Bab 2 – Pelukan yang Membuat Serba Salah
⢠The Blood of the Vampire â˘
DIGUE sudah dipadati orang pada saat itu. Seluruh Heyst telah berduyun-duyun menikmati udara malam dan merasakan keceriaan tempat itu.
Sebuah band bermain di orkes bergerak, yang ditarik oleh tiga keledai kecil kurus, hari demi hari, dari ujung Digue yang satu ke ujung lainnya. Malam ini, gilirannya berada di tengah, di mana segerombolan orang duduk di kursi-kursi cat hijau yang biaya sewanya sepuluh centime per buah, sementara anak-anak menari, atau berlari liar berputar-putar di dasarnya.
Semua orang telah berganti pakaian pantai mereka dengan busana yang lebih modisâbahkan anak-anak pun berbalut gaun putih dan topi pestaâdan seluruh pemandangan terlihat riang dan meriah.
Harriet Brandt berlari dari satu sisi ke sisi lain Digue, seolah ia juga seorang anak kecil. Segala sesuatu yang dilihatnya seakan membuatnya takjub dan senang.
Pertama, ia menatap ke air yang tenang dan teduhâlalu berikutnya, ia berteriak-teriak kagum pada barang-barang rongsokan berupa keranjang bersulam, atau cangkang bercat, yang dipajang di etalase toko, yang berjejer berdampingan dengan rumah-rumah pribadi dan hotel, membentuk barisan bangunan panjang yang menghadap ke air.
Ia terus-menerus menyatakan ingin membeli ini atau itu, dan meratapi karena tidak membawa lebih banyak uang.
“Kau akan punya banyak kesempatan untuk memilih dan membeli yang kau inginkan besok,” kata Mrs. Pullen, “dan kau akan bisa menilai lebih baik seperti apa barang-barang itu. Mereka terlihat lebih bagus di bawah cahaya lampu gas daripada di siang hari, kujamin, Miss Brandt!”
“O! Tapi mereka cantikâmenyenangkan!” jawab gadis itu, antusias, “Aku belum pernah melihat sesuatu yang secantik ini sebelumnya! Lihatlah boneka kecil itu dengan pakaian renang, dengan topinya di satu tangan, sponsnya di tangan lainnya! Dia menawanâunik! Tout ce quâil y a de plus beau!“
Ia berbicara bahasa Prancis dengan sempurna, dan ketika berbicara bahasa Inggris, ada aksen asing sedikit yang justru menambah pesonanya.
Hal itu membuat Mrs. Pullen berkomentar: “Kau lebih terbiasa berbicara bahasa Prancis daripada Inggris, Miss Brandt?”
“Ya! Kami selalu berbicara bahasa Prancis di biara, dan itu umum digunakan di pulau itu. Tapi kukiraâkuharapâaku berbicara bahasa Inggris seperti wanita Inggris! Aku adalah wanita Inggris, kau tahu!”
“Benarkah? Aku tidak begitu yakin! Brandt terdengar agak Jerman!”
“Tidak! Ayahku orang Inggris, namanya Henry Brandt, dan ibuku adalah Miss Careyâputri salah satu hakim di Barbados!”
“O! Begitu!” balas Mrs. Pullen.
Mrs. Pullen tidak tahu harus berkata apa lagi. Topik itu tidak menarik baginya! Pada saat itu mereka berpapasan dengan pengasuh dan kereta bayi, dan ia secara alami berhenti untuk berbicara pada bayinya.
Pemandangan bayi itu seakan membuat Miss Brandt menjadi liar.
“O! Apakah itu bayimu, Mrs. Pullen, benarkah itu bayimu?” serunya dengan bersemangat, “Kau tidak pernah memberitahuku kau punya bayi. O! Sayangku! Malaikat kecil yang manis! Aku suka bayi-bayi kulit putih! Aku memujanya.
âMereka begitu manis, segar, dan bersihâsangat berbeda dengan anak-anak negro kecil yang baunya tidak enak, sampai kau tidak akan menyentuhnya! Kami tidak pernah melihat bayi di biara, dan sangat sedikit anak-anak Inggris yang hidup sampai dewasa di Jamaika!
âO! Biarkan aku menggendongnya! Biarkan aku membawanya! Aku harus menggendongnya!”
Ia hendak menyambar bayi itu ke pelukannya, ketika ibu si bayi mencegah.
“Tidak, Miss Brandt, tolong, jangan malam ini! Dia baru setengah terbangun, dan sudah mencapai usia di mana dia takut pada orang asing. Mungkin lain waktu, ketika dia sudah terbiasa denganmu, tapi tidak sekarang!”
“Tapi aku akan sangat hati-hati dengannya, Sayangku!” bersikeras gadis itu, “Aku akan menggendongnya dengan sangat lembut, sampai dia tertidur lagi di pelukanku. Ayo! Cintaku kecil, ayo!” lanjutnya pada bayi, yang menyembungkan bibirnya dan tampak seperti akan menangis.
“Jangan ganggu dia!” seru Elinor Leyton dengan suara tajam. “Tidakkah kau dengar apa yang dikatakan Mrs. Pullenâbahwa kau tidak boleh menyentuhnya!”
Miss Leyton berbicara begitu getir, sampai Margaret Pullen yang lembut merasa sedih melihat wajah ngeri yang menyambar wajah Harriet Brandt mendengarnya.
“O! Maafâaku tidak bermaksudâ” ia gagap, dengan melirik ke Margaret.
“Tentu kau tidak bermaksud apa pun selain kebaikan,” kata Mrs. Pullen, “Miss Leyton paham betul akan hal itu, dan ketika bayi sudah terbiasa denganmu, kurasa dia akan sangat berterima kasih atas perhatianmu.
âTapi malam ini dia mengantuk dan lelah, dan, mungkin, sedikit rewel. Bawa dia pulang, Nanny,” lanjutnya, “dan tidurkan dia! Selamat malam, Manisku!” dan kereta bayi melewati mereka dan pergi.
Kesunyian canggung terjadi di antara ketiga wanita setelah insiden kecil ini. Elinor Leyton berjalan agak terpisah dari teman-temannya, seolah ingin menghindari kontroversi lebih lanjut, sementara Margaret Pullen mencari cara untuk menebar kekasaran temannya pada pendatang muda itu.
Tak lama kemudian mereka menemukan salah satu cafĂŠs chantants yang menempel pada hotel-hotel tepi pantai, dan yang diterangi dengan gemerlap. Tenda besar dibentangkan di luar, untuk menaungi beberapa lusin kursi dan meja, yang sebagian besar sudah diduduki.
Jendela salon hotel telah dibuka lebar-lebar, untuk menampung beberapa penyanyi dan musisi, yang maju bergiliran dan berdiri di ambang pintu untuk menghibur penonton.
Saat mereka mendekati tempat itu, seorang tenor berbaju sore sedang menyanyikan lagu cinta, sementara para musisi mengiringi suaranya dari dalam salon, dan para penghuni kursi mendengarkan dengan perhatian terpukau.
“Sungguh menawan! Sungguh menyenangkan!” seru Harriet Brandt, saat mereka sampai di tempat itu, “Aku belum pernah melihat yang seperti ini di pulau itu!”
“Kau sepertinya belum pernah melihat apa pun!” ujar Miss Leyton, dengan mengejek.
Miss Brandt melirik meminta maaf pada Mrs. Pullen.
“Bagaimana aku bisa melihat apa pun, ketika aku di biara?” katanya, “Aku tahu ada tempat-tempat hiburan di pulau itu, tapi aku tidak pernah diizinkan pergi ke mana pun. Dan di London, tidak ada yang bisa menemaniku pergi!
âAku sangat ingin masuk ke sana,” sambil menunjuk cafĂŠ itu. “Maukah kalian menemaniku, maksudku kalian berdua, dan aku yang akan bayar semuanya! Aku punya banyak uang, kau tahu!”
“Tidak ada yang perlu dibayar, Sayang, kecuali kau memesan minuman,” jawab Margaret. “Ya, aku akan menemanimu tentu, jika kau sangat menginginkannya! Elinor, kau tidak keberatan, bukan?”
Namun Miss Leyton sedang sibuk berbicara dengan Monsieur dan Mademoiselle Vieuxtempsâsepasang kakak beradik tua, tinggal di Lion d’Orâyang berhenti untuk mengucapkan selamat malam padanya!
Mereka orang-orang tua yang baik dan terhormat, tapi agak monoton dan membosankan, dan Elinor Leyton lebih dari sekali mengolok-olok cara bicara mereka dan menyatakan mereka orang yang paling menyebalkan.
Mrs. Pullen menyimpulkan bahwa Miss Leyton akan meninggalkan mereka segera setelah kesopanan mengizinkannya, dan mengikutinya. Dengan senyum dan sungkem pada keluarga Vieuxtemps, ia menerobos kerumunan dengan Harriet Brandt, ke tempat ia melihat tiga kursi kosong, dan mendudukinya.
Itu bukan kursi yang bagus untuk mendengar atau melihat, karena berada di satu sisi salon, dan berada dalam bayangan, tapi tempat itu begitu penuh sampai ia tidak melihat kesempatan untuk mendapatkan yang lain.
Begitu mereka duduk, pelayan datang untuk mengambil pesanan, dan dengan susah payah Mrs. Pullen mencegah temannya membeli minuman keras dan kue yang cukup untuk melayani dua kali lipat jumlah mereka.
“Kau harus mengizinkanku membayar sendiri, Miss Brandt,” katanya dengan serius, “atau aku tidak akan pernah menemanimu ke mana pun lagi!”
“Tapi aku punya banyak uang,” bujuk gadis itu, “jauh lebih banyak daripada yang kuketahui harus diapakanâitu akan menjadi kesenangan bagiku, sungguh!”
Akan tetapi Mrs. Pullen bersikeras, dan hanya tiga limonades yang diletakkan di atas meja mereka. Elinor Leyton belum juga muncul, dan Mrs. Pullen terus menjulurkan lehernya mengintai di atas kursi-kursi lain untuk mencari di mana ia berada, tanpa hasil.
“Dia tidak mungkin kehilangan kita!” ujarnya, “Aku ingin tahu apakah dia melanjutkan jalan-jalannya dengan keluarga Vieuxtemps!”
“O! Apa pentingnya?” kata Harriet, mendorong kursinya lebih dekat ke kursi Mrs. Pullen, “kita baik-baik saja tanpanya. Menurutku dia tidak terlalu baik, menurutmu?”
“Kau tidak boleh berbicara tentang Miss Leyton seperti itu padaku, Miss Brandt,” tegur Margaret dengan lembut, “karenaâdia adalah teman dekat keluarga kami.”
Ia hampir berkata, “Karena dia akan menjadi kakak iparku tidak lama lagi,” tapi kemudian teringat permintaan Elinor, dan menggantinya dengan kalimat lain.
“Tapi kurasa dia tidak terlalu baik,” bersikeras yang lain.
“Itu hanya sikapnya, Miss Brandt! Dia tidak bermaksud apa-apa!”
“Tapi kau sangat berbeda,” kata gadis itu sambil merayap lebih dekat lagi, “Aku bisa melihatnya saat kau tersenyum padaku saat makan malam. Aku langsung tahu aku akan menyukaimu. Dan aku ingin kau juga menyukaikuâsangat ingin!
âImpian seumur hidupku adalah memiliki beberapa teman. Itu sebabnya aku tidak mau tinggal di Jamaika. Aku tidak suka orang-orang di sana! Aku ingin temanâteman sejati!”
“Tapi kau pasti punya banyak teman seusiamu di biara.”
“Itu menunjukkan kau tidak tahu apa-apa tentang biara! Itu tempat terakhir yang mengizinkanmu bertemanâmereka takut kalian saling menceritakan terlalu banyak! Biara tempatku berada adalah Ordo Ursulin, dan bahkan para biarawati pun diwajibkan berjalan bertiga-tiga, tidak pernah berdua, agar tidak ada rahasia di antara mereka.
âUntuk kami para gadis, kami tidak pernah ditinggal sendirian sedetik pun! Selalu ada suster bersama kami, bahkan di malam hari, berjalan bolak-balik di antara deretan tempat tidur, pura-pura membaca doanya, tapi matanya mengawasi kami sepanjang waktu dan telinganya terbuka untuk menangkap apa yang kami bicarakan.
âKukira mereka takut kami akan membicarakan tentang kekasih. Kurasa gadis-gadis memang membicarakan soal itu ketika bisa, lebih banyak di biara daripada di tempat lain, meski mereka belum pernah memilikinya. Akan sangat mengerikan menjadi seperti para biarawati malang itu, dan tidak pernah memiliki kekasih sampai akhir hayat, bukan?”
“Kalau begitu kau tidak ingin menjadi biarawati, Miss Brandt!”
“AkuâOh! Tentu tidak! Aku lebih baik mati, dua puluh kali lipat! Tapi mereka sama sekali tidak suka aku keluar. Mereka berusaha sangat keras membujukku untuk tinggal bersama mereka selamanya!
âSalah satunya, Suster FĂŠodore, bilang aku tidak boleh berbicara bahkan dengan pria, jika bisa dihindariâbahwa mereka semua jahat dan tidak ada perkataan mereka yang benar, dan jika aku mempercayai mereka, mereka hanya akan menertawakanku kemudian. Tapi aku tidak percaya itu, menurutmu?”
“Tentu tidak!” jawab Margaret dengan hangat. “Suster yang mengatakan itu tidak tahu apa-apa tentang pria. Suamiku tercinta lebih seperti malaikat daripada seorang pria biasa, dan ada banyak seperti dia. Kau tidak boleh percaya omong kosong seperti itu, Miss Brandt! Aku yakin kau tidak pernah mendengar orang tuamu mengatakan hal bodoh seperti itu!”
“O! Papa dan mamaku! Aku tidak ingat pernah mendengar mereka mengatakan apa pun!” jawab Miss Brandt. Ia merayap semakin dekat ke Mrs. Pullen saat berbicara, dan kini melingkarkan lengannya di pinggang Margaret, serta menyandarkan kepalanya di bahu teman bicaranya.
Itu bukan posisi yang disukai Margaret, juga tidak ia harapkan dari seorang wanita yang baru begitu sebentar dikenalnya, tapi ia tidak ingin tampak tidak baik dengan menyuruh Miss Brandt menjauh.
Gadis malang itu jelas sekali tidak terbiasa dengan cara dan adat masyarakat umum, juga tampak sangat kesepian dan bergantungâjadi Margaret menganggap kekeliruan tindakan Miss Brandt itu karena ketidak-tahuan dan membiarkan kepala gadis itu tetap berada di tempatnya, sementara dalam hati bertekad tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan dengan begitu akrab lagi.
“Jadi kau tidak ingat orang tuamu?” tanyanya setelah beberapa saat.
“Hampir tidak! Aku sangat jarang melihat mereka,” kata Miss Brandt, “Papaku adalah dokter dan ilmuwan hebat, aku yakin begitu, dan aku tidak terlalu yakin apakah dia tahu bahwa dia punya seorang putri!”
“O! Sayang, omong kosong apa itu!”
“Tapi itu benar, Mrs. Pullen! Dia selalu mengunci diri di laboratoriumnya, dan aku tidak diizinkan mendekati bagian rumah itu. Kukira dia sangat pintar dan semua ituâtapi dia terlalu sibuk melakukan eksperimen untuk memperhatikanku, dan aku yakin aku tidak pernah ingin melihatnya!”
“Sungguh sangat menyedihkan! Tapi kau punya mamamu untuk mendapatkan penghiburan dan teman, selagi dia hidup, tentunya?”
“O! Mamaku!” sahut Harriet, dengan acuh. “Ya! Mamaku! Yah! Kurasa aku juga tidak terlalu banyak mengenalnya. Para wanita di Jamaika menjadi sangat malas, kau tahu, dan banyak menghabiskan waktu di kamar mereka sendiri. Orang yang paling kusayang di sana adalah Pete tua, si pengawas!”
“Pengawas!”
“Perkebunan dan para negro, kau tahu! Kami punya banyak negro di perkebunan kopi, orang-orang Afrika biasa, dengan kepala berbulu dan bibir tebal, dan putih mata yang kuning.
âSaat aku masih kecil berusia empat tahun, Pete biasa mengizinkanku mencambuk negro kecil sebagai hadiah, ketika mereka berbuat salah. Itu selalu membuatku tertawa melihat mereka menggeliatkan kaki di bawah cambukan dan menangis!”
“O! Jangan, Miss Brandt!” seru Margaret Pullen, dengan suara kesakitan.
“Itu benar, tapi mereka pantas mendapatkannya, kau tahu, makhluk-makhluk kecil itu, selalu mencuri atau berbohong atau melakukan sesuatu! Aku pernah melihat seorang wanita dicambuk sampai mati, karena dia tidak mau bekerja. Kami menganggap biasa hal semacam itu, di sana.
âTapiâkau tidak bisa menyalahkanku karena senang bisa keluar dari pulau itu. Tapi aku menyayangi Pete tua, dan jika dia masih hidup ketika aku pergi, aku akan membawanya ke Inggris bersamaku.
âDia biasa menggendongku bermil-mil melalui hutan di punggungnya,âkeluar di pagi hari yang segar dan senja yang sejuk dan berembun. Aku punya kuda poni untuk ditunggangi, tapi aku tidak pernah pergi ke mana pun, tanpa tangannya memegang tali kekangku. Dia selalu sangat takut kalau-kalau aku celaka.
âKurasa tidak ada orang lain yang peduli padaku. Pete adalah satu-satunya makhluk yang pernah mencintaiku, dan ketika aku memikirkan Jamaika, aku mengingat pelayan negro tuaku sebagai satu-satunya teman yang kupunyai di sana!”
“Sangat, sangat menyedihkan!” itu saja yang bisa dikatakan Mrs. Pullen.
Wajah Mrs. Pullen menjadi semakin pucat dan pucat, saat Miss Brandt bersandar padanya dengan kepala di dadanya. Suatu sensasi yang tidak bisa ia jelaskan, atau ia pahamiâsuatu perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnyaâtelah melandanya dan membuat kepalanya pusing.
Ia merasa seolah-olah sesuatu atau seseorang, sedang menarik seluruh hidupnya. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan gadis itu, tapi Harriet Brandt seakan mengikutinya, seperti ular yang melingkar, sampai ia tidak bisa menahannya lagi, dan dengan lemah berseru:
“Miss Brandt! Tolong lepaskan aku! Aku merasa tidak enak badan!” ia berdiri dan berusaha menerobos di antara meja-meja yang penuh, menuju udara terbuka. Saat terhuyung-huyung, ia menabrak (dengan lega besar) temannya, Elinor Leyton.
“O! Elinor!” ia seakan hendak terkapar, “Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku! Aku merasa sangat aneh, pening! Tolong antarkan aku pulang!”
Miss Leyton menyeretnya melalui penonton, dan menyuruhnya duduk di bangku, menghadap laut.
“Lho! Ada apa?” tanya Harriet Brandt, yang mengikuti mereka, “apa Mrs. Pullen sakit?”
“Sepertinya begitu,” jawab Miss Leyton, dingin, “tapi bagaimana itu terjadi, kau seharusnya tahu lebih baik dariku! Kukira di dalam sana sangat panas!”
“Tidak! Tidak! Kurasa tidak,” kata Margaret, dengan wajah bingung, “kursi kami dekat dengan sisi. Dan Miss Brandt sedang bercerita tentang kehidupannya di Jamaika, ketika sensasi luar biasa melandaku! Aku tidak bisa menggambarkannya! Rasanya seperti aku dikeruk hingga kosong!”
Mendengar deskripsi ini, Harriet Brandt meledak dengan tawa keras, tapi Elinor membalasnya dengan cemberut.
“Bagimu mungkin tampak lucu, Miss Brandt,” kata Miss Leyton, dengan nada dingin yang sama, “tapi tidak bagiku. Mrs. Pullen jauh dari kuat, dan kesehatannya tidak boleh diremehkan. Bagaimanapun, aku tidak akan melepaskannya dari penglihatanku lagi.”
“Jangan dibuat ribut, Elinor,” bujuk temannya, “itu salahku sendiri, jika ada yang salah. Kurasa pasti ada badai petir di udara, aku merasa sangat tertekan sepanjang malam. Atau apakah bau dari bukit pasir lebih buruk dari biasanya? Mungkin aku makan sesuatu saat makan malam yang tidak cocok!”
“Aku tidak mengerti sama sekali,” balas Miss Leyton, “kau tidak biasa pingsan, atau tiba-tiba terserang penyakit dengan cara apa pun. Tapi, jika kau merasa bisa berjalan, mari kita kembali ke hotel. Miss Brandt pasti akan menemukan seseorang untuk menghabiskan malam bersamanya!”
Harriet baru saja akan membalas bahwa ia tidak mengenal siapa pun selain mereka, dan menawarkan untuk menggandeng lengan Mrs. Pullen di sisi lain, ketika Elinor Leyton memotongnya.
“Tidak! Terima kasih, Miss Brandt! Mrs. Pullen, aku yakin, lebih suka kembali ke hotel sendirian bersamaku! Kau bisa dengan mudah bergabung dengan keluarga Vieuxtemps atau pengunjung Lion d’Or lainnya. Tidak banyak formalitas yang diterapkan di antara orang Inggris di tempat-tempat asing ini. Mungkin akan lebih baik jika ada sedikit lebih banyak!
âAyo, Margaret, gandeng lenganku, dan kita akan berjalan pelan-pelan sesukamu! Tapi aku tidak akan tenang sampai melihatmu aman di kamarmu sendiri!”
Maka kedua wanita itu berangkat bersama, meninggalkan Harriet Brandt berdiri muram di Digue, menyaksikan kepergian mereka. Mrs. Pullen telah mengucapkan selamat malam yang lemah pada gadis itu, tapi tidak memintanya ia untuk pulang bersama mereka, dan bagi Miss Brandt seolah-olah mereka berdua, dalam beberapa hal, menyalahkannya atas penyakit temannya.
Apa yang telah ia lakukan, tanyanya pada diri sendiri, sambil mengingat-ingat apa yang terjadi di antara mereka, yang bisa menjelaskan penyakit Mrs. Pullen?
Miss Brandt sangat menyukai Mrs. Pullenâsangatâia sangat berharap akan menjadi teman wanita tersebutâia akan melakukan apa pun dan memberikan apa pun daripada merepotkannya dengan cara apa pun.
Saat kedua wanita itu perlahan menghilang dari pandangan, Miss Brandt berbalik dengan sedih dan berjalan ke arah lain. Ia merasa kesepian dan kecewa. Ia tidak mengenal siapa pun untuk diajak bicara, dan ada perasaan hampa dan dingin di dadanya, seolah-olah, dengan kehilangan pegangan pada Margaret Pullen, ia telah kehilangan sesuatu yang diandalkannya.
Sebagian dari perasaannya pasti telah tersampaikan pada Margaret Pullen, karena setelah satu atau dua menit ia berhenti dan berkata, “Aku tidak tega meninggalkan Miss Brandt sendirian, Elinor! Dia terlalu muda untuk berkeliaran di kota sendirian di malam hari!”
“Omong kosong!” balas Miss Leyton, singkat, “Wanita muda yang bisa melakukan perjalanan dari Jamaika ke Heyst sendiri, berkeliaran di London selama seminggu dalam perjalanan, pasti mampu berjalan kembali ke hotel tanpa bantuanmu. Menurutku Miss Brandt adalah wanita muda yang sangat mandiri!”
“Mungkin, secara alami begitu, tapi dia sudah terkungkung di biara selama sebagian besar hidupnya, dan itu tidak dianggap sebagai persiapan yang baik untuk berjuang menghadapi dunia!”
“Dia akan bisa memperjuangkan pertarungannya sendiri, jangan khawatir!” jawab Elinor.
Tepat saat itu mereka berpapasan dengan Bobby Bates, yang mengangkat topinya saat buru-buru melewati mereka.
“Mau ke mana cepat-cepat, Mr. Bates?” kata Elinor Leyton.
“Aku akan kembali ke hotel untuk mengambil boa bulu Mama!” jawabnya.
Saat itu mereka sedang melewati lampu yang menyala, dan ia memperhatikan bahwa mata pemuda itu merah, dan raut wajahnya menunjukkan bekas kesedihan.
“Kau sakit?” tanyanya cepat, “atau ada masalah?”
Mr. Bates berhenti sebentar dalam langkahnya.
“Tidak! Tidak! Tidak juga,” katanya dengan suara rendah, dan kemudian, seolah kata-kata itu keluar darinya terpaksa, ia melanjutkan, “Tapi O! Aku benar-benar berharap seseorang berbicara pada Mama tentang caranya memperlakukan aku.
âSungguh kejamâdia memukulku dengan tongkatnya di depan semua orang itu, seolah aku masih bayi, dan memanggilku dengan nama-nama seperti itu! Bahkan pelayan William menertawakanku! Apakah semua ibu melakukan hal yang sama, Miss Leyton? Haruskah seorang pria menerima perlakuan begitu dengan diam?”
“Tentu saja tidak!” seru Elinor, tanpa ragu-ragu.
“O! Elinor! Ingat, dia adalah ibunya,” tegur Margaret, “jangan katakan apa pun yang membuatnya melawan ibunya!”
“Tapi aku sudah berusia sembilan belas tahun,” lanjut pemuda itu, “dan kadang-kadang dia memperlakukan aku dengan cara yang tidak bisa kutahan! Baron tidak berani mengucapkan sepatah kata pun padanya! Dia memakinya begitu keras. Kadang-kadang, aku berpikir untuk kabur dan pergi ke laut!”
“Tidak! Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu!” panggil Miss Leyton setelahnya, saat Mr. Bates mempercepat langkahnya ke arah Lion d’Or.
“Wanita yang mengerikan!” desah Mrs. Pullen. “Bayangkan! Memukul putranya sendiri di depan umum, dan dengan tongkat tebal itu juga. Kuyakin dia sudah menangis!”
“Aku yakin dia menangis,” balas temannya, “kau bisa melihat orang malang itu setengah bodoh, dan juga sangat lemah. Kukira dia sudah memukul otaknya sampai lembek. Sungguh kemalangan yang mengerikan memiliki ibu seperti itu! Kau harus mendengar beberapa cerita yang dimiliki Madame Lamont tentangnya!”
“Tapi bagaimana dia mendengarnya?”
“Melalui pelayan Baron, William, kukira. Dia bilang Baroness sering mengambil tongkatnya pada dia dan pelayan lainnya, dan menganggap memaki mereka tidak lebih dari seorang prajurit! Mereka semua membencinya.
âSuatu hari, dia mengambil pisau dapur dan mendekati kusirnya dengannya, tapi dia menangkapnya dengan kedua tangan dan mendudukkannya di atas api, di mana dia hanya diselamatkan setelah agak parah terbakar!”
“Itu hal yang pantas untuknya!” seru Margaret, tertawa pada bayangan yang menggelikan itu, “tapi seperti apa penampilannya saat itu, duduk di atas kompor dapur! Di mana wanita ini dibesarkan? Orang seperti apa dia ini?”
“Bukan seperti yang dia klaim, Margaret, kau bisa yakin akan itu! Semua omongannya tentang para bangsawan hanyalah kebohongan. Tapi aku mengasihani Baron kecil yang malang, yang, bagaimanapun, tidak menyinggung. Bagaimana dia bisa tahan dengan istri seperti itu! Dia pasti kadang merasa sangat malu padanya!”
“Tapi dia tampak sangat mencintainya! Dia tidak pernah meninggalkan sisinya sedetik pun. Dia adalah tongkat jalannya, pengambil dan pembawanya, dan juru tulisnya. Aku tidak percaya dia bisa menulis surat!”
“Tapi dia berbicara di table d’hĂ´te kemarin tentang Duke Ini dan Earl Itu, dan mengisyaratkan bahwa dia pernah tinggal di Osborne dan Windsor. Tentu saja itu kebohongan! Dia tidak pernah melihat bagian dalam istana kecuali mungkin sebagai tukang bersih-bersih!
âSudahkah kau perhatikan rambutnya? Sekasar ekor kuda! Dan tangannya! Bobby memberitahuku beberapa hari lalu bahwa mamanya memakai sarung tangan ukuran sembilan! Dia bukan wanita, Sayang! Dia gajah betina!”
Margaret masih tertawa ketika mereka sampai di tangga Lion d’Or.
“Kau sangat nakal dan sangat penuh fitnah, Elinor,” katanya, “tapi kau telah sangat membantuku. Perasaan tidak enakku sudah hilang sama sekali. Aku cukup mampu melanjutkan jalan-jalan kita jika kau mau.”
“Tidak mungkin, Maâam,” jawab Miss Leyton. “Aku yang bertanggung jawab atas kesejahteraanmu dalam ketidak-hadiran Arthur. Naiklah dan masuklah ke tempat tidur, kecuali kau mau secangkir kopi dan chasse dulu. Itu satu-satunya kelonggaran yang bisa kuberikan.”
Akan tetapi Mrs. Pullen menolak tawaran penyegaran itu, dan kedua wanita itu pergi mencari kamar mereka bersama-sama.
đ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.