James Joyce

James Joyce

2 Februari 1882 - 13 Januari 1941

James Augustine Aloysius Joyce lahir pada 2 Februari 1882 di Rathgar, sebuah pinggiran Dublin, sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara dalam keluarga Katolik Roma. Ayahnya, John Stanislaus Joyce, adalah pegawai negeri yang cerdas namun boros, seorang peminum dan pendongeng ulung yang perlahan-lahan menjerumuskan keluarganya ke dalam kemiskinan—sebuah figur yang kelak menjadi model bagi Simon Dedalus dalam A Portrait of the Artist as a Young Man dan Ulysses. Meski kondisi keuangan memburuk, Joyce tetap mendapat pendidikan di sekolah-sekolah Jesuit terbaik, pertama di Clongowes Wood College (dijuluki “Eton-nya Irlandia”) dan kemudian, setelah keluarganya tak mampu membayar biaya sekolah, di Belvedere College di Dublin berkat beasiswa.

 

Pada usia 16 tahun, Joyce muda menolak iman Katolik-nya, sebuah pengingkaran yang kelak menjadi tema sentral dalam karya-karyanya—meski simbolisme, ritual, dan teologi Gereja tetap mewarnai fiksinya sepanjang hayat . Ia melanjutkan pendidikan ke University College Dublin (1898-1902), di mana ia menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang bahasa dan sastra. Pada usia 18 tahun, ia menerbitkan ulasan tentang drama Henrik Ibsen di Fortnightly Review dan bahkan menerima surat ucapan terima kasih dari sang dramawan Norwegia itu sendiri—sebuah prestasi yang mengukuhkan tekadnya menjadi penulis.

 

Setelah lulus, Joyce pergi ke Paris untuk belajar kedokteran, namun segera meninggalkan cita-cita itu dan memilih berkarier di bidang sastra. Ia kembali ke Dublin pada 1903 untuk menemani ibunya yang sakit parah, dan di sanalah, pada 16 Juni 1904, ia bertemu dengan Nora Barnacle, perempuan Galway yang bekerja sebagai pelayan hotel—pertemuan pertama mereka kelak diabadikan sebagai “Bloomsday”, latar hari di mana Ulysses berlangsung . Tak lama kemudian, Joyce dan Nora memutuskan untuk meninggalkan Irlandia secara permanen, menandai awal dari pengasingan sukarela yang berlangsung seumur hidupnya.

 

Kehidupan pengasingan membawa Joyce melintasi Eropa: mengajar bahasa Inggris di sekolah Berlitz di Pola (kini Pula, Kroasia) dan Trieste (1904-1915), kemudian pindah ke Zurich selama Perang Dunia I, dan akhirnya menetap di Paris pada 1920 atas undangan Ezra Pound. Selama periode inilah ia menerbitkan karya-karya utamanya: kumpulan cerpen Dubliners (1914) setelah perjuangan panjang melawan sensor dan tuduhan pencemaran nama baik; novel semi-autobiografi A Portrait of the Artist as a Young Man (1916); dan yang paling monumental, Ulysses (1922), yang diterbitkan oleh Sylvia Beach dari toko buku Shakespeare & Company di Paris pada hari ulang tahunnya yang ke-40 .

 

Ulysses dilarang di Amerika Serikat hingga 1933 dan di Inggris hingga 1936 karena tuduhan cabul, tetapi kini dianggap sebagai salah satu novel paling berpengaruh di abad ke-20 . Karya terakhirnya, Finnegans Wake (1939), adalah eksperimen bahasa yang berani dan rumit, yang memakan waktu 17 tahun untuk diselesaikan.

 

Kesehatan Joyce terus memburuk sepanjang kariernya. Ia menderita berbagai penyakit mata—iritis, glaukoma, dan katarak—yang menyebabkan ia menjalani 25 kali operasi dan beberapa periode kebutaan total. Meski demikian, ia tetap produktif dan bahkan menulis bagian-bagian paling gembira dari karyanya saat kesehatannya paling buruk.

 

Dengan pecahnya Perang Dunia II dan invasi Jerman ke Prancis, Joyce dan keluarganya kembali ke Zurich pada akhir tahun 1940. Di sana, pada 13 Januari 1941, ia meninggal akibat komplikasi dari operasi ulkus duodenum, pada usia 58 tahun. Ia dimakamkan di Pemakaman Fluntern, Zurich . Meskipun menghabiskan hampir seluruh masa dewasanya di luar Irlandia, dunia fiksi Joyce tidak pernah meninggalkan Dublin. Seperti yang ia katakan, “Untuk diriku sendiri, aku selalu menulis tentang Dublin, karena jika aku bisa sampai ke jantung Dublin, aku bisa sampai ke jantung semua kota di dunia. Dalam bagian khusus terkandung yang universal.”

Tidak ada novel.

The Sisters (Para Suster) – versi 1917

"Setelah itu dia mulai murung sendirian, tidak bicara pada siapa pun dan berkeliaran sendirian. Jadi suatu malam dia dibutuhkan untuk pergi memanggil seseorang dan mereka tidak dapat menemukannya di mana pun. Mereka mencari ke atas dan ke bawah; dan tetap saja mereka tidak bisa melihat bayangannya di mana pun. Jadi kemudian petugas gereja menyarankan untuk mencoba mencari ke kapel. Jadi kemudian mereka mengambil kunci dan membuka kapel dan petugas itu dan Pastor O'Rourke dan seorang imam lain yang ada di sana membawa lampu untuk mencarinya... Dan apa yang kau kira, tetapi di sanalah dia, duduk sendirian dalam gelap di kursi pengakuannya, terjaga dan tertawa-tawa kecil sendirian?" Ia berhenti tiba-tiba seolah mendengarkan. Aku juga mendengarkan; tetapi tidak ada suara di rumah itu: dan aku tahu bahwa imam tua itu terbaring diam di petinya seperti yang kami lihat, khusyuk dan garang dalam kematian, sebuah piala yang tak terpakai di dadanya.
👁 0⭐ 0.0(0 vote)

The Sisters (Para Suster)

TIGA malam berturut-turut aku mendapati diriku di Jalan Great Britain pada jam itu, seolah-olah oleh Providence. Tiga malam pula aku menaikkan pandang ke petak jendela yang terang itu dan merenung. Aku seolah mengerti bahwa itu akan terjadi pada malam hari. Tetapi, meskipun ada Providence yang menuntun kakiku, dan meskipun ada rasa ingin tahu yang khidmat […]
👁 0⭐ 0.0(0 vote)

Dubliners

Malam demi malam aku melewati rumah itu (saat itu sedang liburan) dan mempelajari petak jendela yang terang: dan malam demi malam aku mendapatinya terang dengan cara yang sama, samar dan...
👁 0
×
×