Bagian 3 — Si Bola Lemak
DALAM kereta, satu per satu mulai saling memandang, mencoba menebak watak dari wajah-wajah yang tertangkap dalam cahaya suram fajar itu.
Di belakang, duduk di tempat terbaik, pasangan Loiseau tertidur saling berhadapan. Mr. Loiseau, seorang pedagang grosir anggur di jalan Grand-Pont, telah membeli bisnis bekas bosnya yang bangkrut, dan dari situlah ia meraup kekayaan. Ia menjual anggur berkualitas rendah dengan harga tinggi kepada para pengecer desa, dan di kalangan teman-temannya, ia dikenal sebagai penipu cerdik nan jenaka—seorang Norman sejati yang licik namun penuh kelakar.
Reputasinya sebagai penjual licik sudah begitu melekat, hingga suatu malam, di kediaman prefek kota, Mr. Tournel—seorang penulis fabel dan lagu yang cerdas dan tajam lidahnya, juga tokoh lokal yang cukup tenar—mengusulkan permainan iseng yang disebut “trik Loiseau” kepada beberapa nyonya yang mulai mengantuk. Lelucon itu pun menyebar dari ruang tamu ke seluruh kota, dan berbulan-bulan kemudian, masih bisa membuat tawa meledak di banyak sudut provinsi.
Loiseau memang dikenal gemar membuat lelucon dari segala jenis—baik yang cerdas maupun yang keterlaluan. Tak ada yang bisa berbincang dengannya tanpa berpikir, “Pria ini tak ternilai, sungguh.” Tubuhnya jangkung, perutnya bundar seperti balon, di atasnya bertengger wajah kemerahan dikelilingi cambang abu-abu.
Istrinya—perempuan besar, kuat, dan berkemauan keras—adalah sosok disiplin dan hitungan dalam rumah tangga dagang itu. Sementara Loiseau sendiri menjadi nyawa usaha mereka dengan semangatnya yang tak pernah padam.
Di sebelah mereka duduk Mr. Carré-Lamadon, dengan sikap agung seolah berasal dari kasta lebih tinggi. Ia tokoh penting dalam dunia kapas, pemilik tiga pabrik, perwira Legiun Kehormatan, dan anggota Dewan Umum. Semasa Kekaisaran, ia menjadi tokoh oposisi “ramah”—katanya, ia berhasil membuat sang Kaisar membayar mahal atas dukungan yang ia berikan, seolah lebih baik daripada kalau ia benar-benar melawan.
Madame Carré-Lamadon, jauh lebih muda dari suaminya, dikenal sebagai penghibur hati para perwira bangsawan yang ditempatkan di garnisun Rouen. Ia duduk di seberang suaminya, mungil, cantik, dan anggun dalam balutan bulu, menatap sedih ke dalam kereta.
Di samping mereka ada pasangan bangsawan: Comte dan Comtesse Hubert de Bréville, pemilik nama keluarga paling kuno dan terhormat di Normandia. Comte de Bréville adalah pria tua berpenampilan necis, yang sengaja mendandani dirinya menyerupai Raja Henri IV—sebuah penghormatan terhadap legenda keluarga mereka, yang konon menyebutkan bahwa raja pernah menjalin hubungan dengan salah satu perempuan De Bréville, dan suaminya, sebagai hadiah, diangkat menjadi comte dan gubernur provinsi.
Sebagai kolega Mr. Carré-Lamadon di Dewan Umum, Comte de Bréville menjadi wakil golongan Orléanist di departemennya.
Pernikahannya dengan putri seorang kapten kapal kecil selalu menjadi misteri. Namun karena sang Comtesse berpenampilan agung, diterima dengan hangat oleh kalangan atas, dan pernah dikabarkan dekat dengan putra Louis Philippe, kaum bangsawan pun menghormatinya. Salon-nya menjadi yang paling bergengsi di kawasan itu, satu-satunya yang mempertahankan semangat keanggunan lama, dan hanya sedikit yang layak diundang ke sana.
Konon, kekayaan keluarga De Bréville mencapai lima ratus ribu franc setahun—semuanya dalam bentuk investasi yang aman dan menguntungkan.
(Pendapatan sebanyak 500.000 franc pada 1880, ketika cerita ini pertama kali terbit, menggambarkan kekayaan luar biasa yang dimiliki oleh Keluarga De Bréville. Jika dikonversi ke nilai sekarang [2025], jumlah tersebut setara dengan 2,5-3 juta euro/tahun atau sekitar 44-53 miliar rupiah/tahun.)
Enam orang inilah yang membentuk inti dari rombongan dalam kereta. Mereka adalah wajah masyarakat kelas atas: tenang dan kukuh, terhormat, mapan—orang-orang yang menjunjung tinggi agama dan prinsip.
Secara kebetulan yang aneh, semua perempuan duduk berderet di bangku yang sama.
Comtesse De Bréville duduk diapit dua suster tua yang sibuk meronce tasbih panjang dan berbisik lirih doa-doa mereka—Pater Noster dan Ave Maria bergema pelan di bibir mereka. Salah satunya sudah sangat tua, wajahnya bopeng parah seperti habis dihantam peluru angin dalam jarak dekat.
Suster satu lagi tampak lebih muda, lebih cantik, tapi wajahnya murung dan matanya sayu—ia mengidap penyakit paru-paru. Namun justru gabungan antara penyakit dan iman fanatik itulah yang membuat keduanya tampak seperti martir suci—bersinar dalam ketenangan yang getir.
Di hadapan mereka duduk sepasang pria dan wanita yang segera menyedot perhatian seluruh gerbong. Pria itu, yang sudah dikenal banyak orang, adalah Cornudet si demokrat, momok bagi kaum terhormat. Selama dua puluh tahun, ia membasahi janggut merah lebarnya dengan bir murahan di tiap kafe revolusioner. Bersama rekan-rekannya, ia menghabiskan warisan cukup besar dari ayahnya—seorang pembuat manisan tua—demi perjuangan Republik yang tak kunjung tiba.
Pada tanggal 4 September, entah karena candaan nasib atau delusi pribadi, ia menganggap dirinya telah diangkat menjadi préfet—semacam bupati revolusioner. Namun begitu ia mendatangi kantor untuk mengambil alih jabatan, para pegawai di sana menolaknya mentah-mentah dan malah menyuruhnya pulang. Gagal total.
Namun secara keseluruhan, Cornudet adalah bujangan yang cukup menyenangkan—tak berbahaya dan sering kali berguna. Ia mengabdikan diri dengan semangat membara untuk menyiapkan pertahanan terhadap serbuan Prusia: menggali lubang di padang rumput, menebang pepohonan muda di hutan sekitar, menyebar jebakan di sepanjang jalan. Namun begitu musuh mendekat, ia cepat-cepat kembali ke kota. Sekarang ia mengira akan lebih berguna di Havre—di mana barikade baru pasti akan dibutuhkan.
Perempuan di sebelah Cornudet adalah seorang yang biasa disebut “genit,” meski masyarakat memberinya nama lain: Boule de Suif—Si Bola Lemak.
Tubuh perempuan itu kecil, bulat, dan montok seperti gumpalan mentega hangat. Jari-jarinya pendek dan gemuk, sampai-sampai terlihat seperti untaian sosis mini.
Kulitnya meregang mengilap, dan dadanya—besar, menggelegar di balik gaunnya—bergejolak setiap ia bergerak. Tapi ada sesuatu yang segar dan cerah dalam dirinya, semacam vitalitas polos yang justru membuatnya disukai banyak orang.
Wajahnya seperti apel merah bulat, atau kuncup peoni yang siap mekar. Di dalamnya terbuka dua mata besar berwarna hitam pekat, dinaungi alis tebal yang menciptakan bayangan lembut di sekelilingnya. Di bawahnya, sebuah mulut mungil mengilat yang tampak selalu lembap dan menggoda untuk dicium.
Dan senyumnya—oh, senyumnya—memamerkan gigi kecil yang bersinar, seperti mutiara bayi. Kata orang, dia punya banyak sekali kelebihan yang patut dikagumi.
Begitu orang-orang menyadari siapa perempuan tersebut, bisik-bisik mulai terdengar dari para wanita “terhormat” di bangku itu. Kata-kata seperti “pelacur” dan “aib masyarakat” melayang setengah berbisik, setengah sengaja diperjelas.
Si Bola Lemak mendongak, dan menatap mereka semua dengan sorot mata menantang yang berani. Seketika, keheningan menyelimuti gerbong. Semua menunduk, kecuali Loiseau yang justru menatapnya dengan binar kagum penuh selera.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.