Pengantar Penerjemahan Wuthering Heights
Wuthering Heights adalah salah satu novel paling unik dan paling disalah-pahami dalam sejarah sastra Inggris. Sejak terbit pada tahun 1847, karya tunggal Emily Brontë ini sering dibaca sebagai roman cinta yang liar dan tragis.
Namun pembacaan semacam itu, meskipun tidak sepenuhnya keliru, hanya menyentuh permukaan dari novel yang jauh lebih gelap, lebih kompleks, dan lebih radikal dibandingkan karya-karya sezamannya.
Emily Brontë tidak menulis kisah cinta yang manis atau sentimental. Ia menulis tentang cinta sebagai kekuatan elementer, setara dengan badai, tanah, dan kematian.
Cinta antara Catherine Earnshaw dan Heathcliff bukanlah relasi yang sehat menurut ukuran sosial atau moral, melainkan ikatan eksistensial yang menolak kompromi. Inilah sebabnya Wuthering Heights pada masanya dianggap kasar, tidak sopan, bahkan tidak bermoral.
Dalam menerjemahkan novel ini ke dalam bahasa Indonesia, tantangan utamanya bukan sekadar memindahkan makna kata demi kata, melainkan menjaga atmosfer emosional dan kekasaran psikologisnya.
Bahasa Emily Brontë sering kali padat, abrupt, dan penuh pergeseran nada—dari lirisme alam ke kekerasan verbal, dari kesunyian batin ke ledakan amarah. Terjemahan yang terlalu halus akan meredam daya rusaknya; sebaliknya, terjemahan yang terlalu kaku akan menghilangkan musik batinnya.
Terjemahan ini berupaya mempertahankan karakter suara tiap tokoh. Heathcliff tidak dipoles menjadi tokoh romantis; ucapannya tetap keras, dingin, dan terkadang kejam.
Sementara Catherine berbicara dengan intensitas emosional yang berlebihan, hampir histeris, karena memang begitulah jiwanya ditulis. Nelly Dean, sebagai narator utama, dijaga dalam nada yang ambigu—antara empati, penghakiman, dan keterbatasan perspektif.
Struktur naratif Wuthering Heights—kisah di dalam kisah, ingatan yang disaring oleh penutur yang tidak sepenuhnya netral—juga menuntut kehati-hatian. Terjemahan ini tidak berusaha “meluruskan” atau menyederhanakan kerumitan tersebut, karena justru di sanalah letak kekuatan novel ini: pembaca dipaksa menilai sendiri kebenaran, motif, dan kesalahan para tokohnya.
Pilihan diksi dalam terjemahan ini menghindari bahasa modern yang terlalu kontemporer, tetapi juga tidak terjebak dalam keformalan arkais. Tujuannya adalah menghadirkan bahasa Indonesia yang mengalir, tegas, dan emosional, selaras dengan intensitas teks asli, serta tetap dapat diakses oleh pembaca masa kini.
Lebih dari segalanya, Wuthering Heights adalah novel tentang warisan emosi—bagaimana luka, kebencian, dan cinta diwariskan lintas generasi. Dalam dunia yang semakin terbiasa dengan narasi yang menjelaskan segalanya, novel ini menolak memberi jawaban nyaman. Ia membiarkan pembaca berdiri di tengah angin, menyaksikan akibat dari hasrat yang tak pernah belajar untuk berdamai.
Terjemahan ini dihadirkan dengan keyakinan bahwa Wuthering Heights bukan sekadar karya klasik yang “perlu dibaca”, melainkan pengalaman sastra yang masih mengguncang, mengganggu, dan relevan. Ia mengingatkan kita bahwa tidak semua cinta menyelamatkan, tidak semua penderitaan mendidik, dan tidak semua akhir membawa keadilan—namun justru di sanalah sastra menemukan kejujurannya yang paling dalam.
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.