Bagian 12 β Tangis dalam Kereta
PAGI berikutnya, mentari musim dingin bersinar cerah, membuat salju berkilau menyilaukan. Kereta sudah siap, kuda-kuda terikat, berdiri di depan pintu penginapan. Di sekitar kaki mereka, sekawanan merpati putih berbulu tebal berjalan mondar-mandir, bermata merah muda dengan titik hitam di tengah, mencari makan di antara sisa kotoran yang berserakan.
Kusir kereta yang terbungkus mantel kulit domba mengisap pipa di bawah bangku kemudia. Para penumpang tampak ceria, sibuk mengepak bekal untuk sisa perjalanan. Tinggal menunggu Boule de Suif.
Akhirnya, perempuan itu muncul.
Raut wajahnya gelisah. Malu. Ia melangkah ragu mendekati kelompoknya, yang serempak memalingkan muka, pura-pura tak melihat. Comte de Breville, dengan angkuh, meraih lengan istrinya dan menjauh, seolah takut disentuh makhluk najis.
Gadis tambun itu tertegun. Ia nyaris tak percaya. Namun ia memberanikan diri dan menghampiri istri si pengusaha, menyapa dengan suara lirih, βSelamat pagi, Madame.β
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 4 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!













Silakan login untuk meninggalkan komentar.