Bab 48 — Kesendirian Emma, Kesepian Emma
SAMPAI saat ancaman kehilangan menghampiri, Emma tak pernah benar-benar menyadari betapa kebahagiaannya selama ini bergantung pada satu hal sederhana—menjadi yang pertama bagi Mr. Knightley. Pertama dalam perhatian, dalam kasih sayang dari pria itu.
Selama ini ia merasa yakin bahwa tempat istimewa itu memang adalah haknya, dan ia menikmatinya tanpa pernah bertanya-tanya. Baru ketika bayangan digantikan orang lain muncul, ia menyadari betapa tak tergantikannya posisi itu baginya.
Sudah lama, sangat lama, ia merasa menjadi yang utama. Mr. Knightley tak memiliki hubungan dekat dengan perempuan lain—kecuali Isabella—dan ia pun tahu persis sejauh mana pria itu mencintai dan menghormati kakaknya. Emma tak pernah punya saingan. Ia telah menjadi yang pertama selama bertahun-tahun.
Padahal, Emma sadar betul, ia tak layak mendapatkan itu semua. Ia sering lalai, kadang keras kepala, meremehkan nasihat Mr. Knightley, bahkan sengaja membangkang. Ia sering menutup mata terhadap kelebihan pria itu, dan memaksakan pandangan tentang dirinya sendiri yang—jujur saja—sombong dan keliru.
Namun, karena kedekatan keluarga, kebiasaan, dan—yang paling penting—karena kebaikan hati Mr. Knightley yang tulus, pria itu tetap mencintainya, tetap mengawasinya sejak masih gadis kecil, selalu berusaha menuntunnya jadi pribadi yang lebih baik. Tak ada satu pun orang lain yang pernah melakukan itu untuknya.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 16 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.