Semua Cerpen

L’Indiscrétion (Kecerobohan)

Sepuluh lilin menerangi ruangan dan memantul di cermin-cermin di sekeliling mereka, membuat cahaya tampak ribuan kali lipat. Henriette menenggak gelas demi gelas untuk menjaga keberaniannya, meski sudah merasa pusing setelah beberapa gelas pertama. Paul, terbawa oleh kenangan yang kembali padanya, terus mencium tangan istrinya. Matanya berkilat. Henriette merasa aneh—bersemangat di tempat baru ini, gelisah, senang, sedikit bersalah, tetapi juga penuh gairah. Dua pelayan yang serius dan diam, terbiasa melihat dan melupakan segalanya, keluar-masuk hanya saat diperlukan dan segera pergi jika merasa kehadiran mereka bakal mengganggu.
👁 49⭐ 0.0(0 vote)
✦ Pilihan Editor

La Parure (Kalung Berlian)

Kereta itu mengantarkan mereka sampai ke pintu rumah di Jalan Martyr. Mereka menaiki tangga apartemen dengan letih. Bagi sang istri, semuanya sudah berakhir. Bagi sang suami, ia hanya teringat harus masuk kantor pukul sepuluh pagi nanti. Madame Loisel melepas mantelnya di depan cermin untuk melihat sekali lagi dirinya dalam kemegahan. Tiba-tiba ia menjerit. Kalung itu tak lagi melingkar di lehernya.
👁 39⭐ 0.0(0 vote)

The Nameless City (Kota Tak Bernama)

Dan sekejap kemudian aku mendengar sesuatu—suara pertama sejak aku masuk ke kedalaman seperti kuburan ini. Sebuah geraman rendah dan panjang, seperti rintihan roh-roh terkutuk dari kejauhan, datang dari arah terowongan. Suaranya makin membesar, menggema di lorong rendah itu, diiringi embusan udara dingin yang bertiup dari atas. Sentuhan udara itu mengembalikan kewarasanku—aku teringat hembusan tiba-tiba di mulut jurang saat matahari terbit dan tenggelam, salah satunya yang membuka rahasia terowongan bagiku. Kulihat arlojiku—fajar hampir tiba. Aku pun bersiap menahan badai yang menyapu turun ke sarangnya seperti yang sebelumnya menyapu keluar.
👁 48⭐ 0.0(0 vote)
✦ Pilihan Editor

Deux Amis (Dua Sahabat)

Tiba-tiba mereka terkejut mendengar suara langkah di belakang, dan saat menoleh, mereka melihat empat pria tinggi berjanggut, berpakaian seperti pelayan dengan topi datar, mengacungkan senapan ke arah mereka. Tongkat pancing terlepas dari tangan mereka dan hanyut terbawa arus. Dalam hitungan detik mereka ditangkap, diikat, dilemparkan ke perahu, lalu dibawa menyeberangi sungai ke Pulau Marante. Di belakang rumah yang mereka kira kosong, ternyata ada sekitar 20 tentara Jerman.
👁 31⭐ 0.0(0 vote)
1 4 5 6
×
×