Misti

Guy de Maupassant Guy de Maupassant

👁️ 45 tayangan

WAKTU itu aku sangat tertarik pada seorang wanita mungil yang jenaka. Ia tentu saja sudah menikah—karena aku selalu merasa ngeri dengan perempuan lajang yang suka menggoda.

Apa nikmatnya bercinta dengan seorang perempuan yang tidak dimiliki siapa pun, tapi bisa menjadi milik siapa saja? Selain itu, jika soal moral diabaikan, aku tidak pernah mengerti cinta yang dijadikan pekerjaan. Itu agak membuatku jijik.

Daya tarik istimewa seorang wanita menikah bagi seorang bujangan adalah bahwa ia dapat memberikan sebuah rumah—rumah yang manis, menyenangkan, di mana semua orang memanjakanmu, mulai dari suami hingga para pelayan.

Di sana segalanya berpadu: cinta, persahabatan, bahkan perhatian seperti seorang ayah, juga tempat tidur dan makan; semua yang membentuk kebahagiaan hidup, ditambah keuntungan luar biasa bahwa kau bisa mengganti “keluarga” itu dari waktu ke waktu—menghabiskan musim panas di desa bersama buruh yang menyewakan kamar padamu; musim dingin bersama orang kota; atau bahkan bersama kaum bangsawan, jika kau punya ambisi ke sana.

Aku punya kelemahan lain: aku mudah sekali terikat bukan hanya pada sang istri, tapi juga pada suaminya. Bahkan, aku mengakui, ada beberapa suami—walau kasar dan sederhana—yang justru membuatku merasa muak pada istrinya, betapa pun memikatnya perempuan itu.

Tapi jika sang suami cerdas atau menawan, aku hampir selalu menjadi sangat akrab dengannya. Kalau aku bertengkar dengan si istri, aku hati-hati untuk tidak bertengkar dengan suaminya.

Dengan cara ini aku memperoleh beberapa sahabat terbaikku, dan dalam banyak kasus, membuktikan betapa laki-laki, dalam spesies manusia, sering kali lebih unggul daripada perempuan.

Perempuan cenderung membuat drama, suka melontarkan tuduhan; sedangkan laki-laki, yang punya hak sama untuk mengeluh, malah memperlakukanmu seolah kau adalah pelindung istimewa dalam rumah tangganya.

Nah, temanku ini adalah wanita mungil nan unik—berambut hitam, penuh fantasi, berubah-ubah, saleh, takhayul, dan polos bagai biarawan—namun menawan.

Ia punya cara mencium yang tak pernah kulihat pada siapa pun—meski itu bukanlah daya tarik utamanya—dan kulitnya begitu lembut!

📖

Mau Lanjut Baca?

Sepertiga awal cerpen ini tersedia gratis. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca sampai selesai.

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×
×