Mathilda

BAB IX – Duka Woodville

πŸ‘οΈ 0 tayangan

DEMIKIANLAH dua tahun kulewati. Hari demi hari berlalu, beratus-ratus hari, tanpa membawa perubahan apa pun yang tampak dari luar, tetapi beberapa di antaranya perlahan-lahan bekerja pada pikiranku sementara aku terus meluncur menuju kematian.

Aku mulai lebih banyak belajar; lebih mampu memahami pikiran orang lain sebagaimana diungkapkan dalam buku-buku; membaca sejarah, dan kehilangan kepribadianku di tengah kerumunan manusia yang telah hidup sebelumku. Dengan demikian, mungkin, ketika rasa penderitaan yang begitu dekat mulai mereda, aku menjadi lebih manusiawi.

Kesunyian pun mulai kehilangan sebagian pesonanya bagiku. Aku kembali mendambakan simpati; bukan berarti aku pernah tergoda untuk mencari keramaian, tetapi aku menginginkan seorang sahabat yang mencintaiku.

Mungkin kau akan berkata bahwa perlahan-lahan aku menjadi cukup siap untuk kembali ke tengah masyarakat. Aku tidak berpikir demikian. Sebab simpati yang kuinginkan haruslah begitu murni, begitu terbebas dari pengaruh keadaan-keadaan lahiriah, sehingga di dunia ini aku tak mungkin tidak kecewa oleh unsur-unsur kasar yang senantiasa bercampur bahkan dalam perasaan-perasaan terbaik manusia.

Percayalah, saat itu aku justru semakin tidak cocok untuk berhubungan dengan sesamaku daripada sebelumnya. Ketika meninggalkan mereka, mereka telah menyiksaku, tetapi dengan cara yang sama seperti rasa sakit dan penyakit dapat menyiksa: sesuatu yang asing bagi pikiran, yang menggesek dan melukainya, sesuatu yang ingin kusingkirkan.

Mau Lanjut Baca?

Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.

PREV πŸ”’ πŸ”’ NEXT

πŸ“ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×