Bab 2 — Sosok-Sosok Samar di antara Pepohonan Willow
TIBA-TIBA aku mendapati diriku terjaga, menatap dari kasur pasirku ke luar pintu tenda. Jam saku yang kupasang di kanvas tampak jelas dalam cahaya bulan; sudah lewat tengah malam—ambang hari baru—berarti aku telah tidur sekitar dua jam.
Si Swede masih terlelap di sampingku; angin meraung seperti sebelumnya; sesuatu mencubit hatiku dan membuatku merasa takut. Ada getaran kegelisahan di sekelilingku.
Aku segera duduk tegak dan mengintip keluar. Pohon-pohon bergoyang hebat diterpa hembusan, tetapi tenda kecil kami dari kain hijau itu tetap aman terlindung di cekungan tanah, karena angin lewat begitu saja tanpa menemukan hambatan yang cukup untuk membuatnya garang.
Namun rasa tak tenteram itu tak juga hilang, dan aku pun merangkak pelan keluar tenda untuk memeriksa barang-barang kami. Aku bergerak hati-hati agar tidak membangunkan kawanku. Ada semacam gairah aneh yang menguasai diriku.
Aku baru setengah keluar, berlutut dengan tangan menopang, ketika mataku menangkap sesuatu: puncak-puncak semak di seberang, dengan sulur-sulur daun yang bergerak, membentuk bayangan di langit.
Aku terduduk kembali, menatap kaku. Mustahil, pikirku.
Namun di sana, tepat di hadapanku, agak lebih tinggi, tampak sosok-sosok samar di antara pepohonan willow, dan ketika cabang-cabang itu terhuyung ditiup angin, mereka seakan menyusun diri mengitari sosok-sosok itu, membentuk rangkaian bayangan raksasa yang bergeser cepat di bawah sinar bulan.
Tak jauh, mungkin lima belas meter di depanku, aku melihatnya.
Naluri pertamaku adalah membangunkan kawanku, agar ia pun melihatnya. Namun aku ragu—mungkin karena tersadar bahwa aku sebenarnya tidak butuh konfirmasi atas penglihatanku sendiri.
Maka aku tetap berjongkok di sana, menatap dengan mata perih, penuh takjub. Aku sadar betul aku terjaga. Aku bahkan berkata pada diriku sendiri: aku tidak bermimpi.
Sosok-sosok itu akhirnya tampak jelas—sosok besar, berwarna perunggu kusam, bergerak bebas, sama sekali tak mengikuti gerak cabang.
Aku melihat semuanya dengan nyata, dan semakin lama kupandangi dengan tenang, semakin jelas bahwa mereka jauh lebih besar daripada manusia—dan, ya, ada sesuatu pada wujud mereka yang jelas menyatakan bahwa mereka sama sekali bukan manusia.
Mereka tidak sekadar bayangan ranting di bawah cahaya bulan. Mereka bergerak sendiri. Mereka naik ke atas, tak putus-putusnya, dari tanah hingga ke langit, lalu lenyap seketika begitu mencapai gulita angkasa.
Mereka saling bersilangan, membentuk tiang besar, tubuh dan anggota-anggota mereka berbaur, mencipta garis meliuk bagai ular raksasa, berputar, bergulung mengikuti tarian angin di pepohonan. Bentuk-bentuk cair, telanjang, meluncur di antara dedaunan, mendaki sebagai kolom hidup menuju langit.
Wajah mereka tak pernah bisa kulihat. Tanpa henti mereka membubung, membentuk lengkungan-lengkungan besar, kulit mereka berkilau perunggu kusam.
Aku menatap, memeras seluruh daya penglihatan. Lama sekali kupikir mereka pasti akan hilang tiap saat, larut menjadi gerak ranting semata, sebuah ilusi optik. Namun semakin lama kulihat, semakin yakin aku: mereka nyata, hidup—meski bukan dalam pengertian yang bisa dipotret kamera atau diteliti seorang ahli biologi.
Bukannya ketakutan, aku justru diliputi rasa takjub dan gentar yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasanya aku sedang menatap wujud personifikasi dari kekuatan purba dan liar daerah berhantu ini.
Kehadiran kami telah membangunkan kuasa tempat ini. Kami—akulah—penyebab gangguan itu.
Kepalaku penuh sesak dengan kisah dan legenda tentang roh dan dewa tempat-tempat yang sejak dahulu kala disembah manusia. Namun sebelum aku bisa mencari penjelasan apa pun, sesuatu mendorongku untuk maju lebih jauh.
Aku merangkak ke pasir dan berdiri. Tanah masih hangat di bawah kakiku yang telanjang; angin mencabik rambut dan wajahku; suara sungai tiba-tiba meledak di telinga. Semua itu nyata, menjadi bukti bahwa indraku masih bekerja normal.
Namun sosok-sosok itu tetap naik dari bumi ke langit, hening, agung, dalam pusaran anggun penuh kekuatan, hingga aku diliputi hasrat tulus untuk menyembah. Aku merasa harus tersungkur dan beribadah—benar-benar menyembah.
Mungkin semenit lagi aku akan melakukannya, jika bukan karena hembusan angin keras menghantamku, mendorong tubuhku ke samping hingga hampir terjatuh. Hantaman itu seperti mengguncang mimpi keluar dari kepalaku.
Setidaknya, aku mendapat sudut pandang lain. Sosok-sosok itu tetap ada, tetap membubung dari jantung malam, tetapi akhirnya akal sehatku mencoba bangkit.
Itu pasti pengalaman subjektif, pikirku—nyata, ya, tapi subjektif. Cahaya bulan dan ranting-ranting bekerja sama mencipta gambar-gambar itu di cermin imajinasiku, lalu karena suatu sebab kuproyeksikan keluar hingga tampak nyata. Ya, tentu begitu adanya.
Aku memberanikan diri dan mulai melangkah di hamparan pasir. Namun benarkah semuanya halusinasi? Apakah benar hanya subjektif? Atau akalku sekadar meraba-raba dengan ukuran lama yang sia-sia, dengan tolok ukur sempit dari dunia yang kukenal?
Yang kutahu hanyalah, kolom besar sosok-sosok itu terus memanjat langit dalam waktu yang terasa sangat lama, dengan kadar kenyataan penuh—kenyataan sebagaimana kebanyakan orang biasa memahaminya. Lalu mendadak mereka lenyap!
Dan begitu lenyap, serta pesona agung mereka pupus, ketakutan pun menghujani diriku bagai aliran es. Makna rahasia dari daerah sepi dan berhantu ini tiba-tiba menyala jelas di dalamku, membuat tubuhku gemetar hebat.
Aku menoleh cepat ke sekeliling—sebuah tatapan ngeri yang hampir menjadi panik—sia-sia menghitung jalan untuk melarikan diri.
Lalu, sadar betapa tak berdaya aku untuk melakukan sesuatu yang benar-benar berguna, aku merangkak kembali ke dalam tenda dengan diam-diam, rebah lagi di atas kasur pasirku, lebih dulu menurunkan penutup pintu tenda agar pandangan dari willow di bawah cahaya bulan tertutup, lalu menyembunyikan kepalaku sedalam-dalamnya di bawah selimut, untuk meredam suara angin menakutkan yang mengamuk di luar.
Kuota Bab Tercapai
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.