Bagian 13 β Tukang Besi dari Rouen
20 Agustus
Aku akan membunuhnya.
Aku telah melihatnya!
Kemarin, aku duduk di meja tulisku dan pura-pura menulis dengan sungguh-sungguh, seolah tenggelam dalam pekerjaan. Tapi sesungguhnya aku sudah tahuβyakinβbahwa Dia akan datang, mengendap-endap di sekelilingku. Dekat sekali. Begitu dekat hingga mungkin, hanya mungkin, aku bisa menyentuhnya. Menangkapnya.
Dan saat itulah, aku pikir, aku akan memiliki kekuatan dari keputusasaan. Tangan, lutut, dada, dahi, bahkan gigiβakan kupakai untuk mencekiknya, meremukkannya, menggigit dan mencabik tubuhnya. Aku menunggunya dengan semua sarafku yang tegang, siaga, seperti senar biola yang bisa putus kapan saja.
Aku menyalakan dua lampu, juga delapan lilin di atas perapian, seolah dengan cahaya sebanyak itu aku bisa memergokinya.
Tempat tidurkuβranjang tua dari kayu ek dengan tiang-tiang besarβberada di seberangku. Di sisi kanan, perapian. Di kiri, pintu yang tadi sempat kubiarkan terbuka untuk memancingnya, lalu kututup rapat-rapat.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.