Miriam’s Lover (Kekasih Miriam)
AKU baru saja membacakan sebuah cerita hantu untuk Mrs. Sefton, dan aku meletakkan buku itu usai membaca, dengan anggukan kecil penuh cela.
“Sungguh omong kosong!” kataku.
Mrs. Sefton mengangguk-angguk dengan pikiran melayang, tangannya sibuk dengan kerajinan benangnya.
“Itu memang biasa saja. Aku tidak percaya arwah orang yang telah pergi bersusah payah kembali ke dunia fana hanya untuk menakut-nakuti manusia—atau sekadar melayang-layang di tempat-tempat yang dulu mereka sukai. Jika mereka benar-benar muncul, pasti ada alasan yang lebih baik dari itu.”
“Kau tidak benar-benar percaya mereka pernah muncul, kan?” tanyaku tak percaya.
“Kita tidak punya bukti bahwa mereka tidak bisa muncul, Sayang.”
“Astaga, Mary,” seruku, “kau tidak bermaksud mengatakan bahwa kau percaya orang pernah—atau bisa—melihat arwah, hantu, apa pun sebutannya?”
“Aku tidak bilang aku percaya. Aku sendiri belum pernah melihat hal semacam itu. Aku tidak mempercayainya, tetapi juga tidak menyangkal. Namun, kita tahu hal-hal aneh kadang terjadi—hal-hal yang tak bisa dijelaskan. Setidaknya, orang-orang yang kita kenal jujur mengalaminya. Tentu saja, mereka mungkin keliru.
“Dan kurasa tidak semua orang bisa melihat arwah, sekalipun arwah itu memang ada. Diperlukan orang dengan susunan jiwa tertentu—dengan mata batin, kalau boleh disebut begitu. Tidak semua orang memilikinya—bahkan, hanya sedikit yang punya. Aku yakin kau menganggap ini omong kosong.”
“Ya, memang begitu. Kau sungguh membuatku terkejut, Mary. Selama ini kukira kau orang yang paling tidak mungkin mempercayai hal-hal semacam itu. Pasti ada sesuatu yang kau alami sehingga muncul teori-teori seperti itu di kepalamu yang praktis. Ceritakanlah padaku.”
“Untuk apa? Kau akan tetap skeptis seperti biasa.”
“Mungkin tidak. Cobalah; aku mungkin bisa percaya setelah mendengar ceritamu.”
“Tidak,” jawab Mrs. Sefton dengan tenang. “Tidak ada orang yang bisa diyakinkan sekadar dari cerita orang lain. Saat seseorang pernah melihat arwah—atau mengira telah melihatnya—sejak itulah dia akan percaya.
“Dan ketika orang lain berhubungan dekat dengan orang itu dan mengetahui segala kejadiannya—yah, setidaknya dia mengakui kemungkinan terjadinya peristiwa itu. Itulah posisiku. Namun ketika cerita itu sampai ke orang ketiga—orang luar—pengaruhnya telah hilang. Selain itu, dalam kisah ini ceritanya tidak terlalu seru. Tapi, inilah kenyataannya.”
“Kau telah membangkitkan rasa ingin tahuku. Kau harus menceritakannya.”
“Baiklah, pertama katakanlah pendapatmu tentang ini. Misalkan ada dua orang, keduanya bertemperamen peka, saling mencintai dengan rasa kasih yang lebih kuat daripada hidup. Jika mereka terpisah, menurutmu mungkinkah jiwa mereka berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang tak bisa dijelaskan? Dan jika sesuatu terjadi pada salah satunya, tidakkah kau pikir yang satunya lagi bisa dan akan memberitahu jiwa pasangannya?”
“Kau mulai masuk ke perairan yang terlalu dalam bagiku, Mary,” kataku, sambil menggeleng. “Aku bukan ahli telepati, atau apa pun sebutannya. Dan aku tidak percaya pada teori-teori semacam itu. Bahkan, menurutku itu semua omong kosong. Aku yakin dalam pikiranmu yang waras, kau pun pasti berpikir demikian.”
“Mungkin memang omong kosong,” ujar Mrs. Sefton perlahan, “tetapi jika kau hidup setahun bersama Miriam Gordon, kau pasti akan terpengaruh juga. Bukan karena dia punya ‘teori’—setidaknya, dia tidak pernah memamerkannya. Namun ada sesuatu tentang gadis itu sendiri yang memberi kesan aneh.
“Saat pertama bertemu, aku merasa sangat ganjil bahwa dia sepenuhnya jiwa—roh—terserah kau menyebutnya! Bukan daging dan darah. Perasaan itu lama-lama hilang, tetapi bagiku dia tak pernah tampak seperti orang kebanyakan.
“Dia keponakan Mr. Sefton. Papanya telah meninggal saat dia masih kecil. Ketika Miriam berusia dua puluh tahun, mamanya menikah lagi dan pergi ke Eropa bersama suami barunya. Miriam tinggal bersama kami selama mereka pergi. Setelah mereka kembali, dia sendiri rencananya akan menikah.
“Aku belum pernah bertemu Miriam sebelumnya. Kedatangannya tak terduga, dan aku sedang tidak di rumah saat dia tiba. Aku pulang pada malam hari, dan saat pertama kali melihatnya, dia sedang berdiri di bawah lampu gantung di ruang tamu. Bicara soal arwah! Selama lima detik, kukira aku telah melihatnya.
“Miriam itu cantik. Aku sudah tahu sebelumnya, meski mungkin tidak menyangka akan melihat kecantikan yang begitu mempesona. Dia tinggi dan sangat anggun, gelap—setidaknya rambutnya gelap, tetapi kulitnya luar biasa putih dan bersih.
“Rambutnya disisir ke belakang, dia memiliki dahi yang tinggi, murni, putih, serta alis yang lurus, halus, dan sehitam tinta. Wajahnya oval, dengan mata yang sangat besar dan gelap.
“Aku segera menyadari bahwa Miriam dalam beberapa hal yang misterius berbeda dari orang lain. Kupikir semua yang bertemu dengannya merasakan hal sama. Namun perasaan itu sulit dijelaskan. Bagiku, aku merasa seolah-olah dia berasal dari dunia lain, dan bahwa sebagian waktunya—jiwanya, kau tahu—sedang berada kembali di sana.
“Jangan kira Miriam tidak menyenangkan diajak tinggal serumah. Justru sebaliknya. Semua orang menyukainya. Dia salah satu gadis paling manis dan menarik yang pernah kukenal, dan aku segera sangat menyayanginya. Adapun yang Dick sebut ‘keanehan kecilnya’—yah, lama-lama kami terbiasa.
“Miriam bertunangan, seperti telah kuceritakan, dengan seorang pemuda lulusan Harvard bernama Sidney Claxton. Aku tahu dia sangat mencintai kekasihnya. Saat dia menunjukkan foto Sidney, aku menyukai penampilan pemuda itu dan mengatakan terus terang padanya soal itu.
“Lalu aku membuat lelucon tentang surat cinta dari kekasihnya—hanya untuk bercanda. Miriam menatapku dengan senyum kecil yang aneh dan berkata cepat:
“‘Sidney dan saya tidak pernah saling menulis surat.’
“‘Lho, Miriam!’ seruku heran. ‘Maksudmu, kau tidak pernah mendapat kabar darinya sama sekali?’
“‘Tidak, saya tidak bilang begitu. Saya mendapat kabar darinya setiap hari—setiap jam. Kami tidak perlu menulis surat. Ada cara komunikasi yang lebih baik antara dua jiwa yang selaras sempurna.’
“‘Miriam, kau aneh sekali. Apa maksudmu?’ tanyaku.
“Tetapi Miriam hanya tersenyum aneh lagi dan tidak menjawab sama sekali. Apa pun keyakinan atau teorinya, dia tak pernah mau membicarakan soal itu.
“Dia punya kebiasaan larut dalam lamunan abstrak kapan pun dan di mana pun. Di mana saja dia berada, ‘keadaan’ ini akan menyergapnya. Dia akan duduk di sana, mungkin di tengah kerumunan yang riang, dan menatap jauh ke angkasa, tidak mendengar atau melihat apa pun yang terjadi di sekitarnya.
“Aku ingat suatu hari; kami sedang menjahit di kamarku. Aku menengok dan melihat jahitan Miriam terjatuh di pangkuannya, dia bersandar ke depan, bibirnya terbuka, matanya menatap ke atas dengan ekspresi yang seperti tidak dari dunia ini.
“‘Jangan memandang seperti itu, Miriam!’ kataku, dengan sedikit menggigil. ‘Kau seolah-olah melihat sesuatu seribu mil jauhnya!’
“Miriam keluar dari trans atau lamunannya dan berkata dengan sedikit tertawa:
“‘Bagaimana Anda tahu bahwa saya tidak sedang melakukannya?’
“Dia menunduk sesaat. Kemudian mengangkat kepalanya lagi dan menatapku dengan kedutan alisnya yang lurus, pertanda kesal.
“‘Saya harap Anda tidak berbicara pada saya tadi,’ ujarnya. ‘Anda mengganggu pesan yang sedang saya terima. Sekarang saya tidak akan mendapatkannya lagi.’
“‘Miriam,’ pintaku. ‘Aku sangat berharap, gadisku sayang, kau tidak berbicara seperti itu. Itu membuat orang mengira ada yang aneh padamu. Siapa kiranya yang mengirimimu pesan, seperti sebutanmu itu?’
“‘Sidney,’ jawab Miriam sederhana.
“‘Omong kosong!’
“‘Anda menganggap itu omong kosong karena tidak memahaminya,’ jawabnya dengan tenang.
“Aku ingat lagi suatu kali ketika beberapa tamu datang dan kami terjebak dalam diskusi tentang hantu dan sejenisnya—dan aku yakin kami semua bicara hal yang tak masuk akal. Miriam tidak berkata apa-apa saat itu, tetapi ketika kami sendirian kutanyakan pendapatnya.
“‘Menurut saya, kalian semua hanya mengisi waktu dengan bicara,’ balasnya mengelak.
“‘Tapi, Miriam, apa kau benar-benar berpikir mungkin bagi hantu—’
“‘Saya benci kata itu!’
“‘Baiklah, arwah—untuk kembali, atau menampakkan diri kepada seseorang, setelah kematian dan terlepas dari jasad?’
“‘Saya akan memberitahu Anda yang saya ketahui. Jika sesuatu terjadi pada Sidney—jika dia meninggal atau terbunuh—dia akan datang sendiri pada saya dan memberitahu saya.’
“Suatu hari Miriam turun untuk makan siang dengan wajah pucat dan cemas. Setelah Dick pergi, kutanya apakah ada masalah.
“‘Ada sesuatu yang terjadi pada Sidney,’ jawabnya, ‘kecelakaan yang menyakitkan—saya tidak tahu apa.’
“‘Bagaimana kau tahu?’ seruku. Kemudian, melihat tatapannya yang aneh, kulanjutkan terburu-buru, ‘Kau tidak sedang menerima pesan gaib lagi, kan? Sungguh, Miriam, kau tidak begitu bodoh hingga benar-benar percaya pada itu!’
“‘Saya tahu,’ jawabnya cepat. ‘Percaya atau tidak percaya tidak ada hubungannya. Ya, saya mendapat pesan. Saya tahu ada kecelakaan yang menimpa Sidney—menyakitkan dan merepotkan, tetapi tidak terlalu berbahaya. Saya tidak tahu apa itu. Sidney akan menceritakannya pada saya. Dia pasti menulis surat jika itu benar-benar perlu.’
“‘Komunikasi udara belum sempurna, ya?’ kataku nakal. Namun, melihat betapa cemasnya dia, kulanjutkan, ‘Jangan khawatir, Miriam. Bisa saja kau keliru.’
“Nah, dua hari kemudian dia mendapat sepucuk surat dari kekasihnya—yang pertama kuketahui benar-benar dia terima—di mana Sidney mengatakan dia terjatuh dari kudanya dan lengan kirinya patah. Itu terjadi tepat pada pagi hari ketika Miriam menerima pesannya.
“Miriam telah tinggal bersama kami sekitar delapan bulan ketika suatu hari dia masuk ke kamarku dengan tergesa. Dia sangat pucat.
“‘Sidney sakit—sakit parah. Apa yang harus saya lakukan?’
“Aku tahu dia pasti mendapat lagi salah satu dari pesan-pesan terkutuk itu—atau mengira mendapatkannya—dan sungguh, mengingat kejadian lengan patah itu, aku tak bisa bersikap skeptis seperti yang kubuat-buat. Kucoba menghiburnya, tetapi tidak berhasil. Dua jam kemudian dia mendapat telegram dari teman kuliah kekasihnya, mengatakan bahwa Mr. Claxton sakit parah karena demam tifoid.
“Aku cukup khawatir pada Miriam di hari-hari berikutnya. Dia terus-menerus bersedih dan gelisah. Salah satu sumber kegelisahannya adalah dia tidak mendapat pesan lagi; katanya karena Sidney terlalu sakit untuk mengirimkannya. Bagaimanapun, dia harus puas dengan cara komunikasi yang digunakan manusia biasa.
“Mamanya Sidney, yang datang untuk merawat, menulis surat setiap hari, dan akhirnya kabar baik tiba. Krisis telah lewat dan dokter yang menangani yakin Sidney akan pulih. Miriam tampak seperti makhluk baru setelah itu, dan dengan cepat semangatnya kembali.
“Selama seminggu laporan terus menggembirakan. Suatu malam kami pergi ke opera untuk mendengar primadona terkenal. Saat kami pulang, Miriam dan aku duduk di kamarnya, mengobrol tentang kejadian malam itu.
“Tiba-tiba dia duduk tegak dengan semacam guncangan kejang, dan pada saat yang sama—kau boleh tertawa—perasaan paling mengerikan menyergapku. Aku tidak melihat apa pun, tetapi aku merasa ada sesuatu atau seseorang di ruangan itu selain kami berdua.
“Miriam menatap lurus ke depan. Dia bangkit dan mengulurkan tangannya.
“‘Sidney!’ katanya.
“Lalu dia jatuh ke lantai, pingsan tak sadarkan diri.
“Aku berteriak memanggil Dick, membunyikan bel, dan bergegas ke arahnya.
“Dalam beberapa menit seluruh rumah terbangun, dan Dick berangkat cepat-cepat mencari dokter, sebab kami tak bisa membangunkan Miriam dari pingsannya yang seperti orang mati. Dia tampak tak bernyawa.
“Kami merawatnya berjam-jam. Dia sesaat sadar dari pingsannya, menatap kami tanpa kesadaran, lalu gemetar dan pingsan lagi.
“Dokter bicara tentang guncangan hebat, tetapi aku diam saja. Saat fajar, Miriam akhirnya kembali sadar. Ketika hanya kami berdua, dia menoleh padaku.
“‘Sidney telah meninggal,’ katanya dengan tenang. ‘Saya melihatnya—tepat sebelum pingsan. Saya melihat ke atas, dan dia berdiri di antara saya dan Anda. Dia datang untuk mengucapkan selamat tinggal.’
“Apa yang bisa kukatakan? Hampir bersamaan dengan pembicaraan kami, telegram tiba. Kekasihnya benar-benar telah meninggal—tepat pada jam ketika Miriam melihatnya.
Mrs. Sefton berhenti, dan bel makan siang berbunyi.
“Bagaimana pendapatmu?” tanyanya saat kami berdiri.
“Jujur, aku tidak tahu harus berpikir apa,” jawabku terus terang.
Dukung Penulis/Penerjemah
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!