Bab 4 bagian ketiga
SELURUH beban ketakutanku runtuh seketika dan mengguncang tubuhku. Lalu, entah mengapa, aku juga tertawa. Itu satu-satunya yang bisa kulakukan.
Dan dari tawaku, aku pun mengerti tawa temanku. Itu pelepasan tekanan batin, luapan tenaga gaib yang menekan kami; tawa itu bagai katup pengaman sementara. Dan sama seperti datangnya, tawanya berhenti tiba-tiba.
βBodohnya aku!β seruku, masih berusaha konsisten dengan penjelasan masuk akal. βAku benar-benar lupa membeli roti di Pressburg. Perempuan cerewet itu membuatku kehilangan fokus, pasti roti itu tertinggal di meja kasir atauββ
βBubur gandum pun berkurang banyak dari tadi pagi,β potong Swede.
Kenapa ia harus menyinggung itu? pikirku jengkel.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.