Harriet Brandt dan Mereka yang Dianggap “Vampir” oleh Masyarakatnya
FLORENCE MARRYAT menulis The Blood of the Vampire pada tahun 1897—tahun yang sama dengan terbitnya Dracula. Namun kedua novel ini lahir dari dua dunia yang sangat berbeda.
Bila Bram Stoker menghadirkan vampir aristokrat yang mengancam dari luar peradaban Eropa, Marryat menghadirkan vampir yang ditakuti bukan karena taring atau malam pekat, tetapi karena ia mencerminkan kecemasan masyarakat Victoria terhadap isu yang jauh lebih dekat: ras, gender, dan batas-batas sosial yang mulai retak.
Dalam tradisi sastra Gothic akhir abad ke-19, “monster” sering kali menjadi proyeksi dari ketakutan kolektif. Namun Marryat melakukan sesuatu yang lebih radikal: ia menjadikan tubuh seorang perempuan muda berkulit campuran sebagai arena benturan identitas.
Harriet Brandt bukan makhluk supernatural; ia adalah simbol dari apa yang dianggap “genting” oleh masyarakat Inggris pada masa kolonial: perempuan yang tidak patuh, ras yang tidak murni, dan kehidupan emosional yang tidak dapat dikendalikan oleh aturan sosial.
Kami harus menyadari bahwa karya ini berada pada posisi yang rumit. Di satu sisi, novel ini mencatat dengan jujur bagaimana masyarakat kolonial memperlakukan orang-orang keturunan campuran—sebuah realitas yang pahit, bahkan kejam.
Di sisi lain, sebagian pandangan dalam cerita ini, terutama yang keluar dari mulut tokoh-tokoh kelas menengah Inggris, merupakan refleksi dari rasisme zamannya. Menerjemahkan novel ini berarti menerima bahwa kita sedang berhadapan dengan teks yang lahir dari ketakutan kolonial, bukan dari pengetahuan modern.
Karena itu, terjemahan ini berusaha untuk setia pada nada aslinya: ironi halus, ketegangan sosial, dan kritik terselubung terhadap masyarakat Victoria. Namun kami memilih bahasa Indonesia yang mengalir dan elegan, agar narasi ini tidak jatuh menjadi catatan sejarah kaku, melainkan tetap menjadi karya sastra yang dapat dinikmati serta direnungkan oleh pembaca masa kini.
Tema vampirisme dalam novel ini tidak boleh dipahami secara harfiah. Marryat menggunakan istilah “vampir” untuk menyindir cara masyarakat menciptakan monster dari orang-orang yang seharusnya mereka kasihi.
Harriet dianggap sebagai vampir bukan karena ia mengisap darah, tetapi karena ia “menguras kehidupan” orang-orang yang terlalu dekat dengannya—sebuah metafora yang, dalam konteks zamannya, berkait erat dengan wacana eugenika dan ketakutan terhadap “kemunduran” ras.
Sebagai pembaca modern, kita mungkin merasa tidak nyaman ketika membaca bagaimana tokoh-tokoh dalam novel ini menilai Harriet berdasarkan keturunan dan penampilannya. Ketidak-nyamanan itu penting, karena di sanalah relevansi novel ini lahir: ia mengingatkan kita pada masa ketika ketakutan terhadap “yang lain” dijadikan dasar moralitas.
Harriet Brandt bukan vampir. Ia adalah korban dari masyarakat yang menolak melihat manusia di balik prasangka.
Terjemahan ini tidak bertujuan menutupi sisi gelap tersebut. Justru, kami ingin menjaga agar pembaca Indonesia dapat merasakan kerumitan sosial yang menjadi inti novel ini.
Bahasa Indonesia yang dipilih untuk terjemahan ini berusaha menonjolkan sisi emosional Harriet—ketakutannya, harapannya, dan kegairahannya yang naif—tanpa menghapus ironi yang disengaja oleh Marryat.
Kami berharap pembaca dapat menikmati novel ini bukan sebagai kisah horor dalam arti sempit, melainkan sebagai potret sosial tentang bagaimana masyarakat kolonial mengonstruksi “monster”, sesuatu yang dianggap sebagai ancaman menakutkan.
Dalam dunia Harriet, monster bukanlah makhluk malam, melainkan rumor yang beredar di ruang tamu, tatapan merendahkan di pesta dansa, dan doktrin ilmiah palsu yang menyamarkan rasisme sebagai kebenaran universal.
Dengan demikian, The Blood of the Vampire bukan hanya cerita tragedi seorang perempuan, tetapi juga peringatan: betapa mudahnya kita menciptakan vampir dari orang-orang yang sebenarnya hanya ingin dicintai.
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.