Mencari Wajah Le Horla
MEMBACA Le Horla serasa menapaki lorong labirin jiwa manusia yang paling gelap dan tak terjamah.
Cerita ini, yang secara cemerlang dibangun oleh Guy de Maupassant, bukanlah sekadar kisah horor tentang makhluk tak kasatmata yang memburu seorang pria hingga kewarasannya hancur. Ia adalah alegori yang jauh lebih kompleks dan menusuk—tentang kecemasan eksistensial, keterasingan dalam dunia modern, dan rapuhnya batas antara realitas dan ilusi.
Apa, atau siapa, sebenarnya Horla? Itu mungkin pertanyaan pertama dan terakhir yang akan terus membayangi pembaca, bahkan setelah menutup halaman terakhir.
Apakah ia benar-benar makhluk gaib dari negeri tropis, sebagaimana disiratkan oleh masuknya kapal Brasil di awal cerita? Ataukah ia adalah proyeksi dari kegilaan si tokoh utama, yang perlahan-lahan kehilangan kendali atas pikirannya sendiri?
Maupassant tidak memberikan jawaban pasti, dan di sanalah letak kekuatan kisah ini.
Tokoh narator kita—tanpa nama, tanpa identitas jelas selain sebagai seorang pria terhormat dari kalangan borjuis Prancis—diperlihatkan sedang mengalami sesuatu yang ia sendiri tak mampu jelaskan. Segalanya dimulai dengan kegelisahan kecil: perasaan diawasi, tubuh yang terasa lemah, mimpi buruk yang aneh.
Perlahan keresahan itu tumbuh, mengendap, lalu meledak menjadi teror yang menyelubungi seluruh hidupnya. Ia merasa ada “makhluk” tak kasatmata yang tinggal bersamanya, menghisap energinya, membentuk kehendaknya, bahkan mungkin mengambil alih dirinya.
Ini bisa dimaknai sebagai metafora tentang gangguan jiwa—barangkali skizofrenia atau psikosis—yang pada masa Maupassant masih belum sepenuhnya dipahami oleh dunia medis. Dan memang, Maupassant sendiri mengalami delusi dan paranoia menjelang akhir hidupnya, hingga akhirnya dirawat di rumah sakit jiwa. Tak pelak, Le Horla kerap dibaca sebagai catatan pribadi tentang kepanikan sang penulis sendiri terhadap kehancuran mentalnya yang kian nyata.
Namun, Le Horla juga bisa ditafsirkan lebih luas. Ia mencerminkan ketakutan masyarakat abad ke-19 terhadap hadirnya kekuatan-kekuatan baru yang tak tampak—baik dalam ranah teknologi, sains, maupun spiritualitas.
Dunia sedang berubah cepat kala itu. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan bersamanya muncul kegelisahan baru: bahwa dunia mungkin jauh lebih rumit dan tak terkendali daripada yang selama ini dipercaya manusia.
Munculnya Horla bisa dianggap sebagai representasi dari “Yang Tak Terlihat” dalam hidup modern—kekuatan tak bernama yang merasuki pikiran manusia tanpa disadari. Kita bisa menyebutnya teknologi, kapitalisme, propaganda, bahkan algoritma. Sesuatu yang tak berbentuk, tak bisa disentuh, tetapi mengatur cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Narator yang ketakutan dan kehilangan kendali atas dirinya bisa jadi adalah kita semua, di dunia yang semakin tak bisa dipahami.
Namun di sisi lain, kita juga bisa melihat Horla sebagai perwujudan sisi gelap diri manusia sendiri. Sejenis “diri lain” yang tersembunyi, liar, dan tak terjangkau oleh kesadaran. Dalam tradisi psikoanalisis, Horla mirip dengan apa yang disebut Carl Jung sebagai the Shadow—aspek tak disadari dari jiwa manusia yang jika ditekan terus-menerus, bisa muncul ke permukaan dengan cara yang destruktif. Maka, bisa jadi narator tak sedang diganggu oleh makhluk asing, melainkan sedang menghadapi bayangan terdalam dalam dirinya—dan ia tak sanggup berdamai dengannya.
Maupassant, lewat gaya penulisannya yang intens dan menggugah, membawa pembaca masuk ke pusaran obsesi dan keraguan tokohnya. Ia menulis dengan irama yang nyaris hipnotik—mengulang-ulang ketakutan yang sama, mempertebal suasana, hingga kita sendiri tak yakin: apakah yang kita baca adalah kenyataan, mimpi, atau delusi?
Dan pada akhirnya, narator memilih jalan paling gelap: membakar rumahnya sendiri, membunuh para pelayannya tanpa sengaja, lalu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup. Mengapa?
Karena ia tak sanggup lagi hidup dengan keraguan. Karena ia tak bisa menerima bahwa dunia mungkin tak selalu bisa dijelaskan. Karena jika Horla benar-benar ada, maka ia telah dikalahkan. Namun jika Horla hanya khayalan—maka ia jauh lebih kalah lagi, karena berarti musuhnya adalah dirinya sendiri.
Kisah ini berakhir tanpa kepastian. Dan justru di situlah letak kengerian sejatinya.
***
Le Horla bukan cerita horor biasa. Ia tak menakuti dengan monster, darah, atau jeritan. Ia menyelinap pelan ke dalam pikiran, menggoyang fondasi akal sehat, dan membuat kita mempertanyakan: seberapa kuat sebenarnya kendali kita atas hidup ini? Apakah kita benar-benar bebas? Atau, seperti si narator, kita hanya boneka dari kekuatan tak bernama yang diam-diam menuntun langkah kita?
Guy de Maupassant, dengan kepekaan dan keberanian yang langka, membawa kita melihat wajah ketakutan yang paling purba dan pribadi—takut akan kehilangan diri. Maka, mungkin Horla bukan sesuatu di luar sana. Mungkin Horla… adalah bagian dari kita.
Dan pertanyaannya pun berubah. Bukan lagi siapa itu Horla. Melainkan: berapa banyak dari Horla yang tinggal di dalam dirimu?
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Le Horla karya Guy de Maupassant ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!










Silakan login untuk meninggalkan komentar.