KEPONAKANKU Sayang,
Jadi kamu menangis dari pagi sampai malam dan dari malam sampai pagi, hanya karena suamimu meninggalkanmu; kamu tidak tahu harus berbuat apa, dan akhirnya meminta nasihat dari bibimu yang sudah tua; rupanya kamu menganggap bibimu ini sangat ahli.
Untuk urusan ini, aku tidak seahli yang kamu kira. Namun aku juga tidak sepenuhnya bodoh dalam seni mencinta, atau tepatnya, seni membuat diri dicintai—sesuatu yang agak kurang kamu kuasai. Aku berani mengatakan itu di usiaku sekarang.
Kamu bilang kamu selalu penuh perhatian, cinta, ciuman, dan belaian untuknya. Mungkin justru itulah masalahnya; aku pikir kamu terlalu sering menciumnya.
Sayangku, kita, kaum wanita, memegang kekuatan paling dahsyat di dunia: CINTA.
Pria dikaruniai kekuatan fisik, dan ia menggunakan kekerasan. Wanita dikaruniai pesona, dan ia memerintah dengan belaian. Itulah senjata kita—dahsyat dan tak terkalahkan—tapi kita harus tahu cara menggunakannya.
Sadarlah bahwa kita adalah penguasa dunia! Menuturkan sejarah cinta sejak awal dunia sama saja dengan menuturkan sejarah manusia itu sendiri: segalanya lahir dari wanita—seni, peristiwa besar, adat, perang, bahkan runtuhnya kerajaan.
Dalam Alkitab ada Delila, Yudit; dalam dongeng ada Omphale, Helen; dalam sejarah ada bangsa Sabine, Cleopatra, dan banyak lagi.
Karenanya kita berkuasa mutlak. Tapi, seperti raja, kita harus menggunakan diplomasi yang halus.
Mau Lanjut Baca?
Sepertiga awal cerpen ini tersedia gratis. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca sampai selesai.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!


Silakan login untuk meninggalkan komentar.