Dagon

Terbit perdana di The Vagrant, No. 11, pada November 1919
±1.900 kata, sekitar 10 menit baca

H. P. Lovecraft H. P. Lovecraft

👁️ 19 tayangan

AKU menulis ini dalam tekanan mental yang berat, sebab malam nanti aku tak akan ada lagi. Tanpa uang, dan dengan persediaan obat—satu-satunya yang membuat hidup masih tertahankan—yang telah habis, aku tak sanggup menanggung siksaan ini lebih lama; dan aku akan menjatuhkan diriku dari jendela loteng ini ke jalan kumuh di bawah.

Jangan mengira karena aku diperbudak morfin maka aku seorang lemah atau manusia bejat. Setelah membaca halaman-halaman yang kutulis secara tergesa-gesa ini, mungkin kau akan menebak—meski tak akan pernah sepenuhnya memahami—mengapa aku harus memilih antara melupakan… atau kematian.

Peristiwa itu terjadi di salah satu bagian Samudra Pasifik yang paling terbuka dan paling jarang dilalui, ketika kapal dagang tempat aku bertugas sebagai superkargo menjadi korban penyerang laut Jerman.

Perang Besar kala itu baru saja dimulai, dan kekuatan laut kaum Hun belum sepenuhnya jatuh ke dalam kebiadaban seperti di kemudian hari; sehingga kapal kami dianggap rampasan perang yang sah, sementara kami, para awaknya, diperlakukan dengan keadilan serta pertimbangan yang layak bagi tawanan laut.

Bahkan disiplin para penangkap kami begitu longgar, sehingga lima hari setelah penangkapan aku berhasil melarikan diri sendirian dengan sebuah perahu kecil, membawa air dan perbekalan yang cukup untuk waktu yang lama.

Ketika akhirnya aku mendapati diriku terombang-ambing dan bebas, aku hampir tak memiliki gambaran tentang di mana aku berada. Tak pernah menjadi navigator yang andal, aku hanya dapat memperkirakan secara samar melalui matahari dan bintang bahwa aku berada agak di selatan khatulistiwa.

Tentang garis bujur aku tak tahu apa-apa, dan tak tampak pulau ataupun garis pantai. Cuaca tetap cerah, dan selama hari-hari yang tak terhitung aku hanyut tanpa arah di bawah matahari yang membakar; menunggu entah sebuah kapal yang melintas, atau terdampar di pantai daratan yang berpenghuni.

Namun tak satu pun kapal atau daratan muncul, dan aku mulai tenggelam dalam keputus-asaan di tengah kesendirian pada hamparan biru luas yang bergelombang tanpa batas.

Perubahan itu terjadi ketika aku tidur. Rinciannya takkan pernah kuketahui; sebab meski tidurku dipenuhi mimpi buruk, itu berlangsung tanpa terputus. Saat akhirnya aku terbangun, aku mendapati diriku setengah terisap ke dalam bentangan lumpur hitam menjijikkan yang seperti neraka, membentang di sekelilingku dalam gelombang monoton sejauh mata memandang, sementara perahuku terdampar beberapa jarak dariku.

Barangkali orang akan mengira bahwa perasaan pertamaku adalah keheranan atas perubahan pemandangan yang begitu dahsyat dan tak terduga; namun sebenarnya aku lebih diliputi kengerian daripada keheranan. Ada sesuatu yang jahat di udara dan di tanah yang membusuk itu—sesuatu yang menembus hingga ke tulang.

Cuplikan berhenti di sini. Masih ada sekitar 1.500 kata lagi (±8 menit membaca).

📖

Mau Lanjut Baca?

Sepertiga awal cerpen ini tersedia gratis. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca sampai selesai.

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×