asli Madelyn Mack.

Yang kumaksud tentu saja bukan karier profesionalnya. Garis besar bagian hidupnya itu, kurasa, sudah cukup dikenal umum—mulai dari kisahnya sebagai gadis kuliahan yang tiba-tiba harus mencari nafkah sendiri; wabah kasus “pencurian toko” misterius yang ia baca di surat kabar saat sedang mencari lowongan kerja; lamarannya ke toko-toko serba ada di New York yang jadi korban pencurian itu, meminta posisi di staf detektif mereka, dan penolakan tegas yang ia terima; keputusan nekatnya untuk menangani kasus itu sendiri sebagai detektif lepas, yang berujung sukses luar biasa—berhasil membawa Madame Bousard yang terkenal licik itu ke penjara, sekaligus mengantarkannya pada posisi pertamanya sebagai asisten detektif toko di perusahaan tekstil ternama, Niegel.

Aku kadang berpikir kasus pertamanya inilah, dan kesadaran akan bakat khususnya yang muncul darinya, yang paling dikenang Madelyn—bahkan mengalahkan kenangan tentang kalung mutiara lima puluh ribu dolar milik Mrs. Niegel yang berhasil ia temukan kembali beberapa bulan setelah gadis detektif lulusan kuliah itu mulai bekerja di toko tersebut.

Hadiah dari kasus itulah, kebetulan, yang memungkinkan Miss Mack yang ambisius membuka kantornya sendiri.

Setelahnya menyusul kasus penculikan Bergner, yang memberi Madelyn publisitas besar pertamanya, dan yang membuka jalan bagi aliran bisnis yang terus mengalir deras—hingga tiga tahun kemudian ia punya kantor sendiri di Fifth Avenue, di Gedung Maddox, tempat aku menemuinya pada sore hari yang—bagiku—tak terlupakan itu, ketika seorang redaktur edisi Minggu yang cerdik mengutusku untuk mewawancarai perempuan yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa dalam profesi yang biasanya milik laki-laki.

Aku masih bisa membayangkan Madelyn seperti saat itu—pandangan pertamaku dari jarak dekat padanya. Ia baru saja kembali dari Omaha pagi itu, dan berencana berangkat ke Boston dengan kereta tengah malam.

Sebuah koper dan map tebal berisi berkas-berkas tergeletak di kursi sudut ruangan. Seorang juru ketik muda sedang mengetik dikte dengan kecepatan luar biasa. Miss Mack baru menyelesaikan paragraf terakhirnya ketika ia bangkit dari meja kerjanya yang datar untuk menyambutku.

Aku sempat membayangkan sosok perempuan bergaya maskulin, bersuara tegas, berwajah tajam, mungkin mengenakan gaun jahitan yang serius. Yang kulihat justru seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh lima tahun, berpipi merah-putih segar, dimahkotai rambut pirang keemasan bergelombang lembut, dan sepasang mata abu-kebiruan yang penuh semangat—mata yang seketika membuat orang lupa pada detail penampilan lainnya.

Ada sesuatu dalam sorot matanya yang lama tak bisa kudefinisikan. Perlahan aku sadar, itu adalah semangat optimisme, kegembiraan pada dirinya sendiri, pada hidupnya, pada pekerjaannya—gairah dalam melakukan sesuatu. Dan ada sesuatu yang menular dari semua itu. Nyaris tanpa sadar, siapapun akan mendapati dirinya mulai percaya pada Madelyn dan pada ketulusannya.

Tak ada pula kesan yang asing dari kodratnya sebagai perempuan dalam penilaianku. Ia mengenakan blus putih bersulam sederhana dan rok kain wol putih. Salah satu dari sedikit keunikan Madelyn adalah ia selalu berpakaian serba putih atau serba hitam. Di mejanya, ada satu vas krisan putih.

“Bagaimana caranya?” ulangnya menjawab pertanyaanku, dengan nada yang nyaris seperti tawa. “Yah—cuma kerja keras, kurasa. Oh, tidak ada yang istimewa soal itu! Kita bisa melakukan apa saja, kok, asal benar-benar percaya kita bisa melakukannya!

“Saya ini tidak luar biasa atau di luar kewajaran. Saya menyelesaikan masalah persis seperti menyelesaikan soal matematika, hanya saja alih-alih angka, saya berurusan dengan motif manusia. Seorang detektif selalu diberi faktor-faktor tertentu yang sudah diketahui, dan saya terus menyusunnya—atau menguranginya—sampai saya yakin jawabannya pasti benar.

“Cuma ada dua aturan sejati untuk jadi detektif yang berhasil: kerja keras dan akal sehat—bukan akal sehat yang aneh-aneh seperti milik teman lama kita, Sherlock Holmes, tapi akal sehat yang praktis, ala bisnis. Dan tentu saja, imajinasi! Mungkin itu salah satu alasan saya dianggap sukses. Perempuan, menurut saya, selalu punya imajinasi yang lebih tajam dibanding laki-laki!”

“Jadi, Anda lebih suka mempekerjakan detektif perempuan di tim Anda?” tanyaku.

Ia mendongak dengan semacam kerlingan jenaka dari pisau kertas batu giok di tangannya.

“Mau saya bocorkan satu rahasia? Semua staf saya, kecuali juru ketik, laki-laki semua. Tapi saya sendiri yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan lapangan. Faktor imajinasi itu susah dipakai kalau sudah lewat tangan kedua, ketiga, atau keempat. Lagipula, kalau saya gagal, saya cuma bisa menyalahkan Madelyn Mack!

“Suatu hari nanti,”—kilau di mata abu-kebiruannya makin dalam—”suatu hari nanti saya harap saya bisa sampai pada titik di mana saya hanya perlu jadi konsultan atau turun tangan langsung sesekali saja. Urusan administratif kantor, sayangnya, terlalu banyak rutinitas bagi saya!”

Telepon berdering. Ia mengucapkan beberapa kalimat tegas ke gagang telepon, lalu berbalik. Wawancara pun usai.

Saat berikutnya aku bertemu dengannya, tiga bulan kemudian, kami bertatap muka di hadapan jasad Morris Anthony, seorang kolektor buku langka yang tewas terbunuh. Berkat temuan kecil dariku yang—menurut Madelyn dengan baik hati—memberinya petunjuk untuk memecahkan kasus itu, kami akhirnya dipertemukan dalam klimaks dramatis di rumah besar yang mencekam di Washington Square, ketika peringatanku yang panik, kalau boleh dibilang begitu, menyelamatkannya dari gigitan kobra tersembunyi milik dr. Lester Randolph.

Bagaimanapun, hubungan kami perlahan mengkristal menjadi sebuah persahabatan yang mengubah dua sisi hidupku.

Persahabatan itu bukan cuma memberiku semangat dari sosok Madelyn Mack, tapi juga membukakan akses eksklusif ke sumber “bahan berita” yang membawaku dari sekadar penulis fitur Minggu dengan bayaran minim, ke posisi tetap di ruang redaksi kota, dengan penghasilan dua kali lipat dari sebelumnya.

Aku selalu bersikeras bahwa dalam hubungan kami, Madelyn-lah yang memberi segalanya, dan aku tidak menyumbang apa pun. Meski ia selalu buru-buru menyangkalnya, dan biasanya berakhir dengan mengajakku ke Rosary, pondok Swiss miliknya di tepi Sungai Hudson, sebagai obat untuk apa yang ia sebut sebagai sebuah “kemurungan”, ia tak pernah berhasil meyakinkanku bahwa protesku itu tidak berdasar!

Di Rosary itulah Miss Mack menemukan tempat berlindung dari tekanan bisnis. Ia meniru desainnya dari sebuah pondok Swiss berselimut sulur ivy yang memikat hatinya saat beliburan rlibur berjalan-jalan di Pegunungan Alpen, lalu membangunnya di atas tebing berbatu di tepi sungai, cukup dekat dengan kota untuk memudahkan perjalanan mobil, meski di tahun-tahun awal persahabatan kami, ketika ia masih terikat erat oleh rutinitas bisnis, berminggu-minggu bisa berlalu tanpa kesempatan baginya untuk singgah ke sana.

Pada akhirnya, rasa terima kasih Chalmers Walker atas kerja luar biasa Madelyn yang berhasil membebaskan istrinya—mantan penari panggung—dari jerat bukti tak terbantahkan dalam kasus pembunuhan Dempster, si makelar teater, itulah yang memungkinkan Madelyn mewujudkan impian lamanya untuk menjadi konsultan mandiri.

Meski ia tetap mempertahankan kantor di kota, kantornya hanya terdiri dari satu ruangan dan aula penerima tamu kecil, dan ia membatasi kehadirannya di sana hanya dua hari dalam seminggu. Sisanya, bila sedang tidak menangani kasus langsung, ia nyaris tak pernah muncul di kota sama sekali. Bunga-bunganya dan musiknya—dua hal yang ia gandrungi dengan sepenuh hati—tampaknya sudah cukup membuatnya puas.

Aku pernah menuduhnya semakin menua, dan ia hanya membalas dengan mengangkat bahu. Aku mencapnya sinis, dan ia tersenyum penuh teka-teki. Akan tetapi cara hidupnya tak pernah berubah.

Dengan caranya sendiri, aku iri padanya. Rasanya seperti memandang dunia dari ketinggian, menyaksikan dengan sabar hiruk-pikuk manusia mengejar ujung pelangi. Hari-hari yang kusempatkan di Rosary, terutama saat musim panas, ketika kebun Madelyn tampak persis seperti lukisan Turner, membuatku merasa jengah sekali kembali ke rutinitas Park Row.

Namun seorang perempuan pekerja surat kabar biasa tak bisa terus-menerus memanjakan diri dengan mimpi seorang jenius yang sudah diberkati keberuntungan. Barangkali karena itulah undangan Madelyn selalu datang dengan frekuensi dan kehalusan yang tak bisa kutolak. Entah bagaimana, undangan itu selalu tiba tepat saat suasana hatiku sedang pas untuk menerimanya.

Sore hari Kamis yang larut di bulan Juni itu, di puncak lima hari melelahkan di bawah terik matahari Broadway, mobil Madelyn menjemputku di kantor Bugle, dan Madelyn bersikeras menggiringku masuk ke dalam mobil tanpa sempat membawa koper sekalipun.

“Kita akan sampai di Rosary tepat waktu untuk makan malam ayam goreng,” janjinya. “Yang kau butuhkan cuma empat atau lima hari istirahat, jauh dari bau aspal.”

“Kau ibu peri penyelamat!” desahku, sambil membenamkan diri di bantal jok mobil.

Kami berdua sama sekali tak tahu bahwa jejak kejahatan berwarna merah darah sudah mulai membelit ke arah kami—bahwa dalam dua belas jam ke depan, kami akan terlempar dari akhir pekan santai menuju pusaran tragedi.

The Man with Nine Lives 2 dari 6
The Man with Nine Lives
Kamu sedang membaca sebagai pengunjung tamu. Buat akun Reader gratis agar bisa melanjutkan membaca dan menyimpan progres bacaanmu.
Progres Zona Bebas: 67%

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×