Bagian 2 — Mimpi Buruk
16 Mei
Aku sakit. Ya, benar-benar sakit.
Padahal bulan lalu tubuhku terasa segar bugar. Sekarang, demamku aneh—bukan demam panas menggigil, melainkan semacam ketegangan membara yang terus-menerus menyiksa, bukan cuma jasmani, tapi juga pikiranku.
Ada perasaan mengerikan yang tak kunjung pergi: seolah-olah ada sesuatu yang mengancam dari kejauhan, mendekat perlahan. Kecemasan akan bencana yang belum terjadi—atau mungkin kematian itu sendiri—membayang terus seperti firasat buruk yang tak bisa dijelaskan.
Mungkin ini awal dari penyakit yang belum dikenali, yang tumbuh diam-diam dalam daging dan darah, seperti benih jahat yang menunggu saatnya mekar.
18 Mei
Baru saja aku pulang dari menemui dokter. Sudah beberapa malam aku tak bisa tidur, dan aku nyaris tak tahan lagi.
Kata dokter, nadiku cepat, mataku membesar, sarafku tegang. Tapi selain itu, tidak ada tanda-tanda mengkhawatirkan.
Saran beliau? Mandi pancuran dingin dan kalium bromida. Seolah itu cukup untuk menenangkan badai yang mengaduk dadaku.
25 Mei
Tak ada perubahan. Sama sekali.
Keadaanku… sungguh aneh.
Setiap senja tiba, perasaan gelisah yang tak bisa dijelaskan merayapi diri—seolah malam membawa serta ancaman mengerikan yang bersembunyi di balik kegelapannya.
Aku makan malam dengan cepat, lalu mencoba membaca. Tapi kata-kata kehilangan makna, huruf-huruf pun tampak kabur.
Lalu aku mondar-mandir di ruang tamu, dihimpit rasa takut yang membingungkan dan tak tertahankan. Bukan sekadar cemas… tapi takut akan tidur. Takut pada tempat tidurku sendiri.
Sekitar pukul sepuluh, aku naik ke kamar. Begitu masuk, langsung kukunci dan kugembok pintunya rapat-rapat.
Aku takut. Tapi… takut apa?
Aku tak tahu. Selama ini aku bukan tipe penakut. Tapi sekarang, aku membuka lemari, mengintip kolong tempat tidur, lalu berdiri diam sambil… mendengarkan. Tapi untuk apa? Mendengarkan siapa?
Aneh, ya, betapa hal sepele—sirkulasi darah yang terganggu, mungkin iritasi saraf kecil, atau kemacetan kecil dalam mekanisme tubuh kita yang rapuh—bisa mengubah orang yang ceria jadi murung, dan membuat seorang pemberani jadi pengecut.
Akhirnya aku berbaring, dan menunggu tidur seperti seseorang yang menanti algojo.
Aku menunggu dengan rasa takut yang tak masuk akal. Jantungku berdebar kencang, kakiku gemetar, dan tubuhku menggigil di balik selimut yang hangat, sampai akhirnya… aku terlelap, mendadak, seperti orang yang melemparkan diri ke dalam kolam yang tenang untuk mengakhiri semuanya.
Tidur itu tak lagi datang seperti dulu—pelan-pelan dan mengayun lembut. Sekarang… rasanya ia mengawasi dari dekat, menunggu saat yang tepat untuk menyergap. Tidur itu seperti makhluk jahat yang ingin mencengkeram kepalaku, menutup mataku, dan… melenyapkanku.
Aku tertidur. Lama. Dua atau tiga jam, mungkin.
Lalu datanglah mimpi.
Bukan mimpi. Mimpi buruk.
Aku sadar bahwa aku sedang tidur dan berada di tempat tidur. Aku tahu itu. Aku merasakannya.
Tapi aku juga merasa ada sesuatu… atau seseorang… mendekat. Ia menatapku. Menyentuhku. Naik ke tempat tidurku.
Ia berlutut di dadaku… dan tangannya meraih leherku. Menekannya. Mencekik sekuat tenaga.
Aku berusaha melawan—tapi tubuhku lumpuh, seperti yang sering terjadi dalam mimpi-mimpi buruk. Aku ingin berteriak… tapi tak bisa. Ingin bergerak… tapi tubuhku tak mau menurut.
Dengan segenap tenaga, hampir kehabisan napas, aku mencoba membalikkan badan, melepaskan diri dari sosok yang menghimpit dan mencekikku… tapi sia-sia.
Dan tiba-tiba aku terbangun. Tersentak. Tubuhku basah oleh keringat.
Aku buru-buru menyalakan lilin—dan aku sendirian.
Begitulah setiap malam.
Setelah badai itu lewat, aku akhirnya bisa tertidur kembali—dan baru terbangun saat pagi menyapa dengan damainya.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Le Horla karya Guy de Maupassant ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.