Pulang - Leila S. Chudori
Pulang - Leila S. Chudori
Rp117.000
Lihat di Shopee
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Rp79.900
Lihat di Shopee
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Rp48.500
Lihat di Shopee
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Rp113.050
Lihat di Shopee
The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee

Miss Madeline’s Proposal (Lamaran Miss Madeline)

L. M. Montgomery L. M. Montgomery

👁️ 25 tayangan

“BIBI, ada sesuatu yang perlu kukatakan,” kata Lina, dengan pipi memerah yang membuatnya semakin mirip dengan salah satu bunga mawar merambat yang melambai-lambai di dekat jendela “Rumah Churchill tua”, begitu orang selalu menyebutnya di Lower Wentworth.

Miss Madeline, yang duduk di kursi goyang rendah dekat jendela ruang tamu, tampak bagai roh pelindung tempat itu. Segala sesuatu tentangnya serasi dengan kesan manis dan lawasnya, mulai dari mahkota rambut cokelat lembutnya, yang ditata sesuai gaya masa remajanya dulu, hingga ujung sepatu selopnya yang anggun.

Di luar Rumah Churchill tua, di jalan-jalan ramai kota kecil yang serba modern ini, Miss Madeline mungkin terlihat tak selaras dengan lingkungannya. Namun di sini, di ruangan remang ini, yang semerbak wangi samar dari taman mawar di luar, ia bagai nada dalam melodi manis dan sempurna dari masa silam.

Lina, yang duduk di bangku kecil di kaki Miss Madeline dengan kepala keritingnya terletak di pangkuan bibinya, secantik Miss Madeline di masa mudanya dulu. Ia juga sangat bahagia, dan kebahagiaannya seakan menyelubunginya bagai atmosfer dan memberinya pancaran serta pesona baru.

Miss Madeline sangat menyayangi keponakannya yang cantik ini dan dengan lembut menepuk-nepuk kepala keriting itu dengan tangan putih rampingnya.

“Ada apa, Sayang?”

“Aku—aku dilamar,” bisik Lina, menyembunyikan wajahnya di pangkuan muslin bermotif bunga Miss Madeline.

“Dilamar?” Nada Miss Madeline penuh keheranan dan takjub. Pipinya memerah saat mengucapkan kata itu, sama dalamnya seperti Lina. Lalu ia melanjutkan, dengan getaran kecil kegembiraan di suaranya, “Dengan siapa, Sayang?”

“Oh, Bibi belum mengenalnya, tapi kuharap Bibi akan segera kenal. Namanya Ralph Wylde. Bagus, bukan? Aku bertemu dengannya musim dingin lalu, dan kami menjadi sahabat baik. Tapi kami bertengkar sebelum aku datang ke sini dan, oh, aku sangat sedih karenanya.

“Tiga minggu lalu dia menulis surat padaku dan meminta maaf—sungguh baik hatinya, karena sebenarnya akulah yang bersalah, Bibi tahu. Dan dia berkata dia mencintaiku dan—semacam itulah, Bibi tahulah.”

“Tidak, aku tidak tahu,” kata Miss Madeline dengan lembut. “Tapi—tapi—aku bisa membayangkan.”

“Oh, aku sangat bahagia. Aku membalas suratnya dan dapat surat ini darinya hari ini. Dia akan datang besok. Bibi akan senang bertemu dengannya, bukan?”

“Oh, ya, Sayang, dan aku merasa senang untukmu—sangat senang. Kau yakin mencintainya?”

“Tentu saja,” kata Lina dengan tawa kecil, seakan heran bagaimana mungkin ada yang meragukannya.

Tak lama kemudian, Miss Madeline berkata dengan suara malu-malu, “Lina, apa—apa kau pernah menerima lamaran pernikahan dari selain Mr. Wylde?”

Lina tertawa genit. “Oh, tentu saja, Bibi, banyak sekali. Setidaknya selusin.”

Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp74.250
Lihat di Shopee
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Rp69.000
Lihat di Shopee
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Rp40.500
Lihat di Shopee
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
Rp79.000
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee

“Oh, Sayang!” seru Miss Madeline dengan nada agak kaget.

“Tapi benar, Bibi. Kadang-kadang menjijikkan dan kadang-kadang lucu. Tergantung prianya. Ya ampun, betapa malu dan gelisahnya kebanyakan mereka—kecuali yang kelima. Dia begitu tenang dan serius hingga hampir membuatku terkejut dan menerimanya.”

“Dan—dan apa yang kaurasakan, Lina?”

“Oh, kebanyakan takut—tapi aku juga selalu ingin tertawa. Bibi pasti tahu sendiri bagaimana rasanya. Apa yang Bibi rasakan saat seseorang melamar Bibi?”

Paras Miss Madeline merona dari dagu hingga dahi.

“Oh, Lina,” ia terbata-bata seolah mengaku sesuatu yang sangat memalukan, tetapi terdorong oleh kejujurannya yang ketat, “Aku—aku—tidak pernah menerima lamaran seumur hidupku—satu pun.”

Lina membelalakkan mata cokelat besarnya dalam kekagetan. “Oh, Bibi Madeline! Padahal Bibi secantik ini! Apa penyebabnya?”

“Aku sering bertanya-tanya,” kata Miss Madeline dengan suara lemah. “Aku memang cantik, seperti katamu—sudah terlalu lama sehingga sekarang bisa kukatakan itu. Dan aku punya banyak teman pria. Tapi tak seorang pun pernah ingin menikahiku.

“Kadang aku berharap—bahwa—bahwa aku bisa punya setidaknya satu pelamar. Bukan karena aku ingin menikah, kau tahu, bukan itu maksudku, tapi agar tak terasa kalau aku berbeda dari orang lain.

“Sangat bodoh berharap seperti itu, aku tahu, bahkan jahat—karena jika aku tidak mencintai orangnya, itu akan membuatnya sangat sedih. Tapi nanti, dia akan melupakan dan aku akan mengingat. Itu akan selalu menjadi sesuatu yang bisa sedikit dibanggakan.”

“Iya,” kata Lina dengan pikiran melayang; pikirannya telah kembali pada Ralph.

Malam itu, sepucuk surat diletakkan di depan pintu Rumah Churchill tua. Surat itu dialamatkan dengan tulisan tangan terpelajar kepada Miss Madeline Churchill, dan Amelia Kent yang mengambilnya.

Amelia telah menjadi “tulang punggung” Miss Madeline selama bertahun-tahun dan beruban dalam pengabdiannya. Di mata Amelia yang setia, Miss Madeline masih muda dan cantik; ia tak pernah ragu bahwa surat itu untuk nyonyanya. Tidak ada orang lain di sana yang pernah dipanggil “Miss Madeline.”

Miss Madeline duduk di dekat jendela kamarnya sendiri, menatap matahari terbenam di balik pohon elm sambil membaca bagian malamnya dari Thomas à Kempis. Ia tak suka diganggu saat sedang melakukannya, tapi ia membaca surat itu setelah Amelia keluar.

Saat sampai di paragraf tertentu, wajahnya sangat pucat dan buku Thomas à Kempis terjatuh ke lantai tanpa dihiraukan. Setelah selesai membaca surat, ia meletakkannya di pangkuannya, merapatkan tangan, dan berkata, “Oh, oh, oh,” dengan suara lemah dan gemetar.

Pipinya sangat merah dan matanya sangat berbinar. Ia bahkan tidak memungut buku Thomas à Kempis, melainkan pergi ke pintu dan memanggil Lina.

Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp74.250
Lihat di Shopee
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Rp69.000
Lihat di Shopee
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Rp40.500
Lihat di Shopee
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
Rp79.000
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee

“Ada apa, Bibi?” tanya Lina penasaran, memperhatikan tanda-tanda kegembiraan tak biasa pada Miss Madeline.

Miss Madeline mengulurkan suratnya dengan tangan gemetar.

“Lina, Sayang, ini surat dari Pendeta Cecil Thorne. Ini—ini—adalah lamaran pernikahan. Aku merasa sangat terguncang. Betapa anehnya ini datang tepat setelah obrolan kita pagi tadi! Aku ingin kau membacanya! Mungkin aku tak seharusnya memperlihatkannya pada siapa pun—tapi aku ingin kau melihatnya.”

Lina mengambil surat itu dan membacanya dari awal hingga akhir. Itu jelas sebuah lamaran pernikahan dan, terlebih lagi, sebuah surat yang sangat menawan untuk jenisnya, meski agak kaku dan terkesan kuno.

“Lucu sekali!” kata Lina saat sampai di akhir.

“Lucu!” seru Miss Madeline, dengan jejak kekesalan di suara lembutnya.

“Oh, maksudku bukan suratnya yang lucu,” Lina buru-buru menjelaskan, “hanya bahwa, seperti kata Bibi, aneh memikirkannya datang begitu cepat setelah obrolan kita.”

Tapi ini sedikit kebohongan dari Lina. Ia memang menganggap surat itu—atau lebih tepatnya, fakta bahwa surat itu ditulis untuk Miss Madeline—lucu.

Pendeta Cecil Thorne adalah pastor Miss Madeline. Ia seorang pria setengah baya yang tampan dan terpelajar, dan Lina sering bertemu dengannya selama musim panas di Lower Wentworth.

Lina mengajar kelas balita di Sekolah Minggu dan kadang-kadang ia merasa sang pendeta jatuh cinta padanya. Tapi itu pasti keliru, pikirnya; ternyata malah pada bibinya, dan ketertarikan Pendeta Cecil Thorne yang ditunjukkan dengan malu-malu padanya pasti murni bersifat profesional.

Betapa bodohnya aku sampai cemas dia mencintaiku! pikirnya. Lalu, lantang ia berkata, “Dia bilang akan mampir besok malam untuk menerima jawaban Bibi.”

“Dan, oh, apa yang harus kukatakan padanya?” gumam Miss Madeline dengan cemas. Ia berharap memiliki sedikit pengalaman Lina.

“Bibi akan—Bibi akan menerimanya, bukan?” tanya Lina penasaran.

“Oh, Sayang, tidak!” seru Miss Madeline hampir bersemangat. “Aku tak bisa memikirkan hal seperti itu. Aku sangat menyesal; menurutmu dia akan sedih?”

“Dilihat dari suratnya, aku yakin dia akan sedih,” kata Lina tegas.

Miss Madeline menghela napas. “Ya ampun! Ini sangat tidak menyenangkan. Tapi tentu saja aku harus menolaknya. Suratnya juga ditulis dengan sangat indah. Aku merasa sangat terganggu dengan ini.”

Miss Madeline memungut Thomas à Kempis, meratakannya dengan penyesalan, dan menyelipkan surat itu di antara halamannya.

*       *       *       *       *

KETIKA Pendeta Cecil Thorne mampir di Rumah Churchill tua keesokan malamnya saat matahari terbenam dan meminta bertemu Miss Madeline Churchill, Amelia mengajaknya masuk ke ruang tamu dan pergi memanggil nyonya rumah.

Mr. Thorne duduk di dekat jendela yang menghadap ke halaman rumput. Jantungnya berdebar kencang saat ia menangkap sekilas kain muslin putih yang melambai di antara pepohonan dan riak tawa dari kejauhan.

Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp74.250
Lihat di Shopee
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Rp69.000
Lihat di Shopee
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Rp40.500
Lihat di Shopee
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
Rp79.000
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee

Sesaat kemudian Lina muncul, berjalan-jalan di jalur sunyi yang melengkung di sekitar pohon birch. Seorang pria muda berjalan di sampingnya dengan lengan melingkari bahunya. Mereka menyeberangi halaman hijau di depan rumah dan menghilang di taman mawar.

Mr. Thorne bersandar di kursinya dan menutup mata dengan tangannya. Ia merasa telah menerima jawabannya, dan itu adalah momen yang sangat pahit baginya. Ia hampir tak berani berharap bahwa anak cantik dan ceria ini bisa mencintainya, tetapi kenyataan itu tetap terasa menusuk.

Ketika Miss Madeline, yang wajahnya memucat dan memerah bergantian, masuk dengan malu-malu, Mr. Thorne sudah cukup pulih kendali dirinya untuk bisa mengucapkan “selamat malam” dengan suara tenang.

Miss Madeline duduk berhadapan dengan tamunya. Saat itu ia sangat bersyukur bahwa ia tak pernah punya lamaran lain untuk ditolak. Ini adalah cobaan yang mengerikan. Jika saja Mr. Thorne mau membantunya! Tapi pria itu tidak berbicara dan setiap hening membuatnya semakin parah.

“Aku—menerima surat Anda, Mr. Thorne,” ia terbata-bata akhirnya, memandang lantai dengan gelisah.

“Suratku!” Mr. Thorne menoleh padanya. Dalam kegelisahannya, Miss Madeline tak menyadari keheranan di wajah dan nada suara tamunya.

“Ya,” katanya, mendapat sedikit keberanian karena es sudah pecah. “Itu—itu—sangat mengejutkan bagiku. Aku tak pernah mengira Anda—Anda mencintaiku seperti—seperti yang Anda katakan. Dan aku sangat sedih karena—karena aku tidak bisa membalas perasaan Anda. Jadi, tentu saja, aku tidak bisa menikahi Anda.”

Mr. Thorne menutup matanya lagi. Ia paham sekarang bahwa ada kesalahan dan Miss Madeline telah menerima surat yang ia tulis untuk Lina, keponakan si nyonya.

Yah, tidak apa-apa—penampakan pria muda di taman tadi sudah menyelesaikan semuanya. Akankah ia memberi tahu Miss Madeline tentang kesalahan ini? Tidak, itu hanya akan mempermalukan wanita itu dan tidak ada bedanya, karena Miss Madeline sudah menolak.

“Kurasa tidak ada gunanya meminta Nona mempertimbangkan kembali keputusannya, bukan?” katanya.

“Oh, tidak,” seru Miss Madeline hampir tercengang. Ia takut Mr. Thorne mungkin tetap bertanya. “Sama sekali tidak ada gunanya. Aku menyesal—sangat menyesal—tapi aku tidak bisa menjawab berbeda. Kami—kuharap—ini tidak akan mengubah hubungan persahabatan kita, Mr. Thorne?”

“Tidak sama sekali,” kata Mr. Thorne dengan serius. “Kita akan coba melupakan bahwa ini pernah terjadi.”

Mr. Thorne membungkuk sedih dan keluar. Miss Madeline menatapnya dengan perasaan bersalah saat pria itu melintasi halaman rumput. Ia terlihat patah hati.

Betapa mengerikannya! Dan Lina telah menolak dua belas pria! Bagaimana ia bisa melewatinya?

“Mungkin seseorang jadi terbiasa melakukannya,” pikir Miss Madeline. “Tapi aku yakin aku tidak akan bisa.”

“Apakah Mr. Thorne sangat sedih?” bisik Lina malam itu.

“Kurasa iya,” aku Miss Madeline dengan sedih. “Dia tampak sangat pucat dan sedih, Lina, hingga hatiku sakit karenanya. Aku sangat bersyukur bahwa aku tidak pernah punya lamaran lain untuk ditolak.

“Ini pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Tapi,” tambahnya, dengan sedikit kepuasan dalam suara manisnya, “aku senang akhirnya punya satu pelamar. Itu—itu membuatku merasa bahwa aku sama seperti orang lain, kau tahu, Sayang.”

Beri Rating Cerpen Ini

Silakan login untuk memberi rating pada cerpen ini.

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak cerpen klasik seperti Miss Madeline’s Proposal (Lamaran Miss Madeline)

.

Dukung Penulis/Penerjemah

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah
Man Candy - Indah Hanaco
Man Candy - Indah Hanaco
Rp75.050
Lihat di Shopee
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Rp79.900
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen (Shandi Publisher)
Pride and Prejudice - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp112.100
Lihat di Shopee
The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp119.700
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Nadira - Leila S. Chudori
Nadira - Leila S. Chudori
Rp99.000
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp119.700
Lihat di Shopee
The Age of Innocence - Edith Wharton
The Age of Innocence - Edith Wharton
Rp92.650
Lihat di Shopee
The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
Alpha Romeo - Indah Hanaco
Alpha Romeo - Indah Hanaco
Rp115.000
Lihat di Shopee
Sense and Sensibility - Jane Austen (Pastel Books)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Pastel Books)
Rp49.500
Lihat di Shopee