Rekomendasi
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 3 - Karl May
Winnetou 3 - Karl May
Lihat Buku

Bab 3 — Kami Bertukar Cerita

• Carmilla •

👁️ 21 tayangan

KAMI mengikuti rombongan itu dengan tatapan hingga akhirnya lenyap cepat di balik hutan berkabut, dan suara derap kuda maupun roda kereta pun menghilang dalam keheningan malam.

Yang tersisa hanya satu bukti bahwa semua yang kami alami bukan sekadar ilusi sesaat: gadis muda itu. Tepat saat itu juga, ia membuka mata. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia menghadap ke arah lain, tapi ia mengangkat kepala, seolah mencari-cari, lalu kudengar suara yang begitu lembut bertanya dengan nada cemas, “Mamma di mana?”

Madame Perrodon menjawabnya dengan suara lembut dan menambahkan beberapa kata menenangkan.

Lalu kudengar ia bertanya lagi, “Aku di mana? Ini tempat apa?” Setelah itu ia berkata, “Aku tidak lihat keretanya… dan Matska, di mana dia?”

Madame menjawab semua pertanyaannya sebisa mungkin, dan perlahan-lahan gadis itu mulai mengingat kembali peristiwa yang terjadi. Ia merasa lega ketika mendengar bahwa tak ada seorang pun, baik di dalam kereta maupun pengiringnya, yang terluka. Tapi saat mengetahui bahwa ibunya meninggalkannya di tempat ini dan baru akan kembali dalam waktu sekitar tiga bulan, ia pun menangis.

Aku hendak menambahkan kata-kata penghibur setelah Madame Perrodon selesai bicara, tapi Mademoiselle De Lafontaine menyentuh lenganku dan berkata, “Jangan dulu mendekat. Satu orang saja sudah cukup untuk diajak bicara saat ini. Sedikit saja kegembiraan bisa membuatnya kewalahan.”

Aku pun berpikir, nanti saat ia sudah beristirahat dengan nyaman, aku akan naik ke kamarnya dan menemuinya.

Sementara itu, ayah telah mengirim seorang pelayan berkuda untuk memanggil dokter yang tinggal sekitar dua liga dari sini, dan kamar untuk gadis muda itu tengah dipersiapkan.

Gadis asing itu kini bangkit, lalu dengan bertumpu pada lengan Madame, berjalan perlahan melewati jembatan tarik dan memasuki gerbang kastel.

Di aula, para pelayan sudah menunggu untuk menyambutnya, dan ia langsung diantar ke kamarnya. Ruangan tempat kami biasa duduk santai adalah ruang tamu yang panjang, memiliki empat jendela yang menghadap ke parit dan jembatan tarik, dan dari sana juga terlihat hutan yang tadi kulukiskan.

Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Ruangannya berisi furnitur kayu ek ukir kuno, kabinet besar, dan kursi-kursi yang dilapisi beludru merah marun dari Utrecht. Dindingnya dilapisi permadani dan dikelilingi bingkai-bingkai emas besar, menampilkan sosok-sosok seukuran nyata dengan kostum zaman dahulu yang unik. Lukisannya menggambarkan adegan berburu, menangkap elang, dan pesta-pesta. Meskipun tampak megah, ruangan ini sangat nyaman. Di sinilah kami menikmati teh malam kami, karena ayahku yang sangat mencintai budaya Inggris selalu memastikan teh hadir bersama kopi dan cokelat.

Kami duduk di ruangan ini malam itu, dengan lilin menyala, membicarakan petualangan yang baru saja kami alami.

Madame Perrodon dan Mademoiselle De Lafontaine bergabung bersama kami. Gadis muda yang baru saja datang langsung terlelap dalam tidurnya begitu ia dibaringkan di tempat tidur, dan para wanita itu meninggalkannya dalam pengawasan pelayan.

“Apa pendapatmu tentang tamu kita?” tanyaku segera setelah Madame masuk. “Ceritakan semuanya padaku.”

“Aku sangat menyukainya,” jawab Madame. “Kurasa dia gadis paling cantik yang pernah kulihat; usianya kira-kira seumuranmu, dan begitu lembut dan menyenangkan.”

“Dia benar-benar cantik,” tambah Mademoiselle, yang sempat mengintip ke dalam kamar gadis itu.

“Dan suaranya begitu merdu!” sambung Madame Perrodon.

“Kalian melihat perempuan yang tetap di dalam kereta setelah keretanya ditegakkan kembali?” tanya Mademoiselle. “Dia tidak turun, hanya mengintip dari jendela.”

“Tidak, kami tak melihat siapa pun lagi.”

Mademoiselle lalu menggambarkan seorang perempuan berkulit hitam dengan sorban berwarna di kepalanya. Perempuan itu terus-menerus mengintip dari jendela kereta, mengangguk-angguk dan menyeringai dengan cara mengejek ke arah para wanita, matanya berkilat-kilat dengan bola mata putih yang besar, dan giginya mencuat seolah sedang marah.

“Pelayan-pelayannya tampak jahat, bukan?” tanya Madame.

“Iya,” kata ayahku yang baru saja masuk. “Orang-orang dengan wajah seburuk itu belum pernah kulihat seumur hidupku. Semoga saja mereka tidak merampok si Nyonya di dalam hutan. Tapi mereka cekatan—mereka membereskan semuanya dalam sekejap.”

Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Mungkin mereka sudah kelelahan karena perjalanan yang terlalu panjang,” ujar Madame.

“Selain tampak mencurigakan, wajah-wajah mereka sangat kurus, gelap, dan muram. Aku jujur sangat penasaran, tapi kurasa gadis itu akan menceritakan semuanya padamu besok, kalau dia sudah pulih,” tambahnya.

“Aku rasa tidak,” kata ayahku dengan senyum penuh rahasia dan anggukan kecil, seolah ia tahu lebih banyak daripada yang ia ingin sampaikan.

Itu justru membuat kami makin penasaran akan apa yang dibicarakan ayah dengan wanita berbaju beludru hitam dalam percakapan singkat namun serius sebelum kepergiannya.

Begitu kami tinggal berdua, aku memohon agar ayah mau bercerita. Tak butuh banyak desakan.

“Tak ada alasan khusus untuk merahasiakannya. Dia agak enggan menitipkan putrinya pada kita karena katanya, gadis itu memiliki kesehatan yang lemah dan cukup sensitif—tapi, dia menekankan, bukan tipe yang mudah terkena kejang—itu dia sampaikan sendiri—dan juga tidak mengalami delusi; secara mental ia benar-benar waras.”

“Wah, aneh sekali mengatakan semua itu,” sela aku. “Rasanya tak perlu.”

“Bagaimanapun juga, dia memang mengatakannya,” jawab ayahku sambil tertawa. “Dan karena kamu ingin tahu semua yang terjadi—padahal sebenarnya tak banyak—aku lanjutkan. Dia bilang begini, ‘Saya sedang melakukan perjalanan yang sangat penting—dia menekankan kata itu—cepat dan rahasia; saya akan kembali menjemput anak saya dalam tiga bulan. Sementara itu, dia tidak akan bicara siapa kami, dari mana kami datang, dan ke mana tujuan kami.’ Itu saja yang dia katakan. Bahasanya Prancisnya sangat bagus. Waktu menyebut kata ‘rahasia,’ dia sempat berhenti beberapa detik, menatap tajam ke mataku. Kurasa itu hal yang sangat penting baginya. Kamu lihat sendiri betapa cepatnya dia pergi. Semoga aku tidak melakukan kesalahan besar dengan menerima titipan gadis itu.”

Aku sendiri sangat senang. Rasanya tak sabar ingin bertemu dan berbicara dengannya. Kamu yang tinggal di kota mungkin tak bisa membayangkan betapa besar arti hadirnya teman baru di tempat yang sepi seperti ini.

Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Dokter baru tiba sekitar pukul satu dini hari; tapi aku tak mungkin bisa tidur sebelum itu, sama seperti aku tak mungkin mengejar kereta yang ditumpangi sang nyonya berbaju beludru hitam dengan berjalan kaki.

Saat sang dokter turun ke ruang tamu, ia membawa kabar baik. Pasiennya sudah duduk, detaknya normal, dan tampak sehat. Tak ada cedera apa pun, dan gangguan kecil pada sarafnya sudah berlalu tanpa masalah. Jadi, tak ada salahnya kalau aku ingin menjenguk, asal kami berdua menginginkannya. Dengan izin itu, aku segera mengirim pesan menanyakan apakah ia bersedia menerimaku di kamarnya.

Pelayan segera kembali dan mengatakan bahwa ia sangat menginginkan itu.

Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Tamu kami menempati salah satu kamar paling megah di dalam schloss. Suasananya mungkin sedikit terlalu mewah dan resmi. Di dinding seberang kaki tempat tidurnya, tergantung permadani tua yang muram—lukisan Cleopatra dengan ular berbisa yang merayap di dadanya. Di sisi-sisi lain, ada adegan klasik yang tak kalah khidmat, meskipun warnanya sudah sedikit memudar dimakan waktu. Namun ukiran emas dan warna-warna kaya pada detail interior lainnya cukup untuk mengimbangi kesuraman permadani itu.

Beberapa lilin menyala di dekat ranjang. Dia duduk tegak, tubuhnya yang ramping dan cantik dibalut gaun tidur sutra lembut, bersulam bunga dan dilapisi kain tebal berlapis yang hangat. Gaun itu tadinya disampirkan ibunya untuk menutupi kakinya saat dia masih terbaring di lantai.

Namun, saat aku mendekat dan baru saja mulai menyapanya, tiba-tiba sesuatu membuatku terdiam. Langkahku mundur satu dua, terkejut.

Apa yang membuatku kehilangan kata-kata seperti itu?

Wajah yang kulihat di depanku adalah wajah yang pernah mengunjungiku di malam-malam masa kecilku. Wajah yang begitu membekas dalam ingatanku. Selama bertahun-tahun, aku sering memikirkannya dalam diam, dengan rasa ngeri yang tak pernah bisa kujelaskan pada siapa pun.

Wajah itu cantik—bahkan sangat cantik. Dan ketika pertama kulihat lagi, ekspresinya masih menyimpan kesedihan yang sama.

Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Namun, hanya dalam sekejap, kesedihan itu berubah menjadi senyum. Senyum aneh, lekat, seolah mengenali.

Kami sama-sama terdiam. Setidaknya selama satu menit penuh. Lalu akhirnya dia bicara—aku masih belum bisa.

“Luar biasa,” ucapnya dengan mata berbinar. “Dua belas tahun yang lalu, aku melihat wajahmu dalam mimpi. Sejak itu, bayanganmu terus menghantui pikiranku.”

“Luar biasa, memang,” jawabku, meskipun aku harus menahan diri dari rasa takut yang sempat membekukan lidahku. “Dua belas tahun lalu, entah dalam mimpi atau nyata, aku juga pernah melihatmu. Wajahmu tak pernah kulupakan. Seolah terus berada di hadapanku sampai hari ini.”

Senyumnya mulai terasa lebih lembut. Apa pun yang tadinya terasa aneh, kini lenyap. Pipinya yang merona dan senyumnya yang berlesung pipit justru terlihat sangat menarik dan cerdas.

Aku mulai merasa tenang dan lebih nyaman. Dengan hangat, aku menyambutnya, mengatakan betapa senangnya kami menerima kedatangannya, terutama aku. Rasanya seperti kebahagiaan yang aneh tapi nyata.

Sambil bicara, aku menggenggam tangannya. Aku agak canggung—seperti kebanyakan orang yang terbiasa sendiri. Tapi momen itu membuatku jadi berani. Dia membalas genggamanku, lalu meletakkan tangannya di atas tanganku. Tatapannya membara saat ia menatap mataku, tersenyum lagi, dan pipinya memerah.

Sambutannya pun manis. Aku duduk di sisinya, masih belum sepenuhnya bisa percaya, dan dia berkata:

“Aku harus menceritakan mimpiku tentangmu. Aneh sekali rasanya, bagaimana mungkin kita berdua saling bermimpi, dan melihat satu sama lain begitu nyata—bahkan seperti sekarang—padahal waktu itu kita masih anak-anak. Saat itu aku mungkin baru enam tahun, dan aku terbangun dari mimpi yang membingungkan. Aku berada di kamar asing, bukan kamar tidurku yang biasa. Dindingnya dilapisi kayu gelap, furniturnya besar-besar dan berat: lemari, tempat tidur, bangku. Rasanya semua tempat tidur di kamar itu kosong. Hanya aku yang ada di sana.

Aku sempat memandangi sekeliling, dan tertarik pada tempat lilin dari besi dengan dua cabang—aku yakin aku bisa mengenalinya lagi sekarang. Lalu aku merangkak ke bawah tempat tidur untuk mendekati jendela. Tapi sebelum sempat keluar, aku mendengar seseorang menangis.

Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Saat aku menengadah—aku masih berlutut di lantai—aku melihatmu. Ya, kau! Seindah yang kulihat sekarang. Rambut keemasan, mata biru besar, dan bibir… bibir itu—itu kamu.

Kau terlihat begitu manis. Aku naik ke tempat tidur dan memelukmu. Seingatku, kita pun tertidur bersama. Tapi kemudian aku terbangun karena kau menjerit. Kau duduk dan berteriak ketakutan. Aku ikut panik, melompat turun, dan rasanya sempat kehilangan kesadaran. Saat aku sadar kembali, aku sudah berada di kamar tidurku di rumah. Tapi wajahmu tak pernah hilang dari ingatanku. Aku tak mungkin salah orang. Kaulah wanita yang kulihat saat itu.

Sekarang giliranku menceritakan mimpiku yang serupa, dan dia mendengarnya dengan mata terbelalak penuh keheranan.

“Aku tidak tahu siapa yang seharusnya lebih takut dari yang lain,” katanya sambil tersenyum lagi. “Kalau kau tidak secantik ini, mungkin aku akan ketakutan padamu. Tapi karena kau seperti ini, dan kita berdua masih muda, aku merasa seolah sudah mengenalmu sejak dua belas tahun lalu—dan itu memberi alasan bagiku untuk merasa dekat denganmu. Rasanya seperti takdir bahwa kita ditakdirkan berteman sejak kecil. Aku penasaran apakah kau merasakan ketertarikan aneh yang sama sepertiku. Aku tidak pernah punya sahabat… mungkinkah kini aku akan menemukan satu?” Ia menghela napas, dan matanya yang gelap memandangi wajahku dengan lembut tapi dalam.

Sejujurnya, perasaanku pada sosok asing nan cantik ini memang aneh. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik… tapi juga sedikit enggan. Walau begitu, rasa tertarik itu jauh lebih kuat. Ia memikatku, membuatku nyaman. Ada pesona dalam dirinya yang sulit dijelaskan.

Namun, aku mulai melihat raut lelah di wajahnya. Jadi, aku segera mengucapkan selamat malam.

“Dokter menyarankan agar malam ini kau ditemani seorang pelayan. Salah satu dari kami sedang menunggu, dia bisa membantumu. Orangnya tenang dan sangat membantu.”

Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Baik sekali perhatianmu, tapi aku tak bisa tidur jika ada orang lain di kamarku. Aku memang tak membutuhkan bantuan… dan, bolehkah aku mengaku sesuatu? Aku selalu takut pada perampok. Rumah kami pernah disatroni, dua pelayan tewas. Sejak itu aku selalu mengunci pintu kamar. Itu sudah jadi kebiasaanku. Dan kamu begitu baik, aku yakin kamu akan memakluminya. Lihat, di pintu ini ada kuncinya.”

Dia memelukku sejenak, manis dan erat, lalu berbisik pelan di telingaku, “Selamat malam, sayang. Sulit rasanya berpisah darimu. Tapi sampai besok ya—tidak terlalu pagi.”

Ia kembali bersandar di bantal, menghela napas, dan matanya mengikutiku penuh perasaan. “Selamat malam, sahabatku,” bisiknya sekali lagi.

Anak muda memang sering jatuh hati hanya karena rasa atau suasana. Aku pun merasa tersanjung oleh perhatian—meski belum sepenuhnya layak—yang ia tunjukkan sejak awal. Aku suka caranya langsung merasa dekat denganku. Dia benar-benar berniat menjadikan kami berdua sebagai teman karib.

Keesokan harinya, kami bertemu lagi. Aku senang sekali. Dalam banyak hal, ia adalah teman yang sangat menyenangkan.

Kecantikannya tak berkurang saat siang hari. Bahkan, bisa dibilang, dia adalah makhluk paling memesona yang pernah kulihat. Rasa tak nyaman yang sempat muncul saat aku mengenal wajahnya—dari mimpi lamaku—sudah tak terasa lagi.

Dia pun mengaku bahwa saat melihatku pertama kali, dia mengalami kejutan yang sama. Bahkan, katanya, ia merasakan sedikit rasa enggan, persis seperti yang kurasakan. Tapi sekarang, kami bisa tertawa bersama mengenang betapa aneh dan menyeramkannya pertemuan pertama itu.

Carmilla Bab 4 / 17
Carmilla
Sisa 1 bab lagi yang bisa kamu baca tanpa membuat akun KlikNovel.
Progres Zona Bebas: 80%

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel klasik seperti Carmilla.

Rekomendasi
The Valley of Fear - Sir Arthur Conan Doyle
The Valley of Fear - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Lihat Buku
Rekomendasi
Hamlet - William Shakespeare
Hamlet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Age of Innocence - Edith Wharton
The Age of Innocence - Edith Wharton
Lihat Buku

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Sacrlet (Terjemahan)
Sherlock Holmes - A Study in Sacrlet (Terjemahan)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
×
×