Harriet Brandt dan Mereka yang Dianggap “Vampir” oleh Masyarakatnya
MENERJEMAHKAN The Blood of the Vampire karya Florence Marryat berarti membawa pembaca Indonesia pada sebuah persimpangan unik antara gotik, horor, dan kritik sosial.
Novel ini terbit tahun 1897—tahun yang sama dengan Dracula. Namun, jika Stoker menulis tentang bangsawan Transylvania yang menakutkan, Marryat menghadirkan horor yang lebih subtil dan psikologis: seorang perempuan muda bernama Harriet Brandt yang dianggap “vampir” karena warisan darahnya.
Dalam konteks sejarah, novel ini lahir di tengah kecemasan Inggris terhadap kolonialisme, percampuran ras, dan posisi perempuan di masyarakat. Harriet digambarkan sebagai anak hasil hubungan terlarang—ayahnya seorang ilmuwan eksentrik, ibunya berdarah campuran.
Sejak awal, ia dicap “lain”, dan stigma itu mengikuti ke mana pun ia pergi. Bahkan ketika Harriet berusaha menjadi bagian dari masyarakat Eropa yang sopan, ia tetap ditakuti.
Marryat, yang sepanjang hidupnya tertarik pada spiritualisme dan fenomena supranatural, tampaknya menggunakan kisah ini untuk menggugat norma sosial. Dengan menjadikan Harriet sebagai tokoh yang ambigu—apakah ia benar-benar vampir atau hanya korban prasangka—Marryat mengajak pembaca melihat betapa rapuhnya batas antara “yang normal” dan “yang terkutuk”.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini terasa relevan karena persoalan diskriminasi dan stereotipe masih kita jumpai dalam berbagai bentuk.
Harriet bisa dilihat sebagai simbol orang-orang yang ditolak hanya karena berbeda asal usul atau tubuhnya dianggap “asing”. Membaca kisahnya memberi kita kesempatan merenungkan kembali bagaimana masyarakat menciptakan “monster” dari orang yang sebetulnya hanya ingin dicintai.
Dalam penerjemahan ini, kami berusaha menjaga nuansa gotik khas abad ke-19, dengan bahasa yang tetap mengalir dan mudah dinikmati pembaca modern. Dialog yang panjang dan melodramatis sengaja dipertahankan ritmenya, agar atmosfer tegang dan ironis tetap hidup. Namun, kami juga menyesuaikan diksi agar tidak kaku atau terlalu arkais bagi pembaca masa kini.
Alasan karya ini dipilih sebagai prioritas terjemahan adalah karena kelangkaannya. Berbeda dengan Dracula yang sudah berulang kali diterjemahkan, The Blood of the Vampire hampir tak dikenal dalam dunia terjemahan sastra klasik berbahasa Indonesia.
Ini menarik. Pasalnya, karya ini menawarkan sudut pandang yang segar dan unik: vampir bukan sekadar makhluk gaib, melainkan sebuah label sosial yang lahir dari ketakutan terhadap percampuran ras dan ketidakpatuhan perempuan.
Dengan menerjemahkan karya ini, kami berharap pembaca dapat menikmati sebuah kisah horor klasik yang bukan hanya menyeramkan, tetapi juga sarat makna.
Harriet Brandt mungkin hidup di abad ke-19, namun pertanyaannya tetap relevan hingga kini: siapa sebenarnya “vampir”? Apakah mereka yang berbeda, atau masyarakat yang menolak untuk menerima keberbedaan?
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.