Bagian 8 — Perjalanan yang Tertunda
KARENA mereka telah sepakat untuk berangkat pukul delapan pagi esoknya, semua pun berkumpul di dapur sejak pagi buta. Namun kereta yang atapnya berselimut salju itu masih saja terdiam di halaman, tanpa kuda, tanpa kusir.
Mereka mencari si kusir ke mana-mana—ke kandang kuda, ke lumbung jerami, hingga ke rumah kereta—namun hasilnya nihil. Akhirnya mereka memutuskan menyusuri kota.
Di sebuah alun-alun kecil, di mana sebuah gereja berdiri di ujung dan rumah-rumah rendah berjajar di sisinya, mereka menjumpai beberapa serdadu Prusia. Yang satu sedang mengupas kentang. Yang lain, agak jauh, tampak membersihkan toko tukang cukur. Seorang lagi—berjenggot lebat sampai ke mata—tengah menenangkan bayi yang terus menangis sambil mengayun-ayunannya.
Perempuan-perempuan desa yang bertubuh besar—para istri dari para pria yang “sedang ikut perang”—menunjuk ke sana kemari memberi isyarat kepada para penakluk mereka, menyuruh ini dan itu: memotong kayu, memasak sup, menggiling kopi, dan sebagainya. Bahkan, salah satu serdadu tampak mencuci pakaian untuk nenek tua yang jadi tuan rumahnya—perempuan renta yang tampaknya nyaris lumpuh.
Comte de Breville, tercengang, bertanya kepada seorang penjaga gereja yang keluar dari pastoran.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.