Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Rp44.250
Lihat di Shopee
The Sexy Secret - Indah Hanaco
The Sexy Secret - Indah Hanaco
Rp71.250
Lihat di Shopee
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Rp59.250
Lihat di Shopee
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Rp40.500
Lihat di Shopee
Burmese Days - George Orwell
Burmese Days - George Orwell
Rp81.750
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp42.400
Lihat di Shopee

Di Antara Gemerisik Daun Willow

• The Willows •

👁️ 10 views

Menerjemahkan The Willows adalah sebuah pengalaman yang sama memikat sekaligus melelahkan, karena karya ini berdiri di persimpangan antara keindahan sastra alam dan kengerian kosmik yang samar-samar.

Algernon Blackwood, yang lahir pada 1869, dikenal sebagai salah satu maestro cerita horor Edwardian. Namun The Willows menempati posisi yang istimewa: bukan sekadar cerita hantu, melainkan suatu upaya untuk menangkap rasa gentar manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua, lebih luas, dan lebih tidak terjangkau daripada dirinya.

H. P. Lovecraft bahkan menyebut karya ini sebagai “cerita horor supranatural terbaik sepanjang masa”—dan pernyataan itu, bagi siapa pun yang pernah membaca Lovecraft, tentu bukan pujian yang main-main.

Apa yang membuat The Willows berbeda dari kisah horor konvensional adalah cara Blackwood memusatkan teror bukan pada hantu, monster, atau darah, melainkan pada alam itu sendiri. Sungai Danube yang perkasa, dengan pulau-pulau willow yang seolah tak berujung, menjadi panggung sekaligus pelaku dalam cerita.

Kedua pengelana yang menjadi tokoh utama hanyalah tamu yang kebetulan singgah, dan perlahan mereka disadarkan bahwa kehadiran mereka tidak diinginkan. Embusan angin, gerak cabang willow, riak air, dan desiran malam bukan sekadar latar, melainkan bahasa dari sebuah eksistensi lain—sesuatu yang lebih besar daripada manusia, sesuatu yang bahkan tak peduli apakah manusia bisa mengerti atau tidak.

Dalam menerjemahkan novel ini, tantangan terbesar adalah menjaga atmosfer yang sangat subtil. Blackwood menggunakan kalimat-kalimat panjang, penuh deskripsi sensorik, yang menggiring pembaca ke dalam keadaan trans—antara kagum dan cemas.

Terjemahan yang terlalu kaku akan membunuh irama ini, tetapi terjemahan yang terlalu bebas juga bisa menghapus nuansa mencekam yang samar. Oleh sebab itu, saya memilih jalur tengah: mempertahankan kepuitisan Blackwood dengan bahasa Indonesia yang mengalir, tetapi tetap setia pada sugesti asli.

Misalnya, kata willows itu sendiri. Kata “pohon willow” dalam bahasa Indonesia tidak sepopuler di Eropa, tetapi kami tetap mempertahankannya, karena bunyi dan asosiasi “willow” sudah menjadi bagian integral dari atmosfer kisah ini.

Selain itu, Blackwood kerap bermain dengan ambiguitas. Apakah yang dialami para tokoh sungguh-sungguh hadir, atau sekadar ilusi yang lahir dari rasa lelah, lapar, dan keterasingan di alam liar?

Di sinilah kekuatan The Willows: ia tidak pernah memberi jawaban tegas. Alam tidak menjelaskan dirinya, dan manusia hanya bisa merasakan jejak samar dari sesuatu yang mungkin, atau mungkin juga tidak, eksis di luar nalar.

Dalam terjemahan ini, kami berusaha mempertahankan ruang kosong itu, membiarkan pembaca Indonesia pun turut mengisi dengan imajinasi mereka sendiri.

Mengapa The Willows layak hadir dalam bahasa Indonesia hari ini? Karena ia berbicara tentang hubungan manusia dengan alam dalam cara yang sangat relevan.

Di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan, The Willows mengingatkan kita bahwa manusia bukanlah pusat, melainkan bagian kecil dari jagat raya yang jauh lebih besar dan misterius. Ada kekuatan yang tidak bisa dijinakkan, ada rahasia yang tidak bisa dipetakan.

Membaca kisah ini di abad ke-21 adalah sebuah peringatan sekaligus pengalaman estetik: bahwa ketakutan bisa lahir bukan hanya dari hantu, melainkan juga dari keagungan yang melampaui batas nalar manusia.

Kami berharap terjemahan ini dapat memberikan pengalaman serupa bagi pembaca Indonesia: rasa kagum yang bercampur gentar, rasa asing di tengah sesuatu yang begitu indah namun juga mengancam.

Jika setelah membaca, pembaca merasa seolah sedang mendengar bisikan dari balik dedaunan yang bergerak sendiri di malam hari, maka terjemahan ini telah berhasil menyampaikan apa yang dahulu dirancang Blackwood.

Akses Terjemahan Gratis

Kamu hanya bisa membaca 1 bab lagi. Silakan buat akun KlikNovel untuk mengakses semua 12 bab secara GRATIS!

2 bab gratis12 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Rp46.500
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Rp104.250
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Rp36.500
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp101.150
Lihat di Shopee
Pulang - Leila S. Chudori
Pulang - Leila S. Chudori
Rp117.000
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Northanger Abbey - Jane Austen (Shandi Publisher)
Northanger Abbey - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp106.400
Lihat di Shopee
Winnetou 4 - Karl May
Winnetou 4 - Karl May
Rp68.000
Lihat di Shopee
The Golden Road - L. M. Montgomery
The Golden Road - L. M. Montgomery
Rp52.500
Lihat di Shopee
Man Candy - Indah Hanaco
Man Candy - Indah Hanaco
Rp75.050
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Rp51.750
Lihat di Shopee