Bab 2 — Misteri Pengasuh Sebelumnya
HAL ini makin terasa nyata dua hari kemudian, saat aku pergi bersama Flora untuk menjemput—seperti kata Mrs. Grose—si kecil tuan muda. Apalagi karena satu kejadian yang, meski muncul di malam kedua, sudah cukup mengguncang hatiku. Hari pertama, seperti sudah kusinggung, cukup menenangkan. Tapi semuanya berakhir dengan rasa was was yang tajam.
Malam itu, petugas pos datang terlambat. Ada sepucuk surat untukku, tapi yang membuatku tegang adalah tulisan tangan majikanku di bagian depan. Isinya hanya beberapa patah kata, dan ia menyelipkan surat lain yang masih tersegel.
“Ini, aku tahu betul, dari kepala sekolah. Dan dia itu membosankan luar biasa. Bacalah, tangani dia. Tapi jangan laporkan balik. Satu patah kata pun jangan. Aku pamit!”
Dengan enggan dan cukup banyak menguras mental, aku pun membuka segel surat itu—saking beratnya, aku bahkan menundanya hingga malam. Aku baru membacanya sesaat sebelum tidur… dan seharusnya kutunda saja sampai pagi.
Malam itu jadi malam kedua aku tak bisa tidur. Esoknya, tanpa tempat untuk berbagi cerita, aku merasa resah bukan main. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi dan memutuskan untuk terbuka kepada Mrs. Grose.
“Apa artinya ini? Anak itu dikeluarkan dari sekolahnya.”
Wajah Mrs. Grose langsung berubah saat mendengar itu. Sekilas terlihat keterkejutan, lalu seperti mencoba menarik kembali reaksinya.
“Tapi bukankah mereka semua…?”
“Dipulangkan, ya—tapi cuma untuk liburan. Sedangkan Miles… mungkin tak akan pernah kembali.”
Pipi Mrs. Grose merona, entah karena syok atau malu. “Mereka menolaknya?”
“Ya. Mereka menolak, tegas dan mutlak.”
Mendengar itu, ia mengangkat wajahnya yang tadi sempat tertunduk. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Apa yang sudah dia lakukan…?”
Aku ragu sejenak. Lalu, kupikir sebaiknya langsung saja kuserahkan surat itu pada Mrs. Groose. Namun alih-alih mengambilnya, wanita itu justru menyembunyikan kedua tangan ke belakang.
“Hal-hal seperti itu bukan untukku, Miss.”
Ternyata Mrs. Grose tidak bisa membaca!
Aku langsung merasa bersalah atas tindakan tersebut. Berusaha menebus kesalahan, aku membuka surat itu lagi dan hendak membacakannya. Namun baru beberapa kalimat, aku terdiam, melipat kembali surat, dan menyimpannya di saku.
“Apa dia memang seburuk itu…?”
Mata Mrs. Groose masih berkaca-kaca. “Apa benar para lelaki itu bilang begitu?”
“Mereka tidak menyebutkan secara rinci. Hanya mengatakan bahwa sangat disayangkan karena mereka tak bisa mempertahankan Miles di sekolah. Itu cuma bisa berarti satu hal.”
Mrs. Grose mendengarkan dengan diam dan wajah serius. Ia tak bertanya lebih lanjut, jadi aku pun melanjutkan, berusaha menyatukan semuanya dengan bantuannya sebagai pendengar.
“Artinya dia membawa pengaruh buruk bagi teman-temannya.”
Seketika, dengan spontanitas khas orang-orang polos, Mrs. Grose tampak tersinggung. “Tuan Muda Miles? Dia membawa pengaruh buruk?”
Nada kepercayaannya begitu kuat sampai aku, yang bahkan belum pernah bertemu anak itu, merasa tuduhan itu terdengar konyol. Untuk menenangkan suasana, aku menanggapinya dengan sedikit nada sinis.
“Kepada teman-temannya yang kecil, polos, dan tak berdosa?”
“Kejam sekali kalau harus mengatakan hal seperti itu!” seru Mrs. Groose. “Usianya bahkan belum sepuluh tahun.”
“Ya, ya. Kedengarannya memang tidak masuk akal.”
Wajah Mrs. Grose menunjukkan rasa lega mendalam. “Lihat saja nanti sendiri, Miss. Baru percaya setelah itu!”
Mendadak aku jadi tak sabar ingin segera melihat anak itu. Rasa ingin tahuku terus tumbuh dan mulai terasa menyakitkan.
Mrs. Grose menyadari pengaruh kata-katanya terhadapku, dan ia pun menambahkan dengan yakin, “Dan kalau kau percaya Miles begitu, kau pasti juga akan percaya Flora begitu. Mana mungkin!” katanya sambil tersenyum. “Lihat saja sendiri!”
Aku menoleh. Flora, yang tadi kutinggalkan di ruang belajar dengan selembar kertas putih, pensil, dan contoh tulisan “O” bulat yang rapi, kini muncul di ambang pintu. Sikapnya tampak seolah tak peduli pada tugas yang tak menyenangkan. Ia menatapku dengan sorot ceria khas anak-anak, seakan ingin mengatakan bahwa ia mengikuti aku hanya karena menyayangiku.
Sikap seperti itu langsung membuatku memahami apa yang dimaksud Mrs. Grose. Aku memeluk Flora erat-erat dan menciuminya, sembari menyisipkan isak kecil sebagai permintaan maaf.
Sepanjang sisa hari itu, aku terus mencari kesempatan bicara lagi dengan Mrs. Grose. Apalagi menjelang sore, aku merasa dia justru menghindariku. Namun akhirnya aku berhasil menyusulnya di tangga. Kami turun bersama, dan di bawah aku menahan lengannya.
“Kata-kata Anda tadi siang—saya menganggapnya sebagai pernyataan bahwa Anda tak pernah melihat anak itu berbuat jahat.”
Mrs. Groose mendongak dengan percaya diri. “Oh, aku tak pernah bilang begitu—aku tak berpura-pura seolah tidak pernah melihat!”
Aku terkejut lagi. “Jadi Anda pernah melihatnya…?”
“Tentu saja, Miss. Dan aku bersyukur pernah mengalaminya!”
Setelah memikirkan lagi, aku bisa menerimanya. “Maksud Anda, anak laki-laki yang tak pernah nakal…?”
“Bukan anak laki-laki sejati, menurutku begitu!”
Aku mencengkeram lengannya lebih erat. “Jadi Anda suka anak-anak yang punya keberanian untuk nakal?” Dan, seiring dengan jawabannya, aku pun menimpali, “Saya juga!”
Lalu buru-buru menambahkan, “Tapi tentu saja, jangan sampai keterlaluan dan merusak yang lain—”
“Merusak?”—kata itu membuat Mrs. Groose bingung.
“Maksud saya, meracuni.”
Mrs. Groose mengangguk, baru memahami. Namun tanggapannya kemudian malah membuatku tertawa.
“Apa kau takut dia akan meracunimu?”
Nada candaannya begitu menggelitik, hingga aku pun tertawa—meskipun agak bodoh juga, mengingat ini sebenarnya bukan perkara lucu.
Keesokan harinya, setibanya waktu keberangkatan yang semakin dekat, aku kembali bertanya, “Bagaimana dengan pengasuh sebelum saya?”
“Yang terakhir? Dia juga muda dan cantik—hampir semenarik dan semuda dirimu, Miss.”
“Semoga kecantikan dan kemudaannya membantunya, ya.” Aku bergumam sambil tersenyum. “Kelihatannya dia memang suka pengasuh yang muda dan cantik.”
“Oh, memang begitu.” kata Mrs. Grose. “Itulah caranya… si Tuan Besar.”
Aku tertegun. “Tunggu, Anda bicara tentang siapa tadi?”
Wajahnya tampak kosong, tapi memerah sedikit. “Ya… tentang Tuan Besar.”
“Tuan yang punya rumah ini?”
“Ya, siapa lagi?”
Karena tak ada orang lain yang masuk akal, aku pun menyingkirkan rasa curigaku bahwa Mrs. Groose baru saja keceplosan. “Lalu… apakah pengasuh sebelumnya pernah melihat sesuatu dalam diri anak laki-laki itu—yang tak beres?”
“Pengasuh itu tak pernah bilang apa-apa padaku.”
Aku ragu, tapi bertanya juga. “Apa dia termasuk orang yang teliti?”
Mrs. Grose terlihat berusaha menjawab dengan jujur. “Dalam beberapa hal—ya.”
“Tapi tidak dalam semua hal?”
Ia ragu sejenak. “Yah, Miss… dia sudah pergi. Aku tak ingin membuka aib orang.”
“Saya mengerti maksud Anda,” sahutku cepat. Namun setelah berpikir sejenak, aku merasa tak apa-apa jika kutanya, “Apa dia meninggal di sini?”
“Tidak—dia pergi.”
Entah kenapa, kata-katanya yang singkat itu membuatku bertanya-tanya. “Pergi… maksudnya meninggal, kan?”
Mrs. Grose menatap ke luar jendela. Namun aku merasa wajar kalau aku ingin tahu apa yang biasanya terjadi pada pengasuh muda yang bekerja di Bly.
“Dia sakit dan pulang, maksudnya begitu?”
“Tidak terlihat sakit, sejauh yang aku tahu, selama di rumah ini. Dia pamit pada akhir tahun untuk pulang—katanya, cuma liburan singkat. Dan dia memang pantas mendapatkannya. Saat itu kami punya seorang pembantu muda—pengasuh juga, anak baik dan cekatan. Dia yang mengurus anak-anak selama pengasuh utama pergi.”
“Tapi pengasuh itu tak pernah kembali?”
“Tidak pernah. Justru saat aku menantikan kedatangannya kembali, aku dapat kabar dari Tuan Besar… kalau dia telah meninggal.”
Aku diam, memikirkan semua itu. “Tapi… karena apa?”
“Tuan Besar tak pernah mengatakannya, Miss. Dan… maaf, aku harus kembali bekerja.”
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti The Turn of the Screw karya Henry James ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.