Bab 6 — Makin Jauh
RUMAH kecil di tepi Sungai Sipirok itu sudah lama kita kenal. Di sanalah Mariamin tinggal bersama ibunya—perempuan tabah yang sudah lama memanggul beban hidup sendirian sejak suaminya tiada. Sejak itu, harta pun habis, kedudukan keluarga lenyap. Tapi anehnya, bukannya runtuh, hati perempuan itu justru semakin kukuh. Kesengsaraan menajamkan sabarnya, dan imannya pada Tuhan semakin teguh. Segala berat yang menindih pundaknya, ia titipkan pada Yang Mahapengasih—karena ia tahu, di dunia ini tak ada yang kekal.
Hidup mereka melarat, ya, tapi siapa tahu esok berubah. Dan andai pun kesenangan tak sempat mereka nikmati di dunia, ia percaya akan diganti dengan kebahagiaan abadi di akhirat. Keyakinan itulah yang membuatnya rajin beribadah, dan diam-diam ia sisipkan ajaran agama ke hati anaknya. “Agama itu tembok batu,” begitu pikirnya, “yang tak akan roboh meski banjir kehidupan datang.”
Pernah ia bermimpi—gempa mengguncang, tanah menelan suaminya, harta musnah, dan ia hanya tersisa bersama dua anaknya. Kini, mimpi itu telah menjadi kenyataan. Tidak ada gunanya meratap. Takdir Tuhan tak bisa dibantah. Maka ia pun bekerja apa saja: menyiangi sawah, mengirik padi, menjadi buruh harian. Ia tak malu. “Pekerjaan halal tidak akan menjatuhkan martabat,” katanya.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas Zona Bebas Baca bagi guest visitor. Cukup buat akun Reader KlikNovel untuk membaca lebih banyak bab terjemahan novel Azab dan Sengsara.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.