At the Mountains of Madness

Bab 12 – “Tekeli-li! Tekeli-li!”

👁️ 2 tayangan

DANFORTH dan aku sama-sama mengingat samar-samar momen ketika kami muncul dari belahan raksasa yang penuh pahatan itu, lalu menapaki kembali jejak kami melalui ruang-ruang dan lorong-lorong siklopik kota mati itu.

Namun ingatan itu bukanlah kenangan utuh—lebih mirip serpihan mimpi tanpa kehendak, tanpa detail, tanpa sensasi fisik. Rasanya seolah kami melayang di dunia berkabut, dalam dimensi yang tak mengenal waktu, sebab-akibat, atau arah.

Cahaya setengah-redup dari ruang melingkar yang luas itu sedikit menyadarkan kami. Akan tetapi kami tidak mendekati lagi kereta salju yang tersimpan di sana, dan tak seorang pun dari kami berani menatap kembali Gedney dan anjing malang itu. Mereka kini memiliki mausoleum yang ganjil dan titanic, dan aku berharap ketika planet ini mencapai akhir riwayatnya kelak, mereka masih tetap tak terganggu.

Kami baru benar-benar merasakan kelelahan dan sesak napas yang mengerikan ketika berjuang menaiki tanjakan spiral raksasa itu—hasil dari lari kami di udara tipis dataran tinggi.

Namun bahkan rasa ingin roboh tidak bisa menghentikan langkah kami; tidak sebelum kami kembali ke permukaan dunia yang normal—ke matahari dan langit. Ada sesuatu yang anehnya terasa tepat tentang kepergian kami dari lapisan-lapisan masa purba itu.

🔒

Mau Lanjut Baca?

Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.

PREV 🔒 TAMAT

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×