Sherlock Holmes - The Sign of Four
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Rp36.500
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp118.150
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Rp40.150
Lihat di Shopee
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Rp50.500
Lihat di Shopee
Winnetou 3 - Karl May
Winnetou 3 - Karl May
Rp80.000
Lihat di Shopee
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
Rp33.750
Lihat di Shopee

Bab 1 bagian kedua

• The Willows •

👁️ 5 views

KETINGGIAN air yang terus naik tidak membuat kami gentar, tetapi kemungkinan terjebak jauh dari jalur akibat surut mendadak jelas bisa berbahaya. Maka kami pun menyimpan cadangan perbekalan ekstra. Untuk sisanya, ramalan sang perwira terbukti: angin dari langit cerah terus meningkat hingga mencapai martabat badai barat.

Kami berkemah lebih awal dari biasanya, matahari masih sejam atau dua dari horizon. Meninggalkan kawanku yang masih tertidur di pasir panas, aku berjalan-jalan tanpa tujuan meninjau “hotel” kami.

Pulau itu, ternyata, tak sampai satu acre luasnya—hanya sebidang beting pasir setinggi dua-tiga kaki di atas permukaan sungai.

Ujungnya, yang menunjuk ke arah matahari terbenam, diselimuti cipratan air dari ombak besar yang ditiup angin kencang. Bentuknya segitiga, dengan puncak menghadap ke hulu.

Aku berdiri beberapa menit di sana, menatap banjir merah menyala yang berderu hebat, menghantam tebing seakan hendak menyapu pulau ini seutuhnya, lalu berbelok deras menjadi dua arus berbuih di kiri dan kanan.

Tanah di bawahku terasa bergetar oleh guncangan dan hantaman, sementara gerakan garang semak-semak willow diterpa angin menambah ilusi aneh bahwa pulau itu sendiri bergerak.

Di atas sana, sejauh bermil-mil, aku dapat melihat sungai agung itu meluncur ke arahku; bagaikan memandang lereng bukit yang meluncur, putih oleh buih, meloncat ke mana-mana memperlihatkan dirinya pada matahari.

Sisa pulau itu terlalu rapat ditumbuhi pohon-pohon willow sehingga tidak enak untuk berjalan, tetapi aku tetap menyusurinya.

Dari ujung bawah, cahaya tentu saja berubah, dan sungai tampak gelap serta murka. Hanya punggung ombak yang terlihat, berjalin busa, terdorong paksa oleh embusan angin besar yang menimpanya dari belakang.

Dalam jarak kurang lebih satu mil, alirannya tampak berliku-liku di antara pulau-pulau kecil, lalu lenyap dalam satu sapuan besar di tengah hutan willow yang menutupinya seperti kawanan makhluk purba raksasa yang berdesakan hendak minum.

Mereka membuatku teringat pada pertumbuhan aneh seperti spons raksasa yang seakan menyedot sungai ke dalam tubuh mereka. Mereka membuat arus itu lenyap dari pandangan. Mereka berkerumun dalam jumlah yang teramat banyak, hingga terasa menakutkan.

Keseluruhannya menghadirkan pemandangan yang menggetarkan: kesepian mutlak, isyarat yang ganjil. Dan ketika aku menatap lama, dengan rasa ingin tahu, muncul perlahan sebuah emosi aneh yang bergejolak entah dari kedalaman mana dalam diriku.

Di tengah kekaguman pada keindahan liar itu, menyusup tanpa diundang dan tanpa penjelasan, perasaan resah yang aneh, hampir menyerupai rasa gentar.

Sungai yang meluap, mungkin, selalu membawa isyarat muram; banyak dari pulau-pulau kecil yang kulihat pasti akan tersapu hilang saat fajar. Deru banjir yang tak terbendung ini menggugah rasa takzim.

Namun aku sadar, keresahan yang kurasakan jauh lebih dalam daripada sekadar takjub atau kagum. Bukan itu sumbernya. Bukan pula semata-mata karena dahsyatnya angin—badai yang meraung ini, yang seakan bisa mencabut beberapa hektar pohon willow dan menaburkannya seperti jerami ke penjuru lanskap.

Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Rp76.000
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Rp36.750
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Rp44.250
Lihat di Shopee
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Rp50.500
Lihat di Shopee

Angin hanya sedang bermain-main, sebab tak ada apa pun di dataran rata ini yang mampu menghentikannya, dan aku bahkan merasa turut larut dalam permainan agung itu, dengan semacam kegembiraan. Jadi jelas, bukan angin yang jadi penyebab kegelisahan baru ini.

Begitu samar rasa cemas itu hingga mustahil kutelusuri sumbernya. Namun aku tahu, ada kaitan dengan kesadaranku akan betapa kecil dan tak berarti kami di hadapan kekuatan alam liar yang tak terbendung ini.

Sungai yang membesar luar biasa ini juga bagian dari sebabnya—sebuah gagasan samar nan tak menyenangkan bahwa kami telah main-main dengan kekuatan purba, kekuatan yang siang dan malam menahan hidup kami dalam genggamannya.

Di sinilah, sungguh, mereka bermain dengan skala raksasa, dan pemandangan itu merangsang imajinasi.

Namun, sejauh bisa kumengerti, emosi itu lebih lekat pada rimbunan willow, pada berhektar-hektar willow yang berjejal begitu rapat, menyemut sejauh mata memandang, menekan sungai seakan hendak mencekiknya, berbaris padat bermil-mil di bawah langit, seolah mengawasi, menunggu, mendengarkan.

Dan, terpisah dari elemen lain, willow-willow itu dengan halus terkait dengan keresahanku, menyerang pikiran secara licik karena jumlahnya yang luar biasa, dan dengan cara tertentu menampakkan diri pada imajinasi sebagai sebuah kekuatan baru nan perkasa—kekuatan yang, lebih-lebih lagi, tampaknya tidak bersahabat dengan kami.

Pengungkapan alam raya, tentu saja, selalu meninggalkan kesan. Aku tidak asing dengan suasana hati semacam itu. Gunung menghadirkan rasa takluk, samudra menimbulkan teror, sementara hutan lebat memikat dengan misterinya sendiri.

Namun semua itu, pada titik tertentu, masih terhubung erat dengan kehidupan dan pengalaman manusia. Emosi yang dibangkitkannya masih bisa dipahami, meski menakutkan. Pada akhirnya cenderung mengangkat jiwa.

Dengan kerumunan willow ini, bagaimanapun, aku merasakan sesuatu yang berbeda sama sekali. Ada semacam esensi yang memancar dari mereka, mengepung hati. Rasa takzim memang bangkit, tetapi dibubuhi ketakutan samar.

Barisan rapat mereka, makin kelam seiring bayangan jatuh, bergerak garang namun lembut ditiup angin, membangkitkan dalam diriku bisikan ganjil nan tak menyenangkan: bahwa kami telah melangkah ke batas sebuah dunia asing, dunia yang bukan milik kami, dunia tempat kami adalah penyusup, tempat kami tak diinginkan dan tak diundang—tempat yang mungkin menyimpan bahaya besar bagi kami!

Namun, perasaan itu, walau enggan menyerahkan makna jelas pada analisis, tidak lantas berubah menjadi ancaman nyata. Tetap saja ia tidak pernah pergi sepenuhnya, bahkan ketika aku sibuk dengan urusan praktis: mendirikan tenda di tengah terpaan badai, membuat api untuk memasak sup. Ia bertahan, cukup untuk mengganggu dan membingungkan, mencuri sebagian pesona dari tempat perkemahan yang sebenarnya sangat menyenangkan itu.

Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Rp76.000
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Rp36.750
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Rp44.250
Lihat di Shopee
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Rp50.500
Lihat di Shopee

Kepada sahabatku, tentu saja, aku tidak mengatakan apa pun. Ia adalah pria yang kuanggap tak berimajinasi. Pertama, aku tak akan bisa menjelaskan maksudku padanya; kedua, ia pasti hanya akan menertawakanku dengan bodoh.

Ada cekungan kecil di tengah pulau, dan di sanalah kami mendirikan tenda. Rimbunan willow di sekeliling sedikit menahan angin.

“Perkemahan payah,” komentar si Swede yang tenang, ketika akhirnya tenda berdiri tegak. “Tak ada batu, kayu api pun nyaris tak ada. Aku ingin berangkat lebih pagi besok—ya? Pasir ini tak akan menahan apa pun.”

Namun pengalaman tenda ambruk tengah malam telah mengajarkan kami banyak akal. Kami menjadikan rumah gipsi kecil itu seaman mungkin, lalu mulai mengumpulkan persediaan kayu untuk malam.

Pohon willow tidak menjatuhkan ranting, jadi kayu hanyut satu-satunya sumber kami. Kami menyusuri tepi cukup teliti. Di mana-mana tebing runtuh, digerogoti banjir yang kian naik, menggulung bagian besar tanah dengan cipratan dan gelembung air.

“Pulau ini jauh lebih kecil dibanding saat kita mendarat,” kata Swede yang jeli. “Tak akan bertahan lama dengan laju begini. Sebaiknya kita tarik perahu dekat tenda, siap berangkat kapan saja. Aku akan tidur dengan pakaian lengkap.”

Ia agak jauh, merayap di sepanjang tebing, dan kudengar tawanya yang riang ketika berkata begitu.

“Astaga!” serunya tiba-tiba. Aku menoleh mencari, tapi sejenak ia tersembunyi di balik willow, tak terlihat.

“Apa-apaan ini?” kudengar ia berseru lagi, kali ini suaranya serius.

Aku segera berlari mendekat, menyusulnya di tebing. Ia menatap ke arah sungai, menunjuk sesuatu di air.

“Ya Tuhan, itu tubuh manusia!” serunya dengan nada terguncang. “Lihat!”

Sebuah benda hitam, terombang-ambing di gelombang berbusa, terbawa arus deras melewati kami. Benda itu terus tenggelam lalu muncul lagi ke permukaan.

Jaraknya sekitar enam meter dari tepi, dan tepat ketika sejajar dengan posisi kami, ia berputar dan seakan menatap lurus ke arah kami. Kami melihat matanya memantulkan sinar matahari senja, berkilat aneh kekuningan ketika tubuhnya terbalik. Lalu, secepat kilat, ia melompat menyelam dan lenyap dari pandangan.

“Berang-berang, sialan!” kami berseru serempak, sambil tertawa.

Ternyata memang seekor berang-berang, hidup, tengah berburu. Namun sesaat sebelumnya, ia tampak persis seperti mayat seorang pria yang terombang-ambing tak berdaya dalam pusaran arus. Jauh di hilir, hewan itu muncul lagi ke permukaan; kulit hitamnya berkilau basah tertimpa cahaya matahari.

Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Rp76.000
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Rp36.750
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Rp44.250
Lihat di Shopee
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Rp50.500
Lihat di Shopee

Belum lagi kami selesai menumpuk kayu apung di pelukan, satu peristiwa lain kembali menyeret perhatian kami ke tepi sungai. Kali ini benar-benar sosok manusia—dan lebih mengejutkan lagi, manusia itu berada di atas perahu.

Pemandangan sebuah perahu kecil di Sungai Danube memang sudah jarang, tetapi di wilayah sunyi ini, apalagi pada musim banjir, sungguh tak terduga. Kami terpaku, menatap dengan heran.

Entah karena cahaya miring matahari senja, atau akibat bias dari air yang berkilauan memantulkan cahaya ajaib, mataku sulit memfokuskan pandangan pada sosok yang melintas.

Yang tampak, seolah-olah seorang pria berdiri di atas perahu ceper, mengemudikan dayung panjang, melaju deras di sisi seberang. Ia tampaknya sedang menoleh ke arah kami, tetapi jaraknya terlalu jauh dan cahaya terlalu ganjil untuk memastikan gerak-geriknya.

Sepertinya ia melambai-lambaikan tangan, membuat tanda ke arah kami. Suaranya bahkan terdengar, berteriak-teriak marah terbawa angin; namun suara badai menelan habis semua kata.

Seluruh pemandangan—sosok pria, perahu, gerakan, dan teriakan itu—meninggalkan kesan yang jauh lebih kuat daripada alasan yang bisa kutemukan.

“Dia sedang membuat tanda salib!” seruku. “Lihat, dia bersalib!”

“Aku kira kau benar,” ujar si Swedia, melindungi matanya dengan telapak tangan, terus menatap hingga sosok itu lenyap.

Hanya sekejap, lalu ia seakan melebur, tertelan laut pepohonan willow yang disapu cahaya matahari di belokan sungai, menjelma tembok merah menyala yang indah. Kabut tipis mulai naik, membuat udara berembun.

“Tapi apa yang dia lakukan menjelang malam di sungai banjir ini?” gumamku, setengah kepada diri sendiri. “Ke mana ia pergi di waktu seperti ini, dan apa maksudnya dengan tanda-tanda dan teriakannya? Menurutmu, apakah dia hendak memperingatkan kita?”

“Dia mungkin melihat asap api kita, lalu menyangka kita roh,” tawa sahabatku enteng. “Orang Hungaria percaya segala macam omong kosong. Kau ingat kan, wanita penjaga toko di Pressburg itu memperingatkan kita bahwa tak ada orang berani mendarat di sini karena katanya pulau-pulau ini milik makhluk dari luar dunia manusia? Aku kira mereka percaya pada peri, roh alam, mungkin juga iblis. Petani di perahu itu pasti baru sekali ini melihat manusia di pulau-pulau ini, makanya ia ketakutan, sesederhana itu.”

Namun nada suara si Swedia tak benar-benar meyakinkan, dan ada sesuatu yang biasanya ada di dirinya kini terasa hilang. Aku langsung menangkap perubahan itu, meski tak mampu menamai dengan tepat.

“Kalau saja mereka punya cukup imajinasi,” kataku keras sambil tertawa—aku ingat betul sengaja membuat suara sebanyak mungkin—“tentu mereka bisa membayangkan tempat ini dihuni para dewa kuno. Orang Romawi pasti pernah memenuhi daerah ini dengan kuil, hutan keramat, dan roh-roh penjaga alam.”

Kami pun mengakhiri percakapan dan kembali ke panci rebusan, sebab temanku bukanlah orang yang suka berbicara imajinatif.

Justru aku merasa lega akan hal itu. Karakter praktis dan tegarnya seakan jadi sandaran yang menenangkan.

Ia bisa mengemudi menuruni jeram layaknya orang Indian, menembus jembatan berbahaya dan pusaran air lebih lihai daripada siapa pun yang pernah kulihat di kano. Dalam perjalanan penuh bahaya, ia bagaikan menara kekuatan.

Aku memandang wajahnya yang kokoh dan rambut pirang ikal yang berkilau api unggun, saat ia mengangkat kayu apung dua kali lipat dari punyaku, dan perasaan lega menyelubungiku. Ya, aku bersyukur sekali si Swedia adalah dirinya yang apa adanya—tak pernah bicara lebih dari yang ia maksudkan.

“Sungai ini masih terus naik,” katanya, seolah melanjutkan pikirannya sendiri, sambil menjatuhkan tumpukan kayu dengan helaan napas. “Dalam dua hari, pulau ini akan terendam kalau begini terus. Kita sebaiknya seret kano dekat tenda, biar siap kabur kapan saja. Aku akan tidur tetap dengan pakaian lengkap.”“Aku hanya berharap angin ini mereda,” sahutku. “Aku tak peduli dengan banjir.”

Akses Terjemahan Gratis

Kamu telah mencapai kuota maksimal bab untuk pembaca tamu (unregistered members). Daftar akun GRATIS untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

2 bab gratis12 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti The Willows karya Algernon Blackwood ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Rp50.500
Lihat di Shopee
The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Rp52.000
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Rp84.150
Lihat di Shopee
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp108.300
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Rp98.500
Lihat di Shopee
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Rp48.500
Lihat di Shopee
Mademoiselle Fifi - Guy de Maupassant
Mademoiselle Fifi - Guy de Maupassant
Rp43.000
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Rp36.500
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee