Bab 6 – Surat Catherine ke Reginald
Churchhill.
Reginald sayang,
Akhirnya aku ketemu juga sama “makhluk berbahaya” yang kamu denger-denger itu. Aku kasih deskripsi dikit ya, meskipun sebentar lagi kamu bisa nilai sendiri dia kayak gimana.
Jujur aja, dia cantik banget. Aku tahu kamu mungkin ngeraguin daya tarik wanita yang udah nggak muda, tapi percayalah, jarang banget nemu wanita secantik Lady Susan.
Kulitnya putih mulus, matanya abu-abu dengan bulu mata hitam lebat. Dari penampilannya, dia keliatannya berumur enggak lebih dari 25 tahun, padahal aslinya pasti udah 35-an.
Awalnya aku enggak mau ngakuin kecantikan dia, meski sering denger cerita soal itu. Tapi enggak bisa dipungkiri, dia punya kombinasi sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan pesona.
Begitu ketemu orang, dia langsung ramah banget, bahkan terkesan akrab. Kalau aku enggak tahu dia enggak suka sama aku karena nikah sama suamiku, dan bahwa kita belum pernah ketemu sebelumnya, aku pasti bakalan berpikir kalo dia temen baikku.
Biasanya kan, kita ngira orang yang terlalu percaya diri itu suka main-main, dan sikap yang kurang ajar nunjukin pikiran yang sama. Aku sendiri siap ngadepin Lady Susan yang sok akrab. Tapi wajahnya manis banget, suaranya lembut, dan sikapnya nyenengin.
Aku sedih bilang gini, karena ini semua kan cuma tipuan? Sayangnya, kita udah terlalu kenal dia siapa. Dia pintar, nyenengin, punya pengetahuan luas yang bikin obrolan jadi lancar, dan gaya ngomongnya memikat. Tapi kemampuannya itu sering dipakai untuk membalikkan fakta.
Aku hampir aja percaya pas dia bilang sayang banget sama putrinya – padahal bertahun-tahun aku tahu yang sebaliknya. Dia bicara dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran, bilang nyesel karena pendidikan putrinya terabaikan (tapi dia bilang itu enggak bisa dihindari). Padahal dari yang aku inget-inget, selama bertahun-tahun dia selalu ngabisin musim semi di kota, sementara anaknya ditinggal di Staffordshire dengan pelayan atau pengasuh yang enggak kompeten.
Kalo sikapnya bisa goyangin hatiku yang udah penuh prasangka, apalagi hati suamiku yang baiknya enggak ketulungan itu. Aku berharap bisa percaya penuh ke dia kayak suamiku, bahwa Lady Susan emang memilih ninggalin Langford untuk ke Churchill. Tapi aku enggak bisa lupa kalo dia tinggal berbulan-bulan di sana sebelum akhirnya “sadar” gaya hidup temennya enggak cocok buat dia.
Aku juga enggak bisa lupa betapa lamanya dia tinggal bareng keluarga Mainwaring. Pas bandingin gaya hidupnya di sana dengan yang harus dia jalani sekarang, aku cuma bisa nyimpulin kalo dia cuma pengin memperbaiki reputasinya dengan menjalani hidup yang lebih “layak” di sini.
Cerita temanmu Mr. Smith kayanya enggak sepenuhnya bener, soalnya dia masih rutin korespondensi sama Nyonya Mainwaring. Paling enggak, ceritanya pasti dilebih-lebihin. Enggak mungkin kan, dua pria sekaligus bisa ketipu sama dia?
Salam,
Kate
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.