“SELURUHNYA? Yah. Seluruhnya, sejak 1841, saya sudah membunuh tujuh orang, laki-laki dewasa dan anak laki-laki. Itu tidak banyak untuk hitungan sekian tahun.”
Kata-kata mengejutkan ini ia ucapkan dengan nada serius sambil bersandar ke dinding Stasiun. Ia pria kekar berwajah kemerahan, dengan mata hitam legam. Bagian putih matanya tidak putih, melainkan kuning kecokelatan, dan tampak berparut dan bergaris-garis seolah pernah dioperasi. Itu mata yang sudah bekerja keras memandang menembus angin dan cuaca.
Ia mengenakan jaket pendek hitam dan celana kanvas putih yang kotor berjelaga, dan memakai topi pipih hitam di kepalanya. Tak ada tanda main-main di wajahnya. Raut wajahnya serius sampai tampak sedih, dan ada kesan tanggung jawab dalam seluruh sikapnya yang meyakinkan saya bahwa ia bersungguh-sungguh.
“Ya, Sir, sudah dua puluh lima tahun saya menjadi Masinis Lokomotif, dan selama itu saya hanya membunuh tujuh orang. Tidak banyak kawan saya yang bisa berkata begitu tentang diri mereka. Ketenangan, Sir, ketenangan dan mata yang terus terbuka, itulah kuncinya. Kalau saya bilang tujuh orang, maksud saya kawan-kawan saya, juru api, porter, dan sebagainya. Penumpang tidak saya hitung.”
Bagaimana ia menjadi masinis?
“Ayah saya,” katanya, “tukang roda kecil-kecilan, dan tinggal di pondok kecil di tepi rel yang menghubungkan Leeds dan Selby. Itu jalur kereta api kedua yang dibangun di kerajaan ini, yang kedua setelah jalur Liverpool dan Manchester, tempat Mr. Huskisson tewas, seperti yang mungkin pernah Anda dengar, Sir. Kalau kereta lewat menderu, kami anak-anak biasa berlari keluar untuk melihatnya dan bersorak. Saya memperhatikan masinisnya memutar-mutar tuas dan membuat kereta berjalan, dan saya berpikir alangkah hebatnya menjadi masinis dan mengendalikan mesin yang menakjubkan seperti itu.
“Sebelum ada kereta api, kusir kereta pos adalah orang paling hebat yang saya kenal. Dulu saya pikir saya ingin menjadi kusir kereta kuda. Di pondok kami ada gambar Raja George Ketiga berjubah merah. Saya selalu mencampuradukkan kusir kereta pos, yang juga berjas merah, dengan sang raja, hanya saja kusir itu memakai topi bertepi lebar yang rendah, sedangkan raja tidak. Menurut bayangan saya, raja tidak mungkin lebih hebat daripada kusir kereta pos.
“Sejak dulu saya ingin menjadi semacam kepala. Waktu sekali saya pergi ke Leeds dan melihat seorang pria memimpin orkestra, saya pikir saya ingin menjadi pemimpin orkestra. Sesampainya di rumah saya membuat tongkat dirigen sendiri, lalu berkeliling ladang memimpin orkestra. Orkestranya tentu tidak ada, tetapi saya pura-pura ada. Lain waktu, seorang pria dengan cambuk dan corong pengeras suara di panggung depan sebuah pertunjukan menarik hati saya, dan saya pikir saya ingin menjadi dia. Tetapi ketika kereta datang, masinis mengalahkan mereka semua, dan saya bertekad menjadi masinis.
“Tak lama kemudian saya harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri, walaupun saya masih kecil. Ayah saya meninggal mendadak. Beliau tewas disambar petir waktu berteduh di bawah pohon karena hujan, dan ibu tak sanggup menghidupi kami semua. Sehari setelah ayah dimakamkan, saya berjalan ke stasiun dan bilang saya ingin menjadi masinis. Kepala stasiun tertawa sedikit, bilang saya mulainya terlalu awal, dan badan saya belum cukup besar. Dia memberi saya satu penny dan menyuruh saya pulang, tumbuh besar dulu, lalu datang lagi sepuluh tahun kemudian.
“Waktu itu saya tak pernah memikirkan bahaya. Kalau saya belum bisa menjadi masinis, saya bertekad mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan mesin. Jadi, karena tak dapat pekerjaan lain, saya naik ke kapal uap di Sungai Humber dan memecah-mecah batu bara untuk juru apinya.
“Begitulah saya mulai. Dari situ saya menjadi juru api, mula-mula di kapal, lalu di lokomotif. Kemudian, setelah dua tahun bertugas, saya menjadi masinis di jalur yang lewat di depan pondok kami. Ibu dan kakak-adik saya keluar untuk melihat saya pada hari pertama saya mengemudi. Saya menantikan mereka dan mereka menantikan saya. Mereka melambai dan bersorak, dan saya melambai kepada mereka. Uap sudah saya naikkan tinggi, kereta melaju kencang berderak-derak, dan bukan main bangganya saya saat itu. Belum pernah saya sebangga itu seumur hidup!
Cuplikan berhenti di sini. Masih ada sekitar 2.300 kata lagi (±11 menit membaca).
Mau Lanjut Baca?
Sepertiga awal cerpen ini tersedia gratis. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca sampai selesai.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!


Silakan login untuk meninggalkan komentar.