BAB V – Ungkapan Hati Ayah Mathilda

Β±2.200 kata, sekitar 11 menit baca
πŸ‘οΈ 0 tayangan

HAMPIR setahun telah berlalu sejak kepulangan Ayah, dan musim-musim hampir menuntaskan peredarannya. Kini akhir bulan Mei; pepohonan di hutan mengenakan hijau dedaunan yang paling segar, dan harum rerumputan yang baru dipotong memenuhi padang-padang. Kupikir udara yang lembut dan wajah alam yang indah mungkin dapat membangkitkan perasaan yang lebih tenang dalam dirinya, menumbuhkan kedamaian dan kasih yang lembut, sebagai persiapan bagi pengakuan yang telah kuputuskan untuk kudapatkan darinya.

Karena itu, kupilih salah satu petang pada hari-hari itu untuk mencoba peruntunganku. Aku mengajaknya berjalan bersamaku, lalu membawanya ke sebuah hutan beech di dekat rumah, yang keteduhannya melindungi kami dari sinar matahari yang menyilaukan dan miring ketika sang surya mulai turun. Setelah beberapa lama berjalan dalam diam, aku duduk bersamanya di atas gundukan tanah yang ditumbuhi lumut.

Aneh rasanya, tetapi bahkan sekarang pun seolah-olah aku masih dapat melihat tempat itu. Batang-batang pohon yang ramping dan licin, banyak di antaranya dililit tanaman ivy, dengan daun-daunnya yang berkilau dan hijau pekat, tampak kontras dengan kulit batang yang putih serta dedaunan muda yang cerah dari tunas-tunas beech yang tumbuh dari batang induknya. Rumput pendek bercampur lumut dan sebagian tertutup daun-daun mati dari musim gugur sebelumnya, yang diterbangkan angin hingga terkumpul di sana-sini membentuk gundukan-gundukan kecil. Beberapa tunggul pohon yang ditumbuhi lumut tampak berserakan. Daun-daun bergerak lembut disentuh angin, dan di balik kanopi hijaunya tampak langit biru yang cerah. Ketika petang mulai tiba, batang-batang pohon yang jauh memerah diterpa cahaya matahari, dan angin pun sama sekali mereda, sementara beberapa ekor burung terbang melewati kami menuju tempat peristirahatan mereka untuk malam.

Di sanalah kami duduk bersama. Dan setelah kau mendengar semua yang terjadi kemudianβ€”semua hal mengerikan yang mencabik jiwa kami bahkan di tempat setenang ini, yang tanpa gairah-gairah aneh itu mungkin telah menjadi surga bagi kamiβ€”kau tentu tidak akan heran bahwa aku mengingat tempat itu sebagaimana kulihat saat itu. Aku berharap ketenangannya dapat menenangkanku, memberiku bukan hanya keberanian, tetapi juga kata-kata yang mampu membujuknya.

Aku melihat semua itu dan, dengan pikiran yang hampa, mencatatnya dalam benakku, sementara aku berusaha menata pikiranku agar tersusun sebagaimana mestinya untuk percobaan yang hendak kulakukan. Jantungku berdegup kencang ketika kubulatkan tekad untuk berbicara kepadanya. Aku telah bertekad untuk tidak membiarkan diriku ditolak, tetapi aku gemetar membayangkan pengaruh kata-kataku terhadap dirinya. Akhirnya, dengan keraguan yang besar, aku mulai berkata:

πŸ“–

Mau Lanjut Baca?

Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.

PREV πŸ”’ πŸ”’ NEXT

πŸ“ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×