The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Rp89.000
Lihat di Shopee
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Rp40.500
Lihat di Shopee
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee
The Adventures of Sherlock Holmes
The Adventures of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Hamlet - William Shakespeare
Hamlet - William Shakespeare
Rp42.500
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee

Bab 3 — Bayangan Pria Asing

• The Turn of the Screw •

👁️ 4 views

BAHWA ia memalingkan punggung dariku—syukurlah—tidak lantas menjadi teguran yang sanggup mengganggu tumbuhnya rasa saling percaya di antara kami. Setelah aku menjemput Miles kecil dan membawanya pulang, kami justru menjadi lebih dekat dari sebelumnya, karena keterpakuanku—dan keguncangan perasaanku secara umum—membuatku butuh sandaran.

Begitu dahsyat perasaan itu, hingga aku hampir saja menyebutnya: betapa mengerikannya bahwa anak seperti dia, yang kini kutemui sendiri, bisa sampai dikeluarkan dari sekolah.

Aku datang agak terlambat, dan begitu melihatnya berdiri di depan penginapan, menanti dengan wajah penuh harap, aku langsung menangkapnya—luar dan dalam—dalam cahaya menyala yang segar, hampir seperti aroma kemurnian yang sejak awal kulihat pada adik perempuannya.

Ia luar biasa tampan, dan Mrs. Grose benar saat bilang bahwa kehadirannya menghapus semua perasaan—selain kasih sayang mendalam—bagi anak itu.

Apa yang membuatku langsung memeluknya dalam hati saat itu juga, adalah sesuatu yang nyaris suci. Tak pernah kutemui pada anak mana pun, sampai sejauh itu—sebuah aura polos yang entah bagaimana seperti berkata bahwa ia tak mengenal apa pun di dunia ini kecuali cinta.

Mustahil rasanya membayangkan reputasi buruk melekat pada sosok yang begitu manis dan bersih. Dan ketika akhirnya kami sampai kembali di Bly, aku hanya bisa termangu—kalaupun tidak marah—mengingat isi surat mengerikan yang masih terkunci rapi di laci kamarku.

Begitu aku mendapat kesempatan berbicara empat mata dengan Mrs. Grose, aku langsung menyatakan padanya bahwa ini semua benar-benar konyol.

Ia langsung paham maksudku. “Maksud Miss tuduhan kejam itu…?”

“Itu tak layak dipercaya sedetik pun. Dengar, coba lihat dia baik-baik!”

Ia tersenyum, seolah menertawakan kesan seolah aku baru saja menemukan pesona bocah itu. “Aku juga tak pernah berhenti melihatnya, Miss! Jadi, Miss akan bilang apa?”

“Sebagai jawaban atas surat itu?” Aku sudah memutuskan. “Tidak akan bilang apa-apa.”

“Pada pamannya juga?”

Jawabanku tegas. “Tidak.”

“Dan pada anak itu sendiri?”

Kali ini aku benar-benar marah luar biasa. “Tidak.”

Ia mengusap mulutnya dengan celemek. “Kalau begitu, aku akan berdiri di pihak Miss. Kita hadapi ini bersama.”

“Kita hadapi bersama,” ulangku penuh semangat, sambil meraih tangannya sebagai janji.

Ia memegangku sejenak, lalu kembali mengangkat celemek dengan satu tangan. “Miss keberatan kalau aku lancang sedikit…?”

“Maksudnya, mau menciumku? Tidak!” Aku langsung memeluk wanita baik hati itu, dan setelah kami berpelukan seperti saudara, rasanya aku makin kuat dan makin marah atas ketidakadilan ini.

Untuk sementara, begitulah yang terjadi. Masa yang terasa begitu penuh, hingga saat aku mencoba mengenangnya sekarang, aku harus berjuang keras untuk memisahkan peristiwa satu dengan lainnya. Yang membuatku tercengang adalah betapa aku menerima situasi ini apa adanya.

The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
Hamlet - William Shakespeare
Hamlet - William Shakespeare
Rp42.500
Lihat di Shopee

Aku dan Mrs. Grose sudah berjanji untuk menuntaskan semuanya, dan entah bagaimana aku seolah berada dalam semacam pesona—yang membuatku merasa segalanya mungkin, seberapa pun rumit dan luasnya konsekuensi yang menanti.

Aku seperti diangkat ke atas gelombang besar—gabungan antara rasa kasihan dan keterpesonaan.

Dalam kebingungan dan mungkin juga kepercayaan diriku yang naif, aku merasa bahwa aku sanggup menghadapi seorang anak lelaki yang masa depannya baru saja akan dimulai. Sampai sekarang pun, aku bahkan tak bisa mengingat rencana seperti apa yang kubuat tentang akhir liburannya dan kelanjutan pendidikannya nanti.

Memang, kami punya semacam teori bahwa ia akan belajar bersamaku selama musim panas yang menyenangkan itu; tapi sekarang aku merasa bahwa—selama berminggu-minggu—yang lebih banyak belajar justru aku sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam hidup yang kecil dan terkungkung itu, aku belajar tertawa dan membuat orang lain tertawa. Belajar untuk tidak terlalu mencemaskan hari esok.

Itulah masa pertama kalinya aku mengenal ruang terbuka, udara bebas, nyanyian musim panas, dan misteri alam yang memesona.

Dan yang paling manis—aku merasa dihargai. Ah, semua ini seperti jebakan—bukan yang disengaja, tapi tetap saja dalam. Menjebak imajinasiku, perasaanku, mungkin juga sedikit kesombonganku… bagian-bagian diriku yang paling mudah tersulut.

Cara paling tepat menggambarkannya: aku lengah. Mereka begitu manis dan tidak merepotkan. Luar biasa lembut. Kadang aku membayangkan—meski samar dan tak benar-benar kupikirkan penuh—bagaimana nanti dunia yang keras ini akan memperlakukan mereka. Akan melukai mereka?

Mereka begitu sehat dan ceria, tapi aku merasakannya seperti sedang mengasuh sepasang pangeran kecil—anak-anak bangsawan yang segalanya harus dijaga rapat-rapat. Dalam pikiranku, masa depan mereka adalah perluasan dari taman dan halaman yang indah ini—kehidupan romantis dan kerajaan kecil yang damai.

Mungkin justru karena itulah, saat semuanya mendadak berubah, masa sebelumnya terasa seperti diam yang mencekam—keheningan yang menjadi tempat sesuatu sedang mengendap atau bersiap menerkam. Perubahannya seperti hewan buas yang tiba-tiba melompat.

Beberapa minggu pertama, hari-hari terasa panjang. Kadang, di saat paling indah, aku punya momen yang kusebut “jamku sendiri”—ketika para muridku sudah selesai minum teh, lalu tidur, dan sebelum aku sendiri tidur, aku punya sedikit waktu sendirian.

Meskipun aku menyukai kebersamaan dengan mereka, saat itulah yang paling kusukai dalam sehari. Dan saat yang paling menyenangkan adalah ketika cahaya hari mulai redup—atau lebih tepatnya, ketika senja berlama-lama di langit, dan kicau burung-burung terakhir terdengar dari pepohonan tua—aku berjalan-jalan di halaman dan taman, merasa seolah tempat ini milikku sendiri. Itu membuatku tersenyum dan merasa bangga.

The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
Hamlet - William Shakespeare
Hamlet - William Shakespeare
Rp42.500
Lihat di Shopee

Dalam momen-momen seperti itu, aku merasa tenang dan yakin akan pilihanku. Mungkin juga diam-diam aku membayangkan bahwa dengan sikap hati-hati, akal sehat, dan kelakuan yang layak, aku telah memberi kebahagiaan pada seseorang—kalau-kalau ia sempat memikirkanku.

Apa yang kulakukan adalah persis seperti yang sangat diharapkannya dariku, seperti yang ia minta secara langsung. Dan kenyataan bahwa aku ternyata bisa melakukannya… memberiku kegembiraan yang bahkan melebihi harapanku sendiri.

Mungkin saat itu aku merasa diriku luar biasa. Dan aku cukup percaya bahwa suatu hari nanti orang akan melihat itu.

Ya, aku memang harus menjadi sosok luar biasa—karena hal-hal luar biasa pula yang akan segera muncul menghadang.

Kejadiannya begitu tiba-tiba, suatu sore, tepat di jam lenggangku. Anak-anak sudah rapi tertidur, dan aku keluar untuk berjalan-jalan. Salah satu pikiran yang, sekarang tak kupungkiri lagi, kerap menemaniku saat-saat begitu adalah bayangan menyenangkan tentang bertemu seseorang—seperti dalam kisah romantis yang manis. Seseorang akan muncul di tikungan jalan setapak, berdiri menatapku, tersenyum, dan menyetujui keberadaanku. Aku tak berharap lebih dari itu—aku hanya ingin dia tahu. Dan satu-satunya cara untuk tahu bahwa dia tahu… adalah dengan melihat sorot itu di wajahnya—wajah yang rupawan dan bersinar lembut.

Wajah itulah yang tiba-tiba hadir dalam pikiranku—dan bukan hanya hadir, melainkan benar-benar nyata—pada suatu sore panjang di bulan Juni, ketika aku melangkah keluar dari jalur pepohonan dan mendongak ke arah rumah. Aku terhenti seketika, benar-benar terhentak, karena tiba-tiba saja imajinasiku menjadi kenyataan. Dia berdiri di sana!

Namun bukan di halaman… melainkan tinggi sekali, di puncak menara—menara yang pertama kali diperlihatkan oleh Flora padaku pada pagi pertamaku di sana. Menara itu satu dari dua, bentuknya kotak, agak aneh, bergigi di bagian atas seperti kastel mini, dan untuk alasan yang tak terlalu jelas dinamai “yang baru” dan “yang lama.”

Keduanya berdiri di ujung berseberangan rumah, barangkali kesalahan arsitektur yang dimaafkan karena tidak terlalu mencolok dan tidak terlalu tinggi. Usianya dari zaman romantik yang sekarang sudah dianggap “masa lalu terhormat.” Aku selalu mengagumi menara itu, membayangkan berbagai cerita tentangnya, apalagi kalau siluetnya muncul saat senja—terkesan megah. Namun bukan di tempat setinggi itu sosok yang sering kubayangkan seharusnya berada.

Sosok itu, di bawah cahaya senja yang bening, memberiku dua kejutan sekaligus. Pertama, keterpanaan karena ia benar-benar ada; dan yang kedua, kesadaran yang menghantam bahwa aku salah menebak siapa dia. Bukan orang yang selama ini kubayangkan.

The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
Hamlet - William Shakespeare
Hamlet - William Shakespeare
Rp42.500
Lihat di Shopee

Dalam sekejap, aku disergap kekacauan batin yang sampai sekarang pun sulit kuceritakan. Seorang pria asing di tempat terpencil adalah sumber ketakutan yang wajar bagi perempuan muda yang dibesarkan dalam lingkungan tertutup sepertiku. Dan sosok yang berdiri menghadapku itu—beberapa detik kemudian kutegaskan sendiri—bukan siapa-siapa yang kukenal, bukan pula bayangan yang sering menghampiri benakku. Bukan orang dari Harley Street. Bahkan bukan dari tempat mana pun yang pernah kukenal.

Dan anehnya, begitu dia muncul, seluruh tempat ini terasa berubah menjadi sunyi sepenuhnya. Seakan hanya dengan kemunculannya, tempat itu kehilangan kehidupannya. Saat aku menuliskan ini, perasaan yang sama kembali menyeruak, seolah semua yang lain saat itu terhenti dan mati. Aku bisa mendengar kembali sunyi yang sangat pekat—bahkan suara gagak yang biasa bersahut-sahutan di langit keemasan pun mendadak lenyap. Senja yang biasanya terasa hangat dan akrab tiba-tiba saja kehilangan suaranya.

Namun tak ada perubahan lain di alam. Langit masih keemasan, udara masih jernih, dan pria yang menatapku dari balik tepian menara terlihat seterang lukisan dalam bingkai. Saking cepatnya pikiranku berputar, aku langsung memikirkan semua kemungkinan tentang siapa dia—dan siapa saja yang jelas bukan dia. Kami berdiri berjauhan, cukup lama bagiku untuk bertanya dalam hati siapa dia sebenarnya, dan makin tak bisa kujawab, rasa penasaranku makin menguat, berubah jadi kegelisahan yang nyata.

Pertanyaan besarnya—atau salah satunya—selalu datang kemudian: berapa lama peristiwa semacam itu berlangsung? Dan untuk yang satu ini, suka atau tidak, harus kuakui cukup lama. Lama cukup bagiku membayangkan belasan kemungkinan, tak satu pun yang membuat keberadaan orang asing itu jadi lebih masuk akal. Terutama karena dia berada di rumah ini—dan sejak kapan?—tanpa sepengetahuanku.

Aku sedikit tersentak oleh kenyataan bahwa tugasku menuntut agar tak boleh ada orang asing seperti itu di sini—dan aku seharusnya tahu kalau ada. Sosok itu, seingatku, menunjukkan tanda-tanda kebebasan aneh, seperti kenyataan bahwa dia tidak mengenakan topi. Dan dari tempatnya berdiri, dia menatapku seolah ingin tahu apa reaksiku—dan mungkin menunggu jawabanku.

Jarak kami terlalu jauh untuk bicara, tapi ada satu momen—kalau saja kami sedikit lebih dekat—yang sepertinya cocok untuk semacam tantangan atau sapaan. Dia berdiri di salah satu sudut menara, sisi yang menjauh dari rumah, tubuhnya tegak sekali, kedua tangan bertumpu pada pinggiran. Aku bisa melihatnya jelas—sejelas huruf-huruf yang kutulis saat ini.

Lalu, perlahan, seolah ingin menambah ketegangan, dia bergerak ke sudut lain dari platform itu, matanya terus mengawasi langkahku. Bahkan saat dia berjalan, aku bisa melihat tangannya menyentuh satu demi satu sisi atas tembok bergigi itu. Ia berhenti sebentar di sudut seberang, tapi tidak selama yang pertama. Lalu dia berbalik—tetap menatapku kuat-kuat.

Itu saja yang kutahu. Dia berbalik… dan menghilang.

Akses Terjemahan Gratis

Kamu telah mencapai kuota maksimal bab untuk pembaca tamu (unregistered members). Daftar akun GRATIS untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

4 bab gratis25 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti The Turn of the Screw karya Henry James ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Rp76.000
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
Rp110.250
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee
The Gladiator - Indah Hanaco
The Gladiator - Indah Hanaco
Rp110.000
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp69.000
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp42.400
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp45.300
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee