PENDAHULUAN
Satu Setengah Abad Perjalanan Penerbitan Mathilda, Dari Tulisan Tangan hingga Publikasi Pertama
DI antara karya-karya Mary Wollstonecraft Shelley, Mathilda menempati posisi yang agak ganjil. Kisah ini ditulis ketika Mary Shelley masih muda, hanya setahun setelah Frankenstein terbit, tetapi pembaca harus menunggu sekitar seratus empat puluh tahun untuk dapat membacanya dalam bentuk buku. Mathilda ditulis pada 1819, tetapi baru diterbitkan untuk pertama kalinya pada 1959, jauh setelah Mary Shelley meninggal pada 1851.
Sumber utama yang kami gunakan untuk terjemahan ini adalah laman Shelley-Godwin Archive, sebuah proyek digital yang menyediakan akses kepada manuskrip-manuskrip keluarga Godwin-Shelley dan, khususnya, transkripsi serta citra manuskrip Mathilda yang tersimpan sebagai MS Abinger d. 33 di Bodleian Library, University of Oxford.
Sebagai referensi sekaligus pengaya, kami juga menggunakan informasi bibliografis dan sejarah teks yang tersedia dalam Project Gutenberg eBook #15238, yang mendigitalkan edisi pertama Mathilda tahun 1959 hasil suntingan Elizabeth Nitchie. Edisi tersebut membantu mengidentifikasi sejarah publikasi dan bahan-bahan yang berkaitan dengan manuskrip, sementara Shelley-Godwin Archive memungkinkan kita kembali lebih dekat kepada sumber manuskrip itu sendiri.
Dari The Fields of Fancy menuju Mathilda
Mary Shelley mulai mengerjakan kisah ini pada musim panas 1819, ketika ia dan Percy Bysshe Shelley tinggal di Villa Valsovano, dekat Livorno. Catatan dalam jurnal Mary menunjukkan bahwa ia mulai menulis pada awal Agustus. Pada 4 Agustus, setelah beberapa waktu tidak menulis jurnal akibat duka atas kematian putranya, ia kembali mencatat kegiatannya; hampir setiap hari selama bulan berikutnya muncul catatan singkat “Write”.
Pada awal September kegiatan itu berubah menjadi “Copy”, dan pada 12 September ia mencatat bahwa ia telah selesai menyalin kisahnya. Manuskrip yang kemudian dikenal sebagai Mathilda diberi tanggal “Florence Nov. 9th. 1819.”
Namun, kisah itu pada mulanya tidak persis seperti Mathilda yang kita kenal sekarang. Draf awalnya berjudul The Fields of Fancy.
Dalam versi tersebut, cerita Mathilda ditempatkan dalam sebuah kerangka fantastis: sang pengarang dibawa oleh Peri Fantasia ke Elysian Fields, tempat ia mendengar percakapan Diotima dan bertemu Mathilda. Di sana Mathilda menceritakan kisah hidupnya hingga kematiannya.
Dalam versi akhirnya, Mary Shelley membuang seluruh kerangka fantastis tersebut. Mathilda yang sedang mendekati ajal justru menuliskan kisah hidupnya untuk Woodville, sahabatnya, karena ia tidak pernah sanggup menceritakannya secara langsung.
Perubahan tersebut bukan sekadar perubahan nama atau pembukaan. Itu mengubah seluruh cara cerita bekerja. The Fields of Fancy masih memiliki jarak antara pengarang dan pengalaman Mathilda; Mathilda menghadapkan pembaca langsung kepada suara seorang perempuan yang sedang menuliskan pengakuan terakhirnya. Bentuk inilah yang membuat novela tersebut begitu intim dan menyakitkan.
Manuskripnya sendiri memperlihatkan proses perubahan tersebut. Bagian awal The Fields of Fancy terdapat dalam salah satu buku catatan yang kemudian menjadi bagian dari koleksi Abinger, sementara bagian lainnya berada dalam manuskrip yang kini tersimpan di Bodleian.
Fragmen-fragmen tambahan dan revisi juga pernah tersebar di antara koleksi keluarga Shelley. Sementara itu, manuskrip akhir Mathilda, yang terdiri atas 226 halaman, merupakan salinan yang jauh lebih rapi, meskipun masih memperlihatkan berbagai koreksi, tambahan, dan revisi Mary Shelley.
Dengan kata lain, Mathilda yang kita baca bukanlah karya yang muncul dalam satu bentuk sekaligus. Ia merupakan hasil dari proses penulisan, penyalinan, pengubahan, dan pematangan yang dapat kita ikuti melalui manuskrip-manuskripnya.
Kisah yang hendak diterbitkan, tetapi tidak pernah sampai ke penerbit
Mary Shelley sendiri tampaknya memang bermaksud agar Mathilda diterbitkan.
Pada Mei 1820, ia mengirimkan manuskrip tersebut ke Inggris bersama sahabatnya, keluarga Gisborne. Mereka diminta memperlihatkannya kepada William Godwin, ayah Mary, dan meminta bantuan kepadanya untuk mengurus kemungkinan penerbitan.
Keluarga Gisborne membaca kisah tersebut selama perjalanan dan menunjukkan kekaguman terhadapnya. Namun, manuskrip itu kemudian tetap berada di tangan Godwin dan tidak pernah sampai ke penerbit.
Alasan terbesar yang membuat Godwin lebih memilih menahan naskah tersebut adalah tema ceritanya. Mathilda mengisahkan seorang ayah yang mengakui hasrat seksualnya kepada putrinya sendiri, lalu bunuh diri, sementara Mathilda mengasingkan diri dari masyarakat dan menjalani sisa hidupnya dalam kesepian.
Tema tersebut sangat sensitif, terlebih karena sejumlah keadaan dalam kehidupan Mary Shelley memiliki kemiripan dengan kehidupan Mathilda. Godwin menganggap pokok cerita itu “disgusting and detestable”—menjijikkan dan mengerikan—dan tampaknya khawatir bahwa pembaca akan membaca kisah tersebut sebagai sesuatu yang bersifat autobiografis.
Yang jelas, tidak ada bukti bahwa Godwin pernah berhasil atau sungguh-sungguh berusaha menerbitkan naskah itu. Mary kemudian berulang kali meminta agar manuskrip dikembalikan kepadanya dan disalin, tetapi upaya tersebut tidak berhasil. Dengan demikian, karya yang sejak awal tampaknya dimaksudkan untuk dibaca publik justru tersimpan di antara surat-surat dan kertas keluarga Shelley.
Manuskrip yang tersimpan selama nyaris satu setengah abad
Mary sendiri tidak pernah melihat Mathilda terbit. Nasib manuskrip novela tersebut setelah kematian pengarangnya juga tidak sederhana.
Dokumen-dokumen keluarga Shelley kemudian tersebar ke sejumlah pemilik dan lembaga. Sebagian masuk ke Bodleian Library sebagai bagian dari koleksi Shelley yang pada suatu masa memiliki pembatasan akses; sebagian lainnya berada di tangan anggota keluarga dan keturunan Shelley.
Manuskrip Mathilda pun tidak selalu berada dalam satu tempat. Kondisi inilah yang membuat perjalanan Mathilda menuju pembaca modern begitu panjang.
Selama lebih dari satu abad, kisah tersebut pada dasarnya merupakan karya yang diketahui keberadaannya tetapi tidak tersedia secara luas. Baru pada abad ke-20 para peneliti memperoleh kesempatan untuk mengakses manuskrip-manuskripnya secara lebih menyeluruh.
Shelley-Godwin Archive kini memungkinkan pembaca dan peneliti melihat kembali bahan-bahan tersebut dalam bentuk digital, termasuk manuskrip Mathilda yang dikenal sebagai MS Abinger d. 33. Arsip ini juga menyediakan transkripsi modern yang dikerjakan langsung berdasarkan manuskrip tersebut.
Akhirnya, pada 1959, Mathilda diterbitkan untuk pertama kalinya oleh The University of North Carolina Press, Chapel Hill, sebagai bagian dari Extra Series dalam Studies in Philology. Edisi tersebut disunting oleh Elizabeth Nitchie.
Nitchie (1889–1960) merupakan sosok penting dalam dunia literasi dan sastra abad ke-20. Wanita asal Amerika Serikat ini dikenal luas sebagai akademisi, penulis biografi, sekaligus profesor dalam bidang Bahasa Inggris.
Ia menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pengajar di Goucher College di Maryland. Dalam kiprahnya tersebut, ia mengukuhkan diri sebagai pionir akademisi perempuan ketika posisi-posisi penting dalam dunia akademik didominasi oleh pria.
Nitchie mentranskripsikan teks berdasarkan mikrofilm manuskrip yang saat itu tersedia di Duke University. Edisi 1959 tersebut juga menerbitkan bagian awal draf The Fields of Fancy bersama teks lengkap Mathilda.
Jadi, ketika kita berbicara tentang “edisi pertama Mathilda”, yang dimaksud bukan edisi yang pernah disetujui atau disiapkan Mary Shelley sendiri. Mary telah meninggal lebih dari satu abad sebelumnya. Edisi 1959 adalah publikasi anumerta pertama, berdasarkan manuskrip Mary Shelley dan disiapkan oleh editor modern.
Hal ini penting bagi pembaca KlikNovel karena Mathilda tidak memiliki sejarah penerbitan seperti Frankenstein, The Last Man, atau novel-novel Mary Shelley lainnya. Tidak ada edisi yang diterbitkan semasa hidup Mary yang dapat dijadikan teks final yang disahkan pengarang.
Yang kita miliki saat ini adalah manuskrip, draf, revisi, dan kemudian transkripsi serta edisi para editor. Bahkan setelah 1959, proses penyuntingan terus berkembang.
Michelle Faubert, editor edisi Broadview 2017, menjelaskan bahwa ia memilih kembali ke manuskrip fisik Mathilda karena edisi-edisi yang tersedia sebelumnya banyak bergantung pada transkripsi Nitchie. Dengan kembali kepada manuskrip, ia dapat melihat secara langsung koreksi, tambahan, dan perubahan yang dibuat Mary Shelley selama proses penulisan.
Mengapa karya ini penting bagi pembaca sekarang?
Perjalanan panjang Mathilda dari meja tulis Mary Shelley menuju pembaca abad ke-21 bukan sekadar catatan bibliografis. Ia membantu kita memahami sifat karya ini.
Mathilda adalah karya yang sangat pribadi, tetapi bukan berarti seluruh ceritanya merupakan kisah hidup Mary Shelley secara harfiah. Kemiripan antara Mathilda, ayahnya, dan Woodville dengan Mary Shelley, William Godwin, dan Percy Bysshe Shelley telah lama menjadi bahan pembicaraan para peneliti. Namun, peristiwa utama dalam novela—terutama hasrat inses sang ayah dan bunuh dirinya—bukanlah peristiwa autobiografis dalam arti harfiah.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman, kesedihan, rasa bersalah, keterasingan, dan hubungan keluarga Mary Shelley masuk ke dalam karya fiksi tersebut dan diubah menjadi bentuk sastra. Karena itu, Mathilda sebaiknya dibaca sebagai karya sastra pada dirinya sendiri: sebuah pengakuan fiktif yang lahir dari pengalaman emosional yang nyata.
Dan mungkin justru di situlah kekuatan terbesar novela ini. Mary Shelley tidak hanya menciptakan sebuah tragedi tentang seorang perempuan dan ayahnya. Ia menciptakan sebuah suara yang berbicara dari ambang kematian, menoleh ke masa lalu, berusaha memahami cinta, kehilangan, rasa bersalah, dan kemungkinan penebusan.
Nyaris satu setengah abad setelah suara itu pertama kali dituliskan, kita akhirnya dapat membacanya.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.