Bab 1 bagian ketiga
MEMANG, banjir tak membuat kami gentar; kami bisa pergi kapan saja, bahkan sepuluh menit pun cukup. Semakin tinggi air, semakin deras arusnya—itu malah lebih menguntungkan, menutup batu-batu kerikil licik yang bisa merobek dasar kano.
Namun harapan kami meleset. Alih-alih tenang, angin semakin liar seiring datangnya malam, meraung di atas kepala, mengguncang willow seperti batang jerami.
Sesekali, suara aneh mengiringinya—seperti dentuman meriam—dan ia menimpa air serta pulau dengan pukulan datar berdaya dahsyat. Rasanya seperti suara planet yang melaju di ruang angkasa, seandainya saja telinga manusia mampu mendengarnya.
Namun langit tetap cerah tanpa awan, dan tak lama setelah makan malam, bulan purnama muncul dari timur, menyinari sungai dan lautan willow yang berteriak-teriak, benderang laksana siang.
Kami berbaring di pasir dekat api unggun, merokok, mendengarkan suara-suara malam yang berkeliaran di sekitar, dan bercakap riang tentang perjalanan yang sudah ditempuh, juga rencana ke depan. Peta terbentang di pintu tenda, tetapi angin kencang membuat sulit membacanya.
Akhirnya kami menurunkan tirai dan memadamkan lampu. Cahaya api cukup untuk merokok dan saling menatap wajah, sementara percikan api beterbangan di atas kepala bagai kembang api. Beberapa meter di seberang, sungai bergolak, mendesis, dan sesekali terdengar bunyi berat—sebagian tebing terkikis arus deras, runtuh dengan cipratan dan gemuruh air.
Aku perhatikan, percakapan kami malam itu lebih banyak melantur ke kenangan jauh—tentang perkemahan pertama di Hutan Hitam atau hal-hal lain yang sama sekali tak ada kaitannya dengan keadaan saat ini. Seolah-olah kami diam-diam sepakat untuk tidak menyentuh peristiwa di sekitar kemah.
Tidak ada yang menyebut si berang-berang, apalagi lelaki di perahu, padahal biasanya hal-hal semacam itu akan cukup jadi bahan obrolan sepanjang malam. Keduanya, tentu saja, peristiwa besar di tempat sunyi seperti ini.
Keterbatasan kayu membuat kami repot menjaga api tetap menyala. Angin kencang yang meniup asap ke wajah kami, ke mana pun duduknya, sekaligus menjadi semacam tungku paksa yang membuat api cepat menyala tapi juga cepat habis.
Kami bergantian keluar mencari kayu bakar dalam gelap, dan setiap kali si Swedia kembali dengan tumpukan kayu, aku merasa ia selalu terlalu lama mencarinya. Sebenarnya aku hanya tak suka ditinggal sendirian; tapi entah bagaimana, selalu giliranku yang harus merangkak di semak atau menyusuri tebing licin bermandikan cahaya bulan.
Pertarungan seharian dengan angin dan air—angin macam itu, air macam itu!—telah membuat kami lelah, dan tidur lebih awal seharusnya jadi keputusan wajar.
Namun tidak seorang pun dari kami yang bergerak ke arah tenda. Kami tetap berbaring di situ, menjaga api, berbincang seadanya, melirik ke rimbunan willow, sambil mendengarkan gemuruh angin dan sungai.
Kesunyian tempat itu telah meresap hingga ke tulang kami. Suara kami sendiri terdengar aneh, janggal, seakan palsu; rasanya bisikan justru lebih cocok.
Suara manusia di tengah deru alam ini terdengar tidak sah, bahkan nyaris berbahaya, seperti berbicara keras-keras di dalam gereja—tempat di mana tidak semestinya, bahkan tidak aman, jika terdengar orang lain.
Ada sesuatu yang menyeramkan di pulau kecil sunyi ini, dikelilingi sejuta pohon willow, dihajar badai, dan dipagari air deras yang berkejaran.
Tak pernah dijejak manusia, hampir tak dikenal manusia, ia terbaring di bawah cahaya bulan, seakan berada di perbatasan dunia lain—dunia asing, dihuni hanya oleh pohon willow dan jiwa-jiwa willow. Dan kami, dengan lancang, berani menyerbu wilayah itu, bahkan menjadikannya tempat persinggahan!
Ada sesuatu yang lebih dari sekadar pesonanya yang misterius, sesuatu yang menggelisahkan jiwaku ketika aku berbaring di pasir, kaki menghadap api, memandang bintang di sela dedaunan. Untuk terakhir kalinya, aku bangkit mencari kayu.
“Kalau ini sudah habis, aku masuk tenda,” kataku mantap, sementara sahabatku memandangku malas dari dekat api, membiarkanku melangkah ke dalam bayangan.
Untuk orang yang biasanya tak berimajinasi, malam itu ia tampak lebih peka dari biasanya, lebih terbuka terhadap hal-hal di luar pancaindra. Ia juga terhanyut oleh keindahan dan kesepian tempat itu.
Anehnya, aku tak sepenuhnya senang menyadari perubahan kecil itu dalam dirinya. Alih-alih segera mengumpulkan ranting, aku justru melangkah ke ujung pulau, di mana sinar bulan menyapu padang dan sungai dengan indah.
Tiba-tiba muncul dorongan untuk sendirian; rasa takut lamaku kembali, kali ini lebih kuat, dan ada sesuatu samar yang ingin kuhadapi, kupahami sampai ke dasarnya.
Ketika sampai di ujung pasir yang menjorok ke arus, pesona tempat itu menghantamku seperti sengatan listrik. Bukan sekadar “pemandangan”—ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang menggentarkan.
Aku menatap hamparan air liar, mendengar bisikan tak henti-henti pohon willow, dan raungan angin yang seakan tak pernah letih. Semuanya, dengan caranya masing-masing, menimbulkan perasaan resah yang aneh.
Namun yang paling kuat adalah pohon-pohon willow. Mereka terus berceloteh di antara sesamanya—tertawa kecil, menjerit nyaring, kadang menghela napas panjang—tapi apa pun yang mereka bicarakan, itu bagian dari rahasia kehidupan padang luas tempat mereka bersemayam. Rahasia yang sepenuhnya asing bagi dunia yang kukenal, bahkan bagi alam liar sekalipun.
Aku membayangkan mereka seperti sekumpulan makhluk dari dimensi lain, hasil evolusi berbeda, tengah memperbincangkan misteri yang hanya mereka pahami. Aku memperhatikan bagaimana mereka bergerak bersama, mengguncang kepala rimbun mereka dengan aneh, memutar ribuan daun meski tanpa angin.
Mereka bergerak seolah punya kehendak sendiri, hidup, dan dengan cara yang tak bisa kuterangkan, menyentuh naluri kewaspadaanku terhadap sesuatu yang mengerikan.
Di bawah cahaya bulan mereka berdiri, seperti pasukan raksasa mengepung kemah kami, melambaikan tombak-tombak perak tanpa henti, siap menyerang kapan saja.
Psikologi sebuah tempat, setidaknya bagi imajinasi tertentu, bisa begitu tajam. Bagi pengembara, setiap perkemahan punya “nada”—entah menyambut, entah menolak.
Pada awalnya mungkin tak terasa, sebab sibuk dengan tenda dan masakan, tapi biasanya selepas makan malam nada itu muncul dengan jelas. Dan nada kemah willow ini, kini terdengar gamblang bagiku: kami pendatang tak diundang, penyusup.
Kami tidak diterima. Perasaan asing itu semakin menguasai saat aku berdiri menatap. Kami berada di tepi wilayah di mana kehadiran kami ditolak.
Untuk menginap semalam, mungkin ditoleransi; tapi untuk tinggal lama, apalagi menyelidik—tidak! Demi semua dewa hutan dan rimba, tidak!
Kami adalah pengaruh manusia pertama di pulau ini, dan kami tidak diinginkan. Pohon-pohon willow melawan kami.
Pikiran aneh semacam ini, khayalan liar entah dari mana, berdesakan masuk ke benakku. Bagaimana jika, pikirku, ternyata pohon-pohon willow ini memang hidup?
Bagaimana jika tiba-tiba mereka bangkit, bergerak bagai kawanan makhluk hidup, dipimpin para dewa yang wilayahnya telah kami injak, lalu menyerbu kami dari rawa luas, berderak di malam hari—dan kemudian menerjang?
Sungguh mudah membayangkan mereka benar-benar bergerak, mendekat, mundur sedikit, lalu berkumpul rapat, bermusuhan, menunggu hembusan besar angin untuk menggerakkan mereka serentak. Aku nyaris bersumpah bahwa bentuk mereka berubah sedikit; barisan mereka kian rapat, semakin mendesak, semakin berbahaya.
Jerit melengking penuh duka seekor burung malam terdengar di atas kepala, dan tiba-tiba aku hampir kehilangan keseimbangan ketika tepi tanah tempatku berdiri runtuh dengan bunyi cipratan keras ke sungai, tergerus arus banjir.
Aku sempat melompat mundur tepat waktu, lalu kembali mencari kayu bakar, sambil setengah tertawa pada bayangan-bayangan aneh yang begitu padat berjejal di pikiranku dan seakan melemparkan mantranya kepadaku.
Ucapan si Swede tentang pindah esok hari terlintas kembali, dan aku benar-benar merasa setuju dengannya, ketika mendadak aku berbalik terkejut dan melihat orang yang sedang kupikirkan berdiri tepat di hadapanku. Sangat dekat. Gemuruh unsur alam menutupi langkahnya.
“Kau lama sekali pergi,” teriaknya di atas deru angin, “kukira sesuatu terjadi padamu.”
Namun nada suaranya, dan sorot tertentu di wajahnya, menyampaikan lebih banyak daripada sekadar kata-kata biasa, dan seketika aku paham alasan sejati ia datang menyusul. Pengaruh magis tempat ini telah merasuk ke dalam jiwanya juga, dan ia tidak suka ditinggal sendirian.
“Sungai makin naik,” teriaknya lagi, menunjuk ke arah banjir yang berkilau di bawah sinar bulan, “dan anginnya benar-benar mengerikan.”
Kata-katanya selalu sama, tetapi jeritan minta ditemani itulah yang memberi makna sebenarnya pada ucapannya.
“Untung,” sahutku sambil berteriak, “tenda kita di lekukan tanah. Aku rasa masih cukup kuat menahan.”
Aku menambahkan sesuatu tentang susahnya mencari kayu bakar untuk menjelaskan lamaku pergi, tapi angin menyambar suaraku dan melemparkannya ke seberang sungai, sehingga ia tidak mendengar, hanya menatapku di sela dahan sambil mengangguk.
“Untung kalau kita bisa selamat tanpa celaka!” teriaknya lagi, atau kata-kata sejenis itu; dan aku ingat merasa agak kesal karena ia mengucapkannya lantang, sebab itulah persis yang kurasakan sendiri. Ada bencana yang sedang mengintai di suatu tempat, dan firasat buruk itu menekan dadaku dengan tidak menyenangkan.
Kami kembali ke api unggun dan menyalakan nyala terakhir, menyulutnya dengan kaki. Kami menyapu pandangan ke sekeliling untuk memastikan.
Kalau bukan karena angin, panasnya tentu terasa tak enak. Kucetuskan pikiran itu dengan kata-kata, dan jawabannya membuatku terkesan aneh: ia lebih memilih panas, cuaca Juli biasa, ketimbang “angin iblis” malam itu.
Segalanya sudah siap untuk malam itu; kano tergeletak terbalik di samping tenda, kedua dayung kuning terselip di bawahnya; karung perbekalan tergantung pada batang pohon willow, dan piring-piring yang sudah dicuci dijauhkan dari api, siap dipakai untuk sarapan esok.
Kami menimbun bara api dengan pasir, lalu masuk ke dalam. Penutup pintu tenda terbuka, dan aku masih sempat melihat cabang-cabang, bintang-bintang, dan cahaya bulan putih.Getaran pepohonan willow dan hantaman berat angin pada rumah mungil kami yang tegang adalah hal terakhir yang kuingat sebelum tidur datang dan menyelimuti segalanya dengan lupa yang lembut dan nikmat.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.