Bab 11
โKADANG-KADANG, ketika merenungi semua itu sendirian, saya tiba-tiba tersentak ketakutan dan langsung mengenakan bonnet, berniat pergi memastikan keadaan di rumah pertanian.
โHati nurani saya bujuk agar percaya bahwa memperingatkan Mr. Linton tentang omongan orang adalah tugas saya; tapi kemudian saya teringat betapa buruknya kebiasaan lamanya, danโkarena tak berharap bisa memperbaikinyaโsaya mengurungkan niat untuk kembali masuk ke rumah suram itu, ragu apakah saya sanggup menanggung akibat bila dia benar-benar mengambil kata-kata saya secara serius.
โPernah suatu kali saya melewati gerbang tua itu, sengaja memutar jauh ketika hendak pergi ke Gimmerton. Saat itu kira-kira pada masa yang tengah saya ceritakan: sore musim dingin yang cerah, dingin menggigit; tanah kering tanpa salju, dan jalan mengeras di bawah sinar matahari.
โSaya sampai pada sebuah batu tempat jalan besar itu bercabang ke arah padang, di sisi kiri. Batu ituโsebuah tugu pasir yang kasarโbertuliskan huruf W. H. di sisi utara, G. di sisi timur, dan T. G. di barat daya. Itulah penunjuk arah menuju Grange, Heights, dan desa.
โMatahari memantulkan warna kuning lembut di kepala batu yang keabu-abuan itu, mengingatkan saya pada musim panas; dan entah mengapa, mendadak segerombolan kenangan masa kecil menyerbu hati saya.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 10 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
๐ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.