Koleksi Novel Drama & Tragedi

TERBARU

Wuthering Heights

Karya: Emily Brontë
Di dataran tinggi Yorkshire, di tengah angin yang tak pernah jinak, berdiri sebuah rumah batu bernama Wuthering Heights. Di sanalah gairah, dendam, dan cinta yang tak pernah belajar untuk jinak tumbuh dan membusuk bersamaan. Heathcliff—anak gelap yang datang tanpa asal-usul—diterima, dicemooh, d...
Drama & Tragedi
Baca Novel

The Blood of the Vampire

Harriet duduk di tepi tempat tidur Olga, membiarkan tangan kecil itu menggenggam jarinya. “Kau manis sekali,” bisiknya, sementara mata anak itu menatapnya dengan kekaguman polos yang menghangatkan dada. Sejenak, Harriet...
👁 34

Madame Bovary

Emma Bovary, istri dokter desa, bosan dengan kehidupan monotonnya. Ia mengidamkan kisah cinta ala novel romantis dan kemewahan Paris. Sayangnya, petualangannya justru membawanya ke jerat utang dan skandal. Karya klasik...
👁 162

Miss Harriet

Ia tinggal di loteng penginapan itu—perempuan tua berpakaian hitam, selalu membawa Alkitab lusuh ke mana pun ia pergi. Matanya tajam seperti burung pemangsa, tetapi suaranya lembut dan ragu. Tidak ada...
👁 88

Boule de Suif

Ketika kereta berhenti sejenak di tengah salju yang sunyi, semua mata berpaling pada Boule de Suif—wanita bertubuh montok dengan riasan mencolok, yang kini duduk canggung dalam diam. Meski dicemooh karena...
👁 157

Mrs. Dalloway

Mrs. Dalloway sedang sibuk menyiapkan pesta malam nanti. Sambil keliling London buat beli bunga, pikirannya melayang ke masa muda—tentang cinta lamanya, sahabat lama, dan pilihan hidup yang sudah dia ambil....
👁 187

La Confession (Pengakuan)

Suzanne menutupi wajah dengan kedua tangan, tak bergerak. Ia memikirkan pemuda yang mungkin akan ia cintai seumur hidupnya! Kehidupan yang indah yang bisa mereka jalani bersama! Ia seakan melihat pemuda itu sekali lagi di masa silam yang telah lenyap, di masa lalu yang padam selamanya. Kekasih yang telah tiada—betapa itu merobek hatinya! Oh, ciuman itu, satu-satunya ciuman seumur hidupnya! Ia menyimpannya di dalam jiwanya. Dan setelah itu, tidak ada apa-apa lagi, sepanjang sisa usianya!
👁 31⭐ 0.0(0 vote)

Le Portrait (Potret)

Tepat di hadapanku tergantung sebuah potret perempuan. Potret setengah badan, menampakkan kepala, bahu, dan tangan yang memegang buku. Ia muda, tanpa penutup kepala, pita terjalin di rambutnya, dengan senyum sendu. Mengapa senyum itu terasa begitu alami? Ia tampak benar-benar di rumahnya, tersenyum seperti seseorang yang larut dalam pikiran sendiri, bukan yang sedang dipandang. Kehadirannya memenuhi ruangan besar itu, seakan ia sendiri yang memberinya jiwa.
👁 24⭐ 0.0(0 vote)

Coco

Si bocah tak kembali hari itu. Ia berkeliaran di hutan mencari sarang burung. Keesokan harinya ia kembali. Coco, kelelahan, terbaring. Saat melihat bocah itu, ia bangkit, berharap akhirnya dipindahkan. Namun si petani kecil itu tak menyentuh palu yang tergeletak di tanah. Ia mendekat, menatap hewan itu, melemparkan segumpal tanah ke kepala kuda hingga hancur di surai putihnya, lalu pergi sambil bersiul. Kuda itu tetap berdiri selama ia masih bisa melihat si bocah; lalu, sadar bahwa usahanya menjangkau rumput terdekat akan sia-sia, ia kembali berbaring miring dan memejamkan mata.
👁 37⭐ 0.0(0 vote)

La Vendetta (Balas Dendam)

Sepanjang hari itu, sang ibu tua tidak memberinya makan. Hewan itu, marah, menggonggong serak. Satu malam lagi berlalu. Lalu, saat fajar, Madame Saverini meminta seikat jerami dari seorang tetangga. Ia mengambil kain-kain bekas yang dulu dipakai suaminya dan menyusunnya hingga menyerupai tubuh manusia. Ia menancapkan sebatang tongkat di tanah, di depan kandang Semillante, lalu mengikat boneka kain itu sehingga tampak berdiri. Ia membuat kepala dari kain-kain lama.
👁 22⭐ 0.0(0 vote)
✦ Pilihan Editor

La Ficelle (Seutas Tali)

Keesokan harinya, sekitar pukul satu siang, Marius Paumelle—buruh milik Maître Breton, petani di Ymanville—mengembalikan dompet beserta isinya kepada Maître Houlbreque di Manneville. Buruh itu mengaku menemukan benda itu di jalan; tetapi karena ia tak bisa membaca, ia membawanya pulang dan memberikannya pada majikannya. Berita itu pun tersebar. Maître Hauchecome segera berkeliling, menceritakan kisahnya yang kini berakhir bahagia. Ia merasa menang.
👁 32⭐ 0.0(0 vote)

Le Père Milon (Pak Milon)

Tengah hari. Seluruh keluarga makan di bawah teduh pohon pir di depan pintu rumah: ayah, ibu, empat anak, serta para pembantu—dua perempuan dan tiga lelaki. Semua duduk diam. Sup sudah disantap, lalu disajikan kentang goreng berlemak daging asap. Sesekali, salah satu perempuan bangkit, turun ke gudang bawah tanah, mengambil kendi penuh sari apel. Sang pria, tegap, berumur sekitar empat puluh tahun, memperhatikan sulur anggur yang masih gundul, melilit seperti ular di dinding rumah. Akhirnya ia berkata, “Pohon anggur Ayah bertunas lebih awal tahun ini. Mungkin kita bisa memetik hasilnya.” Perempuan itu menoleh, menatap, tanpa suara. Pohon anggur itu tumbuh di tempat ayah mereka ditembak mati. Itu terjadi di masa perang 1870. Prusia menduduki seluruh negeri. Jenderal Faidherbe dengan Divisi Utara tentara Prancis mengadang mereka.
👁 26⭐ 0.0(0 vote)
✦ Pilihan Editor

Mademoiselle Fifi

Mademoiselle Fifi mendudukkan Rachel di pangkuannya. Ia sengaja membakar dirinya dalam demam nafsu, menciumi leher berkeriting hitam itu dengan gila, menghirup aroma tubuh hangat perempuan itu lewat celah gaun tipis, mencubit dengan buas hingga si gadis menjerit. Seperti terobsesi ingin menghancurkan, Mademoiselle Fifi memeluk Rachel erat seolah hendak melebur, mencium bibir segar si gadis Yahudi hingga kehabisan napas. Tiba-tiba, ia menggigit begitu dalam hingga darah menetes dari dagu Rachel, mengalir ke gaunnya. Rachel menatap Mademoiselle Fifi lurus, mencuci luka, lalu bergumam, “Kau akan membayar ini!”
👁 58⭐ 0.0(0 vote)

La Mère Sauvage (Ibu Sauvage)

Saat perang pecah, anak laki-laki Sauvage, yang kala itu berusia 33 tahun, masuk dinas militer, meninggalkan ibunya sendirian di rumah. Orang-orang tidak terlalu merasa iba pada perempuan tua itu, karena mereka tahu ia punya uang. Ia tinggal seorang diri di rumah terpencil itu, jauh dari desa, di tepi hutan. Namun ia tak merasa takut—darahnya sama seperti kaum lelaki keluarganya—perempuan tua yang tangguh, tinggi, dan kurus, jarang tertawa, dan tak seorang pun berani bercanda dengannya. Perempuan pedesaan memang jarang tertawa; itu urusan lelaki. Mereka memikul hati yang suram dan sempit, hidup dalam kesedihan dan kemuraman.
👁 52⭐ 0.0(0 vote)

L’Ombrelle (Payung)

MADAME Oreille adalah seorang wanita yang sangat hemat; setiap sen baginya sangat bernilai, dan ia memiliki gudang prinsip ketat dalam mengelola uang, sampai-sampai juru masaknya kesulitan sekali menyiapkan yang biasa disebut “uang belanja” untuk para pelayan, dan suaminya hampir tidak pernah diberi uang saku sama sekali. Meski demikian, mereka hidup cukup nyaman dan tidak memiliki […]
👁 51⭐ 0.0(0 vote)
×
×