Catatan Penerjemah
Ketika pertama kali membaca Emma, yang terasa mencolok bukan hanya kisah cinta atau drama sosialnya, tetapi cara Jane Austen menggambarkan tokoh utama yang begitu penuh percaya diri, nyaris arogan, tetapi tetap menarik dan memikat. Emma Woodhouse bukan tokoh perempuan “baik-baik” yang pasif dan menanti cinta; ia aktif, terlibat, dan kadang terlalu percaya diri dalam menilai kehidupan orang lain. Namun justru di situlah daya tarik novel ini.
Dalam menerjemahkan Emma, kami memilih pendekatan gaya klasik-luwes: yaitu gaya bahasa yang tetap sopan dan terstruktur rapi, tetapi tidak kaku seperti teks hukum. Tujuan utamanya adalah agar pembaca modern tetap bisa menikmati cerita ini tanpa kehilangan sentuhan zaman Regency yang menjadi latar novelnya. Kalimat-kalimat sengaja dijaga agar mengalir ringan, namun tetap mempertahankan bentuk dan nuansa elegan khas Austen.
Beberapa istilah khas zaman itu diterjemahkan atau dijelaskan secukupnya. Misalnya, kata “gentleman” tidak selalu diartikan sebagai “pria sopan”, melainkan kadang dipertahankan dalam bentuk aslinya karena mengandung konteks kelas sosial tertentu yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia modern. Nama-nama tempat, jabatan, dan struktur keluarga bangsawan juga dijelaskan seperlunya, agar pembaca tetap merasa akrab tanpa kehilangan konteks budaya.
Austen sangat ahli dalam menggunakan ironi halus—sindiran yang tidak meledak-ledak tapi tajam jika diperhatikan. Dalam terjemahan ini, saya berusaha mempertahankan humor tersebut tanpa membuatnya terasa terlalu mencolok. Misalnya, ketika narator menyatakan bahwa Emma adalah “seorang perempuan muda yang cantik, cerdas, dan kaya… yang tidak mengalami banyak penderitaan,” itu bukan hanya deskripsi, tetapi juga tamparan kecil yang menandai kepribadian Emma dan cara dunia memperlakukannya.
Kami tidak menambahkan istilah gaul, slang modern, atau sapaan yang terlalu kasual seperti “lo”, “gue”, “enggak”, karena hal tersebut akan mengganggu atmosfer sosial dan moral zaman Regency yang merupakan inti dari novel ini. Namun, bukan berarti pembaca muda akan kesulitan. Kalimat dibuat sesederhana mungkin dalam struktur formalnya, sehingga tetap mudah dicerna.
Dengan pendekatan ini, kami berharap Emma bisa dinikmati oleh pembaca muda yang mencari pengalaman membaca klasik, maupun pembaca dewasa yang ingin menyelami kembali karya Austen dengan nuansa segar dan terjaga.
Terakhir, penerjemahan ini tentu bukan tanpa kekurangan. Setiap kalimat Austen bagaikan teka-teki kecil yang padat makna, dan pilihan kata dalam Bahasa Indonesia selalu mengandung risiko mengurangi satu lapisan makna demi menjelaskan lapisan lainnya. Namun dengan niat dan upaya menjaga semangat orisinalnya, kami harap semua pembaca akan bisa menikmati Emma Woodhouse sebagaimana ia dimaksudkan: seorang tokoh yang menyebalkan tapi dicintai, dalam kisah yang menggoda tetapi penuh renungan.
Selamat membaca,
—KlikNovel
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.