Bab 15 – Sosok yang Perlahan Memudar
SEBENARNYA semua sudah beres sejak aku memutuskan untuk tidak mengikutinya. Keputusan itu memang tampak menyedihkan, sebuah kekalahan total karena emosi, tapi kesadaranku atas hal itu pun tak mampu menyelamatkanku.
Aku hanya duduk diam di makam tua itu dan memikirkan ucapan si bocah kecil, membongkar tiap maknanya. Dan dalam waktu singkat, aku pun menerima alasan untuk ketidakhadiranku: aku terlalu malu menunjukkan kepada anak-anak didikku, juga kepada jemaat, contoh yang buruk tentang guru yang datang terlambat ke gereja.
Yang paling membekas dalam pikiranku: Miles telah berhasil mengambil sesuatu darikuβdan buktinya adalah reaksi konyolku yang nyaris ambruk ini. Dia tahu ada sesuatu yang sangat kutakutkan, dan dia bisa memanfaatkan ketakutanku itu demi keinginannya sendiri: kebebasan lebih besar.
Ketakutanku adalah harus menghadapi pertanyaan menyakitkan: kenapa dia dikeluarkan dari sekolah? Sebab dari situlah, semua kengerian yang lebih besar berawal. Seharusnya aku menginginkan pamannya datang untuk membicarakan semua ini denganku. Namun aku terlalu takut pada keburukan dan rasa sakit yang pasti akan menyertainya. Maka aku hanya menunda-nunda, hidup seadanya dari hari ke hari.
Dan anak itu, betapa pun aku tak suka mengakuinya, benar-benar berada di atas angin. Dia bisa saja berkata padaku, “Kalau kau tidak menjelaskan pada waliku kenapa aku dikeluarkan dari sekolah, jangan harap aku akan terus hidup bersamamu dalam keadaan yang jelas-jelas tidak wajar bagi seorang anak laki-laki.”
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.