La Mère Sauvage (Ibu Sauvage)
Saat perang pecah, anak laki-laki Sauvage, yang kala itu berusia 33 tahun, masuk dinas militer, meninggalkan ibunya sendirian di rumah. Orang-orang tidak terlalu merasa iba pada perempuan tua itu, karena mereka tahu ia punya uang.
Ia tinggal seorang diri di rumah terpencil itu, jauh dari desa, di tepi hutan. Namun ia tak merasa takut—darahnya sama seperti kaum lelaki keluarganya—perempuan tua yang tangguh, tinggi, dan kurus, jarang tertawa, dan tak seorang pun berani bercanda dengannya.
Perempuan pedesaan memang jarang tertawa; itu urusan lelaki. Mereka memikul hati yang suram dan sempit, hidup dalam kesedihan dan kemuraman.