Bab XI – Tantangan untuk Woodville
SUNGGUH aneh, tetapi kerap terjadi bahwa suatu anugerah, karena terlalu biasa dinikmati, berubah menjadi kutukan; dan aku, yang dalam kesendirian dahulu mendambakan simpati sebagai satu-satunya penghiburan yang dapat kunikmati, kini justru mendapati bahwa simpati itu menjadi siksaan tambahan bagiku.
Semasa ayahku masih hidup, aku selalu memiliki sifat penyayang dan sabar, tetapi sejak hari-hari kebahagiaan itu berlaluβah, betapa aku telah berubah. Aku menjadi angkuh, mudah tersinggung, dan, terutama, penuh curiga.
Meskipun inti kisahku yang sebenarnya telah berakhir dan seharusnya aku segera menutup tragedi yang muram ini, aku akan menceritakan satu kejadian yang menunjukkan kecurigaan dan keputusasaanku, serta bagaimana Woodville, dengan kebaikan dan hampir-hampir kuasa seorang malaikat, melunakkan perasaanku yang keras dan membawaku kembali kepada kelembutan.
Suatu sore ia telah berjanji akan menghabiskan beberapa jam bersamaku, tetapi hujan yang turun dengan deras dan tak kunjung reda menghalangi kedatangannya. Sepanjang petang aku seorang diri. Selama dua tahun penuh aku telah hidup seorang diri tanpa mengeluh, tetapi kini aku merasa sengsara.
βIa sebenarnya tidak peduli kepadaku,β pikirku, βsebab jika ia benar-benar peduli, badai justru akan membuatnya datang, sekalipun aku tidak mengharapkannya, bukannya mencegah kunjungannya yang telah dijanjikan. Ia pasti tahu bahwa langit yang muram dan hujan yang suram ini akan membebani jiwaku hingga hampir gila. Seandainya cuaca cerah, aku tidak akan meratapi ketidakhadirannya seberat ini; tetapi sekarang aku terpaksa terkurung di pondok yang menyedihkan ini, tanpa teman selain pikiran-pikiranku sendiri yang malang.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!


Silakan login untuk meninggalkan komentar.