The Turn of the Screw

Bab 8 β€” Rahasia Relasi Miss Jessel-Peter Quint

πŸ‘οΈ 4 tayangan

APA yang kukatakan pada Mrs. Grose waktu itu memang benar: dalam urusan yang kubawa kepadanya, ada begitu banyak lapisan dan kemungkinan yang jujur saja tak sanggup kubongkar sepenuhnya. Jadi ketika kami bertemu lagi dalam keterpanaan yang sama, kami pun sepakat bahwa kami punya kewajiban untuk tidak larut dalam bayangan yang terlalu jauh. Kami harus tetap warasβ€”meskipun itu lebih mudah diucapkan daripada dijalankan, terutama dalam pengalaman luar biasa yang nyaris tak bisa disangkal.

Malam itu, saat semua orang di rumah sudah tidur, kami kembali berbincang di kamarku. Kali ini Mrs. Grose sepenuhnya sependapat bahwa memang tak diragukan lagi aku telah melihat persis apa yang kulihat. Untuk meyakinkannya sampai tuntas, aku cukup bertanya: kalau semua itu hanya rekaan, bagaimana mungkin aku bisa menggambarkan kedua sosok itu secara begitu rinci, sampai ia langsung mengenali dan menyebut nama mereka saat melihatnya?

Tentu sajaβ€”dan aku tak menyalahkannyaβ€”ia lebih ingin mengubur topik itu. Aku cepat-cepat menenangkannya bahwa aku sendiri kini justru ingin sekali mencari jalan keluar dari semua ini. Kami pun sepakat pada satu kemungkinan: kalau kejadian itu terulang lagiβ€”dan kami merasa itu pasti akan terjadiβ€”maka aku akan mulai terbiasa menghadapi bahaya itu. Aku bahkan terus terang mengatakan bahwa rasa takut pribadi kini justru menjadi hal yang paling sepele bagiku. Yang sulit kuterima sekarang adalah kecurigaan barukuβ€”yang, walaupun menyakitkan, sedikit mereda seiring berjalannya hari.

Setelah ledakan emosiku yang pertama, aku tentu saja kembali ke anak-anak. Aku merasa satu-satunya obat penawar bagi kegelisahanku adalah kebersamaan dengan merekaβ€”daya tarik mereka bisa kupelihara dan selalu berhasil menenangkan hatiku. Hari itu aku kembali larut dalam kebersamaan dengan Floraβ€”dan rasanya, sungguh menyenangkan! Dia bisa menyentuh tepat di bagian hatiku yang sedang sakit.

Dia memandangku penuh rasa ingin tahu, lalu menuduhku, tanpa ragu, bahwa aku habis menangis. Padahal aku yakin sudah menyeka air mataku dengan bersih. Namun, sungguh, saat itu aku justru bersyukur bahwa tanda-tandanya belum sepenuhnya hilang. Karena di balik kasih sayangnya yang polos itu, aku merasa benar-benar dimengerti.

🔒

Mau Lanjut Baca?

Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.

PREV πŸ”’ πŸ”’ NEXT

πŸ“ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×