The Tomb (Makam)

Terbit perdana di The Vagrant pada Maret 1922

H. P. Lovecraft H. P. Lovecraft

👁️ 0 tayangan

DALAM menceritakan keadaan-keadaan yang telah membawaku ke tempat perlindungan bagi orang-orang yang kehilangan kewarasan ini, aku sadar bahwa keadaanku sekarang dengan sendirinya akan menimbulkan keraguan terhadap kebenaran kisahku. Sungguh disayangkan bahwa sebagian besar umat manusia memiliki pandangan mental yang terlalu terbatas untuk menimbang dengan sabar dan jernih fenomena-fenomena terpencil—yang hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh segelintir orang yang peka secara psikologis—yang berada di luar pengalaman mereka sehari-hari. Orang-orang yang pikirannya lebih luas mengetahui bahwa tidak ada batas tegas antara yang nyata dan yang tidak nyata; bahwa segala sesuatu tampak sebagaimana adanya hanya karena perantaraan halus, baik jasmani maupun batin, yang melaluinya kita dibuat sadar akan keberadaannya; tetapi materialisme dangkal kebanyakan manusia mengutuk sebagai kegilaan kilasan penglihatan yang menembus tabir empirisme yang kasatmata dan lumrah.

Namaku Jervas Dudley, dan sejak masa kanak-kanak aku telah menjadi seorang pemimpi dan pengkhayal. Kaya raya hingga tak perlu menjalani kehidupan yang berurusan dengan dunia usaha, dan secara temperamental tidak cocok dengan pendidikan formal maupun hiburan sosial yang disukai orang-orang yang kukenal, aku senantiasa hidup di alam yang terpisah dari dunia kasatmata; masa muda dan remajaku kuhabiskan di antara buku-buku kuno yang jarang dikenal orang, serta dengan menjelajahi padang-padang dan rimbunan pepohonan di wilayah sekitar rumah leluhurku. Aku tidak yakin bahwa apa yang kubaca dalam buku-buku itu atau yang kulihat di padang dan rimbunan tersebut benar-benar sama dengan apa yang dibaca dan dilihat anak-anak lelaki lain di sana; tetapi mengenai hal ini aku harus berkata sedikit saja, sebab uraian yang terperinci hanya akan menguatkan fitnah kejam terhadap kewarasanku yang kadang kudengar dari bisikan para penjaga yang diam-diam berkeliaran di sekitarku. Cukuplah bagiku untuk menceritakan peristiwa-peristiwa tanpa menganalisis sebab-sebabnya.

Aku telah mengatakan bahwa aku hidup terpisah dari dunia kasatmata, tetapi belum kukatakan bahwa aku hidup sendirian. Tak ada makhluk manusia yang mampu melakukan itu; sebab jika kehilangan persekutuan dengan yang hidup, ia pada akhirnya akan mencari persahabatan dengan sesuatu yang tidak hidup, atau yang sudah tidak lagi hidup. Tak jauh dari rumahku terdapat sebuah cekungan berhutan yang ganjil, di kedalaman remangnya aku menghabiskan sebagian besar waktuku; membaca, berpikir, dan bermimpi. Di lereng-lereng yang diselimuti lumut itulah langkah-langkah pertamaku sebagai bayi pernah menapak, dan di sekeliling pohon-pohon eknya yang meliuk-liuk secara aneh, khayalan-khayalan pertamaku sebagai bocah mulai terjalin. Aku mengenal baik para dryad yang bersemayam di pohon-pohon itu, dan sering menyaksikan tarian liar mereka di bawah sinar bulan tua yang kian meredup dan berjuang menembus kegelapan—tetapi tentang semua itu aku tak boleh bicara sekarang. Aku hanya akan menceritakan tentang sebuah makam terpencil di bagian semak belukar lereng yang paling gelap; makam terbengkalai keluarga Hyde, sebuah keluarga tua dan terpandang yang keturunan langsung terakhirnya telah dibaringkan di dalam ceruk-ceruk hitamnya beberapa dasawarsa sebelum aku lahir.

Makam yang kumaksud terbuat dari granit kuno, telah lapuk dan berubah warna oleh kabut serta kelembapan selama bergenerasi-generasi. Digali menjorok ke dalam lereng bukit, bangunan itu hanya tampak pada bagian pintu masuknya. Pintunya, sebuah lempeng batu yang berat dan menggentarkan, tergantung pada engsel-engsel besi berkarat, dan dibiarkan terbuka sedikit dengan cara yang aneh dan menyeramkan, menggunakan rantai-rantai besi berat serta gembok-gembok, sebagaimana kebiasaan mengerikan setengah abad silam. Kediaman keluarga yang keturunannya dimakamkan di sini dahulu berdiri di puncak lereng yang menaungi makam tersebut, tetapi telah lama menjadi korban api yang berkobar akibat sambaran petir. Tentang badai tengah malam yang menghancurkan rumah suram itu, para penghuni tertua wilayah tersebut kadang berbicara dengan suara tertahan dan gelisah; mereka menyinggung apa yang mereka sebut “murka Ilahi” dengan cara yang, pada tahun-tahun berikutnya, samar-samar semakin menguatkan ketertarikan yang sejak semula begitu kuat kurasakan terhadap makam yang digelapkan hutan itu. Hanya seorang yang tewas dalam kebakaran tersebut. Ketika orang terakhir dari keluarga Hyde dimakamkan di tempat teduh dan sunyi ini, guci abu yang menyedihkan itu didatangkan dari negeri yang jauh; ke sanalah keluarga tersebut pergi setelah rumah mereka terbakar. Tak seorang pun lagi yang datang untuk meletakkan bunga di hadapan gerbang granit itu, dan hanya sedikit orang yang bersedia menerobos bayang-bayang muram yang seolah-olah secara ganjil masih melekat di sekitar batu-batu yang telah terkikis air.

Aku tak akan pernah melupakan sore ketika untuk pertama kalinya aku menemukan rumah kematian yang setengah tersembunyi itu. Saat itu pertengahan musim panas, ketika alkimia alam mengubah lanskap berhutan menjadi satu hamparan hijau yang menyala dan nyaris seragam; ketika indra hampir mabuk oleh gelombang-gelombang kehijauan lembap yang bergulung-gulung serta aroma tanah dan tumbuh-tumbuhan yang samar, tak terlukiskan, dan sulit ditangkap. Dalam suasana seperti itu, pikiran kehilangan perspektifnya; ruang dan waktu menjadi sepele dan tak nyata, sementara gema masa prasejarah yang telah terlupakan berdetak terus-menerus di dalam kesadaran yang terpesona.

Sepanjang hari aku mengembara di antara rimbunan pepohonan mistis dalam cekungan itu; memikirkan hal-hal yang tak perlu kubicarakan, dan berbincang dengan sesuatu yang tak perlu kusebutkan namanya. Baru berusia sepuluh tahun, aku telah melihat dan mendengar banyak keajaiban yang tidak diketahui orang kebanyakan; dan dalam hal-hal tertentu aku terasa anehnya telah menjadi tua. Ketika, setelah memaksa diri menerobos di antara dua rumpun semak berduri yang liar, tiba-tiba aku berhadapan dengan pintu masuk makam itu, aku sama sekali tidak tahu apa yang telah kutemukan. Balok-balok granit yang gelap, pintu yang terbuka dengan begitu aneh, serta ukiran-ukiran pemakaman di atas lengkungannya tidak membangkitkan dalam diriku asosiasi apa pun yang muram atau mengerikan. Tentang kuburan dan makam aku telah mengetahui dan membayangkan banyak hal, tetapi karena temperamenku yang ganjil, aku dijauhkan dari segala kontak pribadi dengan halaman gereja maupun pemakaman. Rumah batu yang aneh di lereng berhutan itu bagiku hanyalah sumber ketertarikan dan spekulasi; dan bagian dalamnya yang dingin dan lembap, yang dengan sia-sia kuintip melalui celah yang begitu menggoda karena dibiarkan terbuka, sama sekali tidak menyiratkan kematian ataupun pembusukan bagiku. Namun, pada detik itulah rasa ingin tahu melahirkan hasrat gila dan tak masuk akal yang akhirnya membawaku ke neraka pengurungan ini. Didorong oleh suara yang pastilah berasal dari jiwa mengerikan hutan tersebut, aku memutuskan untuk memasuki kegelapan yang seolah memanggilku, meskipun rantai-rantai berat menghalangi jalanku. Dalam cahaya siang yang kian meredup, bergantian kuguncang penghalang berkarat itu dengan maksud membuka lebar pintu batu, lalu kucoba menyusupkan tubuhku yang kecil melalui celah yang telah tersedia; tetapi kedua upaya itu tidak berhasil. Mula-mula aku hanya penasaran, tetapi kini aku menjadi kalap; dan ketika senja yang semakin pekat membuatku kembali ke rumah, aku telah bersumpah kepada seratus dewa rimba bahwa dengan cara apa pun suatu hari kelak aku akan memaksa masuk ke kedalaman hitam dan dingin yang seolah-olah memanggilku. Dokter berjanggut abu-abu besi yang datang setiap hari ke kamarku pernah berkata kepada seorang pengunjung bahwa keputusan itu menandai awal dari sebuah monomania yang menyedihkan; tetapi penilaian akhir akan kuserahkan kepada para pembacaku setelah mereka mengetahui semuanya.

Bulan-bulan setelah penemuanku itu kuhabiskan dalam upaya sia-sia untuk membuka paksa gembok rumit pada makam yang sedikit terbuka tersebut, serta dalam penyelidikan yang kulakukan dengan hati-hati mengenai sifat dan sejarah bangunan itu. Dengan telinga seorang bocah kecil yang secara tradisional begitu mudah menerima segala hal, aku mengetahui banyak hal; meskipun sifatku yang sejak semula tertutup membuatku tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah kuketahui ataupun tekadku. Barangkali patut disebutkan bahwa aku sama sekali tidak terkejut ataupun ketakutan ketika mengetahui hakikat makam itu. Gagasanku yang agak tidak lazim mengenai kehidupan dan kematian telah membuatku menghubungkan tanah liat yang dingin dengan tubuh yang bernapas dalam suatu cara yang samar; dan kurasakan bahwa keluarga besar nan mengerikan dari rumah yang terbakar itu, entah bagaimana, masih terwakili di dalam ruang batu yang ingin kujelajahi. Kisah-kisah bergumam tentang upacara-upacara ganjil dan pesta pora tanpa Tuhan yang dahulu berlangsung di aula tua itu memberiku ketertarikan baru dan kuat terhadap makam tersebut, di hadapan pintunya aku dapat duduk berjam-jam setiap hari. Pernah sekali kuselipkan sebuah lilin melalui celah pintu yang nyaris tertutup, tetapi tak kulihat apa-apa selain deretan anak tangga batu lembap yang menurun ke bawah. Bau tempat itu membuatku muak sekaligus terpesona. Aku merasa pernah mengenalnya sebelumnya, di suatu masa lampau yang begitu jauh hingga tak dapat kuingat; bahkan jauh sebelum aku menempati tubuh yang kini kumiliki.

SETAHUN setelah pertama kali melihat makam itu, aku menemukan sebuah terjemahan Lives karya Plutarch yang telah dimakan rayap, di loteng rumahku yang dipenuhi buku. Ketika membaca kisah Theseus, aku sangat terkesan oleh bagian yang menceritakan batu besar yang di bawahnya sang pahlawan muda kelak akan menemukan tanda-tanda takdirnya, apabila ia telah cukup dewasa untuk mengangkat beban batu yang luar biasa berat itu. Legenda tersebut berhasil meredakan ketidak-sabaranku yang paling menggebu-gebu untuk memasuki makam itu, sebab membuatku merasa bahwa waktunya belum tiba. Kelak, pikirku, aku akan tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih cekatan, sehingga mungkin dapat melepaskan pintu yang dibelenggu rantai-rantai berat itu dengan mudah; tetapi sampai saat itu tiba, akan lebih baik bagiku untuk tunduk kepada apa yang tampaknya merupakan kehendak Takdir.

Karena itu, kunjunganku berjaga di depan portal yang lembap tersebut menjadi tidak sesering sebelumnya, dan sebagian besar waktuku kuhabiskan dalam kegiatan-kegiatan lain yang tak kalah anehnya. Kadang-kadang aku bangun dengan sangat tenang pada malam hari, menyelinap keluar untuk berjalan-jalan di halaman gereja dan tempat-tempat pemakaman yang selama ini dijauhkan dariku oleh orang tuaku. Apa yang kulakukan di sana tidak dapat kukatakan, sebab kini aku sendiri tidak yakin akan kenyataan dari beberapa hal; tetapi aku tahu bahwa pada hari setelah pengembaraan malam semacam itu, aku sering membuat orang-orang di sekitarku tercengang dengan pengetahuanku mengenai perkara-perkara yang hampir dilupakan selama bergenerasi-generasi. Setelah suatu malam seperti itulah aku mengejutkan masyarakat setempat dengan gagasan ganjil mengenai pemakaman Squire Brewster yang kaya dan termasyhur, seorang tokoh yang turut membentuk sejarah daerah ini dan dimakamkan pada tahun 1711, yang batu nisannya dari batu tulis, dihiasi ukiran tengkorak dan tulang bersilang, perlahan-lahan hancur menjadi debu. Dalam sekejap khayalan kekanak-kanakanku, aku bersumpah bukan hanya bahwa pengurus pemakaman, Goodman Simpson, telah mencuri sepatu bersol gesper perak, kaus kaki sutra, dan pakaian dalam satin milik mendiang sebelum pemakaman; melainkan juga bahwa sang Squire sendiri, yang belum sepenuhnya tak bernyawa, telah membalikkan tubuhnya dua kali di dalam peti matinya yang tertutup tanah pada hari setelah dimakamkan.

Namun, gagasan untuk memasuki makam itu tidak pernah meninggalkan pikiranku; terlebih setelah penemuan tak terduga mengenai silsilah keluarga menunjukkan bahwa garis keturunan dari pihak ibuku memiliki setidaknya sedikit hubungan dengan keluarga Hyde yang konon telah punah itu. Sebagai orang terakhir dari garis keturunan ayahku, aku sekaligus menjadi orang terakhir dari garis yang jauh lebih tua dan lebih misterius ini. Aku mulai merasa bahwa makam itu adalah milikku, dan menantikan dengan hasrat yang membara saat ketika aku dapat melewati pintu batu itu dan menuruni anak-anak tangga batu yang licin berlendir menuju kegelapan. Kini aku mulai terbiasa mendengarkan dengan sangat saksama di depan portal yang sedikit terbuka itu, memilih jam-jam kesunyian tengah malam yang paling kusukai untuk berjaga dengan cara yang ganjil. Ketika aku mencapai usia dewasa, aku telah membuat sebuah tanah lapang kecil di antara semak-semak di depan fasad lereng bukit yang bernoda jamur, membiarkan tumbuh-tumbuhan di sekelilingnya mengitari dan menjuntai di atas ruang itu seperti dinding dan atap sebuah punjung rimba. Punjung itu adalah kuilku, pintu yang terkunci itu adalah tempat suciku, dan di sanalah aku akan berbaring terlentang di atas tanah berlumut, memikirkan pikiran-pikiran aneh dan memimpikan mimpi-mimpi yang aneh.

Malam ketika penglihatan pertama itu datang adalah malam yang pengap. Aku pasti tertidur karena kelelahan, sebab aku mendengar suara-suara itu dengan perasaan yang jelas seperti baru terbangun. Mengenai nada dan aksen suara-suara tersebut aku enggan berbicara; mengenai sifatnya, aku tidak akan mengatakannya; tetapi dapat kukatakan bahwa terdapat perbedaan-perbedaan ganjil tertentu dalam kosakata, pelafalan, dan cara pengucapannya. Setiap corak dialek New England, dari suku kata kasar para penjajah Puritan hingga retorika tepat dan teratur yang digunakan lima puluh tahun sebelumnya, seolah terwakili dalam percakapan samar-samar itu, meskipun baru belakangan aku menyadari kenyataan tersebut. Pada saat itu, perhatianku justru teralihkan oleh fenomena lain; sebuah fenomena yang begitu sekilas sehingga aku tak mungkin bersumpah bahwa itu benar-benar terjadi. Samar-samar aku merasa bahwa ketika terbangun, sebuah cahaya baru saja dipadamkan dengan tergesa-gesa di dalam makam yang terbenam itu. Aku tidak merasa tercengang ataupun dilanda kepanikan, tetapi aku tahu bahwa malam itu aku telah berubah secara mendalam dan untuk selamanya. Setelah pulang ke rumah, aku langsung menuju sebuah peti lapuk di loteng, dan di dalamnya kutemukan kunci yang keesokan harinya dengan mudah membuka penghalang yang selama ini berkali-kali kucoba dobrak tanpa hasil.

SAAT pertama kali memasuki makam di lereng yang terbengkalai itu, cahaya lembut sore yang mulai beranjak menuju petang menyelimutinya. Sebuah pesona telah menguasai diriku, dan jantungku melonjak dalam kegembiraan yang hampir tak sanggup kulukiskan. Setelah menutup pintu di belakangku dan menuruni anak-anak tangga yang meneteskan air dengan diterangi cahaya lilinku seorang diri, aku seolah mengetahui jalan yang harus ditempuh; dan meskipun lilin itu mendesis dan berkedip di tengah bau pengap yang menyesakkan tempat tersebut, aku merasa anehnya berada di rumah sendiri dalam udara apek yang berbau rumah mayat. Ketika memandang ke sekeliling, kulihat banyak lempengan marmer yang memuat peti-peti mati, atau sisa-sisa peti mati. Sebagian masih tertutup rapat dan utuh, tetapi yang lain hampir lenyap seluruhnya, menyisakan pegangan dan pelat-pelat perak yang berdiri sendiri di tengah tumpukan aneh debu keputihan. Pada salah satu pelat kubaca nama Sir Geoffrey Hyde, yang datang dari Sussex pada tahun 1640 dan meninggal di sini beberapa tahun kemudian. Di sebuah ceruk yang mencolok terdapat sebuah peti mati yang masih cukup terpelihara dan belum ditempati, dihiasi sebuah nama tunggal yang membuatku tersenyum sekaligus bergidik. Dorongan aneh membuatku naik ke atas lempengan lebar itu, memadamkan lilinku, dan berbaring di dalam peti kosong tersebut.

Dalam cahaya kelabu fajar, aku sempoyongan keluar dari makam dan mengunci kembali rantai pintunya di belakangku. Aku bukan lagi seorang pemuda, meskipun baru dua puluh satu musim dingin yang telah mendinginkan tubuhku. Penduduk desa yang bangun pagi dan melihatku berjalan pulang memandangku dengan aneh, dan keheranan melihat tanda-tanda pesta pora cabul pada seseorang yang kehidupannya mereka ketahui selalu tenang dan menyendiri. Aku baru menampakkan diri di hadapan orang tuaku setelah tidur panjang yang menyegarkan.

Sejak saat itu, setiap malam aku mendatangi makam tersebut; melihat, mendengar, dan melakukan hal-hal yang tak boleh kuingat lagi. Ucapanku, yang sejak dahulu mudah dipengaruhi oleh lingkungan, adalah hal pertama yang menyerah kepada perubahan itu; dan gaya bahasaku yang tiba-tiba menjadi kuno segera diperhatikan orang. Belakangan, suatu keberanian dan kecerobohan yang aneh mulai tampak dalam sikapku, hingga tanpa kusadari aku tumbuh memiliki pembawaan seorang pria duniawi meskipun sepanjang hidupku hidup dalam keterasingan. Lidahku yang dahulu selalu diam menjadi begitu fasih dengan keanggunan santai seorang Chesterfield atau sinisme tanpa Tuhan seorang Rochester. Aku memperlihatkan pengetahuan yang sangat aneh, sama sekali berbeda dari pengetahuan fantastis dan seperti milik biarawan yang dahulu kutekuni di masa muda; dan memenuhi halaman-halaman kosong di awal dan akhir buku-bukuku dengan epigram spontan yang begitu lancar sehingga mengingatkan orang pada Gay, Prior, serta para penyair dan penulis syair paling jenaka dari zaman Augustan. Suatu pagi ketika sarapan, aku nyaris mendatangkan malapetaka dengan melantunkan, dalam suara yang jelas-jelas sudah dipengaruhi minuman keras, sebuah syair kegembiraan mabuk-mabukan dari abad kedelapan belas—sebuah keceriaan bergaya Georgia yang tak pernah dicatat dalam buku mana pun—yang kurang lebih berbunyi demikian:

Kemari, kawan-kawanku, dengan kendi bir di tangan,
Mari bersulang untuk hari ini sebelum ia berlalu;
Tumpuklah daging sapi setinggi gunung di piring kalian,
Sebab makan dan minumlah yang membawa kelegaan:
Maka penuhilah gelasmu,
Sebab hidup segera berlalu;
Ketika mati, kalian takkan lagi bersulang untuk raja ataupun kekasih!

Konon Anacreon berhidung merah;
Tetapi apa arti hidung merah jika hidup bahagia dan ceria?
Demi Tuhan! Lebih baik merah selama aku masih di sini,
Daripada putih seperti bunga lili—dan mati setengah tahun lamanya!
Jadi, Betty, kekasihku,
Mari beri aku sebuah kecupan;
Di neraka tak ada putri pemilik penginapan yang seperti ini!

Harry muda, disangga agar tetap tegak sebisa mungkin,
Tak lama lagi akan kehilangan rambut palsunya dan tergelincir ke bawah meja;
Namun penuhilah piala kalian dan edarkanlah ke sekeliling—
Lebih baik berada di bawah meja daripada di bawah tanah!
Maka berpestalah dan bersenda-guraulah
Sembari meneguk sepuas hati:
Di bawah tanah sedalam enam kaki, tertawa jauh lebih sulit!

Demi iblis, aku sudah hampir tak mampu berjalan.
Sialan aku jika masih sanggup berdiri tegak atau berbicara!
Hei, pemilik penginapan, suruh Betty membawakan kursi;
Akan kucoba pulang sebentar, sebab istriku tidak ada di rumah!
Maka ulurkan tanganmu;
Aku sudah tak sanggup berdiri.
Namun aku tetap riang selama masih berada di atas tanah!

Kira-kira pada masa inilah aku mulai merasakan ketakutan yang sekarang kumiliki terhadap api dan badai petir. Sebelumnya aku tidak peduli terhadap hal-hal semacam itu, tetapi kini aku merasakan kengerian yang tak terkatakan terhadapnya; dan akan mengundurkan diri ke bagian rumah yang paling dalam setiap kali langit mengancam menampakkan pertunjukan listriknya. Salah satu tempat favoritku pada siang hari adalah ruang bawah tanah yang telah runtuh dari rumah yang terbakar itu, dan dalam khayalanku aku sering membayangkan bangunan tersebut sebagaimana keadaannya pada masa kejayaannya. Pada suatu kesempatan, aku membuat seorang penduduk desa terkejut dengan membawanya dengan penuh keyakinan menuju sebuah ruang bawah tanah yang dangkal, yang keberadaannya seolah kuketahui meskipun telah tersembunyi dan dilupakan selama bergenerasi-generasi.

AKHIRNYA tibalah apa yang selama ini paling kutakutkan. Orang tuaku, cemas melihat perubahan sikap dan penampilan anak tunggal mereka, mulai mengawasi gerak-gerikku dengan penuh kasih sayang—pengawasan yang mengancam berakhir dengan bencana. Aku tidak pernah menceritakan kepada siapa pun kunjunganku ke makam itu, sebab sejak kecil kujaga tujuan rahasiaku dengan ketekunan hampir seperti menjalankan ibadah; tetapi kini aku terpaksa berhati-hati ketika menyusuri labirin cekungan berhutan itu agar dapat mengelabui siapa pun yang mungkin mengikutiku. Kunci makam kusimpan tergantung pada seutas tali di leherku, dan hanya aku yang mengetahui keberadaannya. Aku tidak pernah membawa keluar dari makam apa pun yang kutemukan selama berada di dalamnya.

Suatu pagi, ketika keluar dari makam yang lembap itu dan mengencangkan kembali rantai portal dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap, kulihat di semak-semak di dekat sana wajah seorang pengawas yang selama ini kutakuti. Pasti sudah mendekati akhir; sebab punjungku telah ditemukan, dan tujuan perjalanan malamku akan segera diketahui. Orang itu tidak menyapaku, sehingga aku bergegas pulang dengan maksud mendengar apa yang akan dilaporkannya kepada ayahku yang telah diliputi kecemasan. Apakah kunjunganku di balik pintu berantai itu akan segera diumumkan kepada dunia? Bayangkan betapa lega sekaligus tercengangnya aku ketika mendengar mata-mata itu memberi tahu ayahku dengan bisikan hati-hati bahwa aku menghabiskan malam di punjung di luar makam; mataku yang masih diselimuti kantuk tertuju pada celah tempat portal bergembok itu berdiri terbuka sedikit! Dengan mukjizat apa pengawas itu bisa tertipu sedemikian rupa? Kini aku yakin bahwa kekuatan gaib telah melindungiku. Dikuatkan oleh kejadian yang seolah dikirim dari langit ini, aku kembali pergi ke makam dengan keterus-terangan sempurna; yakin bahwa tak seorang pun dapat melihatku masuk. Selama seminggu aku menikmati sepenuhnya kegembiraan pesta bersama orang-orang mati yang tak boleh kuceritakan, hingga hal itu terjadi, dan aku dibawa pergi ke tempat tinggal terkutuk yang penuh kesedihan dan kebosanan ini.

Seharusnya malam itu aku tidak keluar; sebab racun badai telah mengendap di awan, dan cahaya berpendar yang menyerupai cahaya neraka bangkit dari rawa busuk di dasar cekungan. Panggilan orang mati pun berbeda. Bukan makam di lereng bukit yang memanggilku, melainkan ruang bawah tanah yang menghitam di puncak lereng, yang setannya seolah mengundangku dengan jari-jari tak kasat mata. Ketika keluar dari rimbunan pepohonan yang berada di antaranya menuju tanah lapang di depan reruntuhan itu, kulihat dalam cahaya bulan yang berkabut sesuatu yang selama ini samar-samar selalu kuharapkan. Rumah besar yang telah lenyap selama satu abad itu sekali lagi menjulang dalam kemegahannya di hadapan pandanganku yang terpesona; setiap jendelanya menyala oleh cahaya gemerlap dari begitu banyak lilin. Di sepanjang jalan masuk yang panjang, kereta-kereta kaum bangsawan Boston berdatangan, sementara dari rumah-rumah besar di sekitarnya datang pula berjalan kaki sekumpulan besar orang-orang pesolek berbedak. Aku berbaur dengan kerumunan itu, meskipun aku tahu bahwa tempatku adalah di antara para tuan rumah, bukan para tamu. Di dalam aula terdengar musik, tawa, dan anggur di segala penjuru. Beberapa wajah kukenali; meskipun seharusnya aku lebih mengenali mereka seandainya wajah-wajah itu telah keriput atau dimakan kematian dan pembusukan. Di tengah kerumunan liar dan ceroboh itu, akulah yang paling liar dan paling tak terkendali. Penghujatan yang riang mengalir deras dari bibirku, dan dalam kelancanganku yang mengejutkan aku tidak mengindahkan hukum Tuhan, manusia, ataupun alam.

Tiba-tiba dentuman guntur, menggelegar bahkan di atas hiruk-pikuk pesta pora yang beringas itu, seolah membelah atap rumah dan menebarkan keheningan penuh ketakutan ke seluruh kerumunan yang gaduh. Lidah-lidah api merah dan semburan panas yang membakar melahap rumah tersebut; dan para pemabuk pesta, diterpa teror oleh datangnya bencana yang seakan melampaui batas-batas alam yang tak diarahkan oleh kehendak manusia, melarikan diri sambil menjerit ke dalam malam. Hanya aku yang tetap tinggal, terpaku di tempat dudukku oleh rasa takut merendah yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Lalu kengerian kedua menguasai jiwaku. Tubuhku terbakar hidup-hidup menjadi abu, tercerai-berai ditiup empat penjuru angin, mungkin takkan pernah berbaring di makam keluarga Hyde! Bukankah peti matiku telah disiapkan untukku? Bukankah aku berhak beristirahat hingga keabadian di antara keturunan Sir Geoffrey Hyde? Ya! Aku akan menuntut warisanku atas kematian, sekalipun jiwaku harus mengembara sepanjang zaman mencari wadah jasmani lain untuk mewakilinya di atas lempengan kosong dalam ceruk makam itu. Jervas Hyde tak boleh mengalami nasib menyedihkan Palinurus!

Ketika bayangan rumah yang terbakar itu memudar, kudapati diriku menjerit-jerit dan meronta-ronta dengan liar dalam pelukan dua orang lelaki, salah satunya adalah pengawas yang telah mengikutiku ke makam. Hujan turun dengan deras, dan di ufuk selatan tampak kilatan petir yang baru saja melintas di atas kepala kami. Ayahku, dengan wajah yang dipenuhi garis-garis kesedihan, berdiri di dekat sana ketika aku berteriak menuntut agar aku dimakamkan di dalam makam tersebut; berulang kali ia mengingatkan kedua orang yang menangkapku agar memperlakukanku selembut mungkin. Sebuah lingkaran hitam di lantai ruang bawah tanah yang telah runtuh itu menunjukkan bekas sambaran dahsyat dari langit; dan dari tempat itu, sekelompok penduduk desa yang penasaran, membawa lentera, sedang mencongkel sebuah peti kecil dengan pengerjaan antik yang baru disingkap oleh sambaran petir tersebut.

Setelah berhenti meronta dengan sia-sia dan kini tanpa tujuan, aku mengamati para penonton ketika mereka memeriksa harta temuan itu, dan aku diizinkan turut melihat apa yang mereka temukan. Peti tersebut, yang pengikatnya telah patah akibat sambaran yang menyingkapkannya, berisi banyak dokumen dan benda berharga; tetapi hanya satu benda yang menarik perhatianku. Benda itu adalah miniatur porselen seorang pemuda dengan wig model bag yang ditata dengan ikal-ikal rapi, dan pada bagian bawahnya tertera inisial “J. H.” Wajah itu sedemikian rupa sehingga ketika aku menatapnya, rasanya seolah-olah aku sedang memandang bayanganku sendiri di cermin.

KEESOKAN harinya aku dibawa ke kamar ini dengan jendela-jendela berjeruji, tetapi aku tetap mengetahui beberapa hal melalui seorang pelayan tua yang sederhana pikirannya, yang sejak kecil kusayangi dan yang, seperti aku, mencintai halaman gereja. Apa yang berani kuceritakan mengenai pengalamanku di dalam makam hanya membuat orang tersenyum penuh iba. Ayahku, yang sering mengunjungiku, menyatakan bahwa aku tidak pernah sekalipun melewati portal berantai itu, dan bersumpah bahwa ketika ia memeriksanya, gembok berkarat tersebut belum pernah disentuh selama lima puluh tahun. Ia bahkan mengatakan bahwa seluruh desa mengetahui kebiasaanku pergi ke makam itu, dan bahwa aku sering diawasi ketika tidur di punjung di luar fasad suram tersebut, dengan mata setengah terbuka tertuju pada celah yang menuju bagian dalam. Terhadap semua pernyataan itu aku tidak memiliki bukti nyata untuk diajukan, sebab kunci gembokku hilang dalam pergulatan pada malam penuh kengerian itu. Hal-hal aneh dari masa lampau yang kupelajari selama pertemuan-pertemuan malamku dengan orang-orang mati dianggapnya sekadar hasil dari kebiasaanku seumur hidup melahap buku-buku kuno tanpa pilih-pilih di perpustakaan keluarga. Seandainya bukan karena pelayan tuaku, Hiram, mungkin saat ini aku sudah sepenuhnya yakin bahwa diriku gila.

Namun Hiram, setia hingga akhir, tetap mempercayaiku, dan telah melakukan sesuatu yang mendorongku untuk setidaknya mengungkapkan sebagian dari kisahku kepada dunia. Seminggu yang lalu ia membongkar paksa gembok yang membuat pintu makam itu senantiasa terbuka sedikit, lalu turun membawa lentera ke kedalaman yang remang. Di atas sebuah lempengan dalam sebuah ceruk, ia menemukan sebuah peti mati tua tetapi kosong, yang pelatnya telah kusam dan hanya memuat satu kata: Jervas. Di dalam peti itu, dan di dalam makam itu, mereka telah berjanji bahwa aku akan dimakamkan.

Beri Rating Cerpen Ini

Silakan login untuk memberi rating pada cerpen ini.

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×
×