Le Portrait (Potret)
“AH, itu Milial!” seru seseorang di dekatku. Aku menoleh ke arah pria yang ditunjuk, sebab sudah lama aku ingin bertemu Don Juan ini.
Ia tak lagi muda. Rambutnya yang kelabu menyerupai bonet bulu yang biasa dipakai bangsa-bangsa Utara, dan janggut panjangnya, yang jatuh menutupi dada, pun tampak seperti mantel bulu. Ia tengah bercakap dengan seorang wanita, condong mendekat, berbicara lirih, dengan sorot mata penuh hormat dan kelembutan.
Aku tahu kisah hidupnya—atau setidaknya, bagian yang dikenal orang. Ia pernah mencinta dengan gila, berkali-kali, dan ada tragedi-tragedi tertentu yang senantiasa dikaitkan dengan namanya.
Ketika aku bertanya pada para wanita yang paling keras memuji dirinya, dari mana datangnya kekuatan itu, mereka selalu menjawab setelah berpikir sejenak: “Entahlah—ia punya semacam pesona.”
Padahal, ia sama sekali tidak tampan. Ia tidak memiliki keanggunan yang lazim kita bayangkan dari seorang penakluk hati wanita. Aku bertanya-tanya, apa pesona tersembunyinya?
Kecerdasan? Aku tak pernah mendengar ada perkataan cerdas darinya. Tatapannya? Mungkin. Atau suaranya? Ada suara-suara tertentu yang memikat tak tertahankan, seakan punya rasa, seperti santapan lezat. Kita merasa lapar akan suaranya; bunyi kata-katanya menembus kita seperti suapan halus.
Seorang kawan lewat. Aku bertanya: “Apakah kau kenal Monsieur Milial?”
“Ya.”
“Tolong kenalkan aku padanya.”
Semenit kemudian kami sudah berjabat tangan dan bercakap di ambang pintu. Ucapannya benar, menyenangkan, tak mengandung ketajaman. Suaranya lembut, halus, mengalun musikal.
Namun aku pernah mendengar suara lain yang lebih menggugah. Mendengarnya bagaikan menatap aliran sungai kecil yang jernih. Tak ada ketegangan pikiran dibutuhkan untuk mengikutinya; tak ada makna tersembunyi yang menggoda rasa ingin tahu.
Percakapannya menenangkan, tapi tak membangkitkan keinginan untuk menyela, menentang, atau menyetujui. Kata-kata terjawab begitu saja, alami, seolah ia sendiri yang memanggil respons itu.
Satu hal segera menyentakku: baru seperempat jam aku mengenalnya, tetapi rasanya seperti sudah bersahabat lama. Wajah, gerak, suara, gagasannya—semua terasa akrab. Dalam sekejap, ia telah menembus ruang intimku, meruntuhkan segala batas. Andai ia mau, aku bisa saja menceritakan rahasia pribadi, sebagaimana kita hanya melakukannya pada sahabat lama.
Pasti ada misteri padanya. Batas-batas yang biasanya hanya roboh oleh waktu dan keakraban, pada dirinya seolah tak pernah ada—baik dengan pria maupun wanita yang ditemuinya.
Setelah setengah jam, kami berpisah, berjanji sering bertemu. Ia memberiku alamat dan mengundang makan siang dua hari kemudian.
Aku lupa jam yang ia sebut, dan datang terlalu awal. Ia belum pulang. Seorang pelayan pendiam dan rapi menuntunku ke ruang tamu yang indah, tenang, diterangi cahaya lembut. Aku merasa nyaman, seolah di rumah sendiri.
Betapa sering aku menyadari, ruangan punya pengaruh pada jiwa! Ada yang membuat kita dungu, ada yang menghidupkan. Ada yang muram meski terang benderang, ada yang menggembirakan meski bergelap kain suram. Mata, seperti hati, punya selera yang diam-diam ia paksakan pada tabiat kita.
Aku duduk di sofa empuk, tenggelam dalam bantal sutra berisi bulu, seakan tubuhku telah disiapkan tempatnya sejak lama.
Mataku menelusuri ruangan. Tak ada yang mencolok, hanya benda indah nan sederhana; furnitur langka, tirai Oriental yang tampak berasal dari harem, bukan toko.
Tepat di hadapanku tergantung sebuah potret perempuan. Potret setengah badan, menampakkan kepala, bahu, dan tangan yang memegang buku. Ia muda, tanpa penutup kepala, pita terjalin di rambutnya, dengan senyum sendu.
Mengapa senyum itu terasa begitu alami? Ia tampak benar-benar di rumahnya, tersenyum seperti seseorang yang larut dalam pikiran sendiri, bukan yang sedang dipandang. Kehadirannya memenuhi ruangan besar itu, seakan ia sendiri yang memberinya jiwa.
Tatapannya unik. Mata yang dilukis itu terarah padaku, tetap dan mengelus, tetapi tanpa melihatku. Tak seperti potret lain yang sadar dipandang, matanya tak melihat apa-apa, meski menatap lurus.
Aku teringat bait Baudelaire: “Dan matamu, memesona seperti potret.”
Mata itu memang mempesona. Dari sapuan kuas, mengalir pesona lembut, getir, seakan angin senja berwarna ungu-biru, mendekatnya malam. Mata itu menyimpan misteri, yang mampu menumbuhkan cinta dalam hati.
Pintu terbuka. Monsieur Milial masuk, minta maaf terlambat.
Aku pun meminta maaf karena datang lebih awal. Lalu aku bertanya, “Bolehkah kutahu, siapa wanita ini?”
Ia menjawab, “Itu ibuku. Ia wafat di usia muda.”
Dan seketika aku mengerti, dari sanalah datang daya tarik misterius pria ini.
Dukung Penulis/Penerjemah
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!