BAB VII – Mimpi Mathilda Menjadi Kenyataan
DENGAN jantung berdebar dan rasa takut yang tak kupahami sebabnya, aku menyuruh pelayan itu pergi. Setelah mengunci pintu, aku duduk dan mulai membaca surat Ayah. Inilah isinya.
“Anakku tercinta,
“Aku telah mengkhianati kepercayaanmu. Aku telah berusaha mencemari pikiranmu dan membuat hatimu yang polos mengenal tatapan dan bahasa dari gairah yang terlarang dan mengerikan. Aku harus menebus kejahatan-kejahatan ini, dan harus berusaha, setidaknya sampai taraf tertentu, menjadikan hukuman yang kuterima sebanding dengan kesalahanku. Kurasa kau sudah siap menerima apa yang hendak kusampaikan. Kita harus berpisah dan dipisahkan untuk selama-lamanya.
“Aku merenggut orang tuamu sekaligus satu-satunya sahabatmu darimu. Kau kulemparkan ke dunia tanpa perlindungan; harapanmu telah kuhancurkan; kedamaian dan rasa aman dari pikiranmu yang murni telah kuusik. Ingatan akan menghadirkan kepadamu bayangan-bayangan mengerikan tentang kesalahan dan kepedihan dari kasih yang polos yang telah dikhianati.
“Namun aku—yang menimpakan seluruh kesengsaraan ini kepadamu; aku—yang mengusirmu dan tanpa belas kasihan telah menanamkan tanda ketidakpercayaan dan penderitaan pada hati dan wajah anakku sendiri; aku—yang dengan kecerobohan seperti iblis telah berusaha merampas keindahanmu dan menggantinya dengan keburukan dosa—aku, dalam luapan penderitaan hatiku, memohon kepadamu untuk mengampuniku.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!


Silakan login untuk meninggalkan komentar.